Tambah Bookmark

3

3. Malam Sial

Seumur-umur, belum pernah ada orang yang berani menyentuh wajahku dengan cara kasar. Tapi kini…. Kubanting karet kompres yang kupakai untuk membekukan rasa sakit pada hidungku. Dihadapanku lelaki sialan yang baru saja meninjuku terduduk dilantai, kedua tangannya terikat tali. Dua orang penjaga klub berdiri tegak dibelakangnya dengan kedua tangan terlipat didada dan mata tertuju lurus penuh waspada pada, lelaki sialan itu. Mereka tentu merasa sangat kecolongan saat insiden yang menimpaku terjadi. Aku menatap dengan murka, rahangku terkatup erat sampai-sampai gigiku yang bertemu membuatnya terasa semakin kaku.  ARRRRRGGGGGGG……………………… “Siksa orang itu sampai mampus” aku berteriak memerintah para bodyguard itu. “Oh! jangan,” Viviane memotong kalimatku “ini cuma salah paham…” dia menoleh kehadapanku sambil menebar senyum mautnya “dia pasti mengira kau sedang berusaha melecehkanku.” Melecehkan! Kapan aku pernah melecehkan cewek yang kusu..aisssshhh…hhhssss… aku memaki diri sendiri dalam hati, hampir saja aku kelepasan mengatakan hal yang tidak masuk di akal. Kualihkan perhatianku dari wajah Vivianne kepada lelaki murahan kurang ajar itu. “Ini seks klub,” suaraku terdengar dingin dan sedikit sengau. Sepertinya itu dampak dari pemukulan yang membuat hidungku berdenyut panas dan sakit luar biasa, “Apa yang dianggap pelecehan adalah pengecualian disini,” kutatap dirinya dari ujung rambut sampai keujung kaki, sengaja merendahkannya supaya dia menyadari siapa yang paling berkuasa disini. “Bodoh kalau dia tidak paham itu.” Kalimat itu kutujukan pada Vivianne. Gadis disebelahku tersenyum lebar, manis dan mempesona. Dan itu sejenak mampu membuatku terlupa pada rasa sakit pada hidungku. “Aku tidak akan meragukan dugaanmu, tampan.”  jemari Vivianne terulur ke wajahku, dia membelainya dalam gerakan luar biasa lembut dan menggoda. “Dia mungkin memang sedikit bodoh.”  Saat Vivianne mengatakan itu matanya yang sedikit sipit namun tajam menatapku intens, dan aku melengguh dan membara oleh gairah dan rasa penasaran tentang bagaimana rasanya membawa wanita cantik ini berbaring di ranjangku, di balik selimut, bersamaku. “Dia harus diberi tahu kalau kita berada di seks klub.” Vivianne menyeringai jahil. Sebelah alisku terangkat saat aku mendongak dan memperhatikan ketika dia dengan ringan berpindah ke atas pangkuanku. Fuuuuhhhhh...aku dipindahkan dari neraka ke surga sekarang. “Cium aku, tampan.” Perintahnya, yang tanpa menunggu dua kali langsung kuturuti dengan patuh. Tidak sulit untuk melakukannya, posisi Vivianne dalam kuasaku sepenuhnya. Atau, sebenarnya justru akulah yang berada dalam kuasanya. Aku tidak memikirkan itu lebih lanjut saat lumatan-lumatan pendek itu dimulai. Ini luar biasa panas membara. Aku tidak pernah menemukan gadis seperti Vivianne sebelumnya. Maksudku gadis seksi, panas dan lihai mendominasiku dalam cumbuan ringan. Ini menyenangkan, luar biasa menyenangkan. Suara makian dan tendangan yang keluar dari salah satu penjaga klub membuatku secara tidak sengaja memutus kontak fisik antara aku dan Vivianne. Aku mengalihkan tatapanku dengan jengkel pada  tiga lelaki yang sibuk memainkan perannya masing-masing. “Vianne, hentikan.” Lelaki yang telah meninjuku tadi membentak marah. Nada dalam suaranya membuatku terkejut, dia mengatakan itu seolah-olah dia mengenal Vivianne dengan sangat baik. Yang lebih mengejutkan adalah reaksi Vivianne begitu mendengar suara laki-laki yang namanya tidak aku tahu itu. Vivianne langsung meluncur dari atas tubuhku begitu mendengar suara itu. Dia berdiri tegak dengan penuh gaya menatap pada siapa yang membentaknya. “Well,” gumamnya pelan “kenapa aku harus berhenti?” dia bertanya sambil menyeringai. Dan tatapan sengit laki-laki itu tertuju membalas tatapan mata indah Vivianne. “Karena kaulah yang paling tahu kenapa.” Jawaban itu sama sekali tidak memberiku sedikit gambaran apapun tentang hubungan diantara keduanya. Aku nyaris gila ketika membayangkan apa sebenarnya telah terjadi. Menebak-nebak sendiri tidak membuat itu jadi lebih baik, aku sangat tidak mengetahui kalau keduanya adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar.   Semoga bukan itu hubungan antara keduanya. Tidak. Aku harap tidak. “Oke,” Vivian menggedikkan kepalanya kesamping sekilas. Gayanya saat melakukan gerakan itu terlihat sensual namun tidka dibuat-buat. Wanita itu jelas punya apa yang dinamakan sebagai daya tarik seksual tingkat tinggi. Dia seorang magnet seks. Tatapannya kemudian teralih sepenuhnya padaku, dia tersenyum datar padaku. Dan itu membuatku merasa resah dan tidak nyaman. Untuk satu alasan aku merasakan kalau senyumnya mengindikasikan hal yang tidak baik untukku. Senyumnya terasa formal, mirip seperti yang biasa aku beri pada klien yang tidak memiliki tawaran menarik untuk membuat kesepakatan kerjasama. Aku ingin berteriak ‘jangan’ padanya, namun aku memilih tetap bungkam. “Hei! tampan, maafkan aku.” bisiknya padaku. “Apa yang tejadi sebenarnya Vivianne?” aku bertanya seraya mengangkat daguku tinggi-tinggi, “kau melibatkanku dalam permainan apa?” Aku tidak ingin terdengar bagai orang yang frustasi dan kena tolak cewek. Tapi aku tidak dapat mengontrol suara ataupun perasaanku sekarang. Aku ingin tertawa, menertawakan diri sendiri karena hal ini. Alverrenno Wisnuwardhana yang menyedihkan adalah aku sekarang, para member playboy pasti akan bertepuk tangan jika mereka melihatku seperti ini. “Aku hanya ingin membawa pergi adikku dari sini.” Vivianne lanjut berkata. Kukerutkan dahi saat mendengar pengakuan itu, “Adik!” ulangku ragu, dan harapan itu kembali menyala. Vivianne menoleh sekilas pada lelaki yang masih bersimpuh didepan kami itu “Ya! orang itu adikku.” Saat dia mengatakannya, pemuda kurang ajar yang masih bersimpuh di lantai memalingkan muka dari tatapan Vivianne seraya mendengus keras. Dia tampak terganggu dengan kenyataan itu. Sementara aku terganggu pada keganjilan yang membuatku mau tak mau harus memastikannya. Aku terkekeh keras “Lucu,” kataku setelah semua tawa itu terhenti “kalian sama sekali tidak mirip.” “Adik tiri.” Lanjut Vivianne lagi, “ceritanya panjang, tapi itu adalah urusan pribadi kami, tampan.” Aku masih menatapnya tidak percaya, dan penasaran. Tapi tatapan matanya yang seakan memperingatkanku untuk tidak keluar batas telah menghentikan deretan pertanyaan interogasi yang ingin aku lontarkan. “Demi Tuhan, Vianne ... dia tidak butuh penjelasanmu.” Gerutuan itu terdengar dari bibir pria kurang ajar yang diakui oleh gadis cantik itu sebagai adik angkatnya, mata lelaki- itu menatap Vivianne sengit.  “Cepat pergi saja dari sini, brengsek! kau tidak tahu kau sedang menaruh dirimu dimana sekarang, demi Tuhan...” Tidak perlu penjelasan dua kali untuk membuatku berdiri dan siap menerjang lelaki sialan itu. aku masih tetap jenius yang paham kalau serapahnya barusan tertuju padaku. Padaku yang dia anggap sebagai setan rakus yang akan memakan mentah-mentah kakak perempuannya yang tersesat di Troime, malam ini. Tinjuku terkepal di depan dada, “Sepertinya adikmu perlu di ajarkan cara bicara yang sopan, manis....” kuremas tinjuku sampai suara gemeretuk tulangku terdengar mengerikan.  Vivianne menghentikan kalimatku dengan satu sentuhan saja. Dia menahanku dengan memeluk pinggangku dalam satu sentuhan yang membius. Dalam kedekatan kami aku bisa mencium aroma lychee dan mawar masuk kepenciumanku, menenangkan aku disaat yang sama dengan semacam sentuhan kebahagiaan karena sentuhannya yang cukup intim.  “Biar aku yang mengurusnya.” Suara itu terdengar cemas sekali, saat dia mendongak untuk menatapku, seketika amarahpun mencair di hatiku bagai gletser di kutub utara. “kumohon.” Pintanya lembut. Aku terkejut pada dampak yang dimiliki oleh Vivianne pada emosiku. Aku pastilah sangat menyukainya, aku bahkan bisa dengan lancar mengakui itu pada hati sendiri. Aku mendengus lewat mulut, karena hidungku masih terasa sakit, “terserah.” Aku mengatakan itu acuh. Dan saat dia mengucapkan terima kasih aku melepaskan diri dari pelukannya dan berusaha melangkah dengan penuh harga diri menuju pintu keluar. “Lepaskan dia.” Aku memerintah dua petugas keamanan itu sambil lalu dan mereka melakukannya secepat yang kusuruh. Begitu aku berada di balik pintu kuhembuskan nafas sekali lagi, masih lewat mulut. Rasanya inginku berteriak saat ini, dan aku menahan diri mati-matian untuk tidak melakukannya. Aku merasa telah dipermainkan dan frustasi, namun tidka kuasa membalik posisi kembali untuk jadi pemenang. Aku bukan tipe cowok baik yang tidak akan mengambil keuntungan atas segalanya. Dalam keadaan normal aku pasti akan segera memperkarakan pemukulan ini lewat pengacaraku, dan mungkin Vivianne harus membayar kebebasan adiknya dengan sesuatu yang sangat aku inginkan, tubuhnya. Aku tertawa sinis  pada diri sendiri saat berpikir jika malam ini mungkin adalah malam sial Nasional bagi para member.  Tadi Wega, dan sekarang aku, lalu, siapa lagi yang akan menyusul kami. .....................

BOOKMARK