Tambah Bookmark

4

4. Negosiasi

Esok harinya akumuncul di kantor sedikit telat dari biasa. Suasana hatiku semuram langit mendung kota Jakarta, sama sekali tidak ada gairah untuk bekerja sebenarnya. Tapi tanggung jawab pada perusahaan membuatku mengabaikan rasa enggan itu dan menyeret kaki sampai ke pintu masuk utama menara pencakar langit yang dimiliki oleh keluarga Wisnuwardhana. Aku sedang berdiri diam bagai manekin di depan pintu lift, beberapa karyawati yang kebetulan berpapasan denganku menyapa hormat kemudian cepat-cepat kabur sambil berbisik-bisik satu sama lain. Saat itulah tiba-tiba saja smartphoneku bergetar, membuatku mengeryitkan dahi saat melihat nama Delon yang muncul di layarnya. Delon adalah asisten pribadi yang kupekerjakan setelah banyak menyingkirkan pilihan yang semuanya perempuan. Aku tidak menyukai para asistenku sebelumnya. Mereka terlalu berusaha keras untuk menarik perhatianku dengan cara-cara yang malah membuat mual luar biasa. Tidak sadarkah para wanita, jika segala yang menyangkut dengan kosmetik berlebih kadang membuat lelaki mereka merasa bagai melangkah dengan iringan ondel-ondel atau bahkan mengingatkan pada pertunjukan drama waria di Bangkok atau Pattaya, bahkan para trasgender disana lebih ‘wanita’ dibandingkan wanita yangingin tampil lebih. Delon tentu saja tidak membuatku harus merasakan itu. Oke, mungkin ada yang iseng berbisik ria di belakang punggungku dan menebak-nebak kalau aku seorang gay, tapi aku sama sekali tidak mengkhawatirkan imejku akan jatuh. Siapa yang mengenalku dengan baik tentu tahu bagaimana sepak terjang ku perkara wanita cantik. “Ya!” aku langsung mengatakan itu ketika menjawab panggilan itu, “ada apa?” “Pak, Nyonya besar, eh … maksud saya Mami anda ada disini.” Mami. Di kantorku.Sepagi ini. “Beliau tidak sendirian, Pak.Seorang wanita cantik luar biasa ikut datang bersamanya.” Delon melanjutkan penjelasannya padaku “Kurasa anda akan dijodohkan dengan wanita itu.” Aku mendengus jijik mendengar dugaan Delon itu. Kata ‘wanita cantik’ sebenarnya menarik perhatianku tentu saja, Tapi fakta jika wanita itu datang bersama Mami membuatku merasakan alarm tanda bahaya. Benakku langsung menggeliat penuh waspada dan memberiku gambaran tentang siapa wanita itu. Arfika. Pintu lift terbuka, memperlihatkan isinya yang kosong namun niatku untuk sampai ke ruang kerja secepat yang aku bisa lenyap tiada bekas. “Katakan alasan apapun pada Mami,” suruhku pada Delon seraya berbalik arah “Macet,aku sedang mabuk atau apalah, kupercayakan semuanya padamu..” Dan begitu saja aku menutup sambungan telepon dan melangkah terburu-buru menuju pintu masuk utama di W Tower. Aku memerintahkan seorang petugas keamanan untuk kembali menghubungi petugas vallet yang membawa mobilku untuk diparkir di basement. Sepertinya petugas itu belum sempat memarkir ketika sudah harus memutar kembali ketempatku menunggu. Aku setengah berlari menuju ke mobil, disaat yang sama ketika sebuah Toyota Crown berhenti tepat di sebelah mobilku. Sepasang kaki mulus nan jenjang sangat menarik perhatian, dan ketika aku mengangkat kepala dan menemukan wajah pemilik kaki indah itu aku bersiul panjang sambil tersenyum lebar. Di hadapanku Vivianne menatap dengan sebelah alis terangkat. “Mau kemana?’ tanyanya bingung. “Pulang.” Kusahuti dia santai “dan kau?” Tatapan Vivianne tertuju kemuka pintu “Menemui seseorang.” Sahutnya datar. Aku tersenyum padanya, “Jika itu aku, maka cepat masuk ke mobil.” Wajahnya terlihat bingung, tapi saat aku bergegas masuk ke mobil dia mengikuti dengan wajah datar. “Jadi benar?” tanyaku sambil melajukan mobil menjauh dari keramaian kota. “Apa?” dia balik bertanya sambil merapikan rambutnya, angin yang berhembus dari atap mobil yang terbuka menerbangkan rambutnya dengan cara yang luar biasa menawan, aku mengintipnya dari kaca spion dan memutuskan tidak akan memsang atap selama kami pergi. “Kau mencariku.” Itu pernyataan bukan pertanyaan. “Untuk satu dan banyak alasan, iya aku mencarimu.” “Wow! Menyenangkan sekali,” gumamku datar, sengaja memasang wajah tak beriak agar dia tidak tahu bagaimana suasana hatiku mendengar pernyataan itu. “Kau tidak kerja?” dia kembali bersuara setelah sekian lama membiarkan aku melaju dalam diam. “Tidak.” “Kenapa tidak?” “Karena aku bekerja untuk diriku sendiri, jadi aku tidak perlu melakukannya saat tidak ingin.” Dia mendengus setengah mengejek, “Aku biasa mendengar kalimat itu diucapkan oleh pria-pria kaya yang arogan, kurasa kau salah satunya.” Sialan! “Kurasa memang begitu, maaf jika pada kenyataannya aku berada pada tipe pria kaya dengan karakter murahan dan suka omong kosong seperti di novel-novel cinta.” Dia tersenyum sambil melirikku sekilas, jemarinya menari mengikuti permukaanrok pensil biru tua yang ia kenakan. Oh! Kutelan lidahku kelu, andai yang disana jemariku. “Aku tidak bilang kau tipe lelaki murahan yang suka omong kosong, tapi kau baru saja memberi tahu padaku.” “Hmm, karena aku tidak ingin berpura-pura menjadi sejati untuk menarik perhatianmu, Vivianne.” “Oh! Jangan berpura-pura, itu bagus, aku suka .” Dia bergerak mendekat dengan cepat dan mencium pipiku yang menghadap kearahnya. OH! , itu luar biasa. SepertinyaVivianne tahu benar cara membuatku mati jantungan. “Kau membuatku terkejut, Vivianne.” Kataku datar, mataku menatap lurus pada jalanan di depan, berusaha tetap sadar dan menjaga kami tetap aman dalam berkendara. “Kenapa?” “Setelah semalam, kupikir kau tidak akan memilih terlibat lagi denganku.” “Kenapa kau berpikir seperti itu, kau ‘tangkapan’ bagus, hanya wanita bodoh yang mau melepaskan diri darimu tanpa mendapat apapun.” Aku. Tangkapan. Entah bagaimana aku merasa sesak saat menyadari kalau dia sama seperti wanita murahan lain yang biasa jalan denganku. Memperlakukan aku sekedar sebagai ‘tangkapan’ bagus yang sayang untuk ditolak. Memikirkan itu saja membuat amarah seketika terbangkitkan, sukar untuk dikendalikan. Namun aku menekannya dengan baik sampai jauh kedasar. Mobilku masuk kedalam kawasan apartemen tempatku tinggal. Ini hanya salah satu dari sekian banyak tempat tinggal yang kuhuni secara tetap selain rumah warisan dari Papi. Aku memarkir mobil pada petak milikku. Saat mobil telah terparkir akumenatap pada Vivianne tajam. “Jadi jika apa yang kau inginkan dari ‘tangkapan’ mu ini?” jika dia ingin bermain-main denganku maka aku tidak akan segan lagi menunjukkan ketertarikan padanya. Vivianne menatapku dalam, tanpa ada rasa gentar. “Hubungan bisnis,” bisiknya ringan “aku menginginkan itu.” ……….. Aku membuka pintu lemari es dan mengambil dua kaleng bir dingin dari dalamnya. Saat aku kembali ke ruang tamu aku menemukan Vivianne tengah menatap pemandangan Laut Jawa yang terlihat dari Apartemen. Punggungnya ramping dan rapuh, dia mungil dan lembut. Tapi bagaimana bias dia telah membuatku begitu marah hanya dengan kata-katanya. Aku menghampirinya dan memberikan kaleng bir padanya, mendengar ia mengucapkan terima kasih dengan suara kecil dan kemudian ia mengikuti aku menuju sofa. Kami duduk sambil menikmati minuma kami masing-masing. “Membicarakan bisnis saat sedang berada di rumah sebenarnya bertentangan dengan kebiasaanku selama ini.” Dengan lugas aku mengaku. “Tapi karena kau telah menganggap aku tangkapanmu maka kurasa kita bias melewati semua formalitas, bukan?” Dia mengangguk datar, “Itu yang aku mau.” Aku menarik nafas panjang diam-diam. Gadis ini sepenuhnya sadar dengan apa yang akan dia hadapi, wanita tidak berpengalaman akan mundur teratur bila merasakan aroma intimidasi mental yang aku lakukan. Tapi dia tetap duduk disebelahku dengan nyaman. “Bisnis macam apa yang ingin kau tawarkan? aku akan mendengarkan dengan sabar.” Dia tersenyum kemudian menaruh kaleng birnya diatas meja, kemudian memiringkan tubuh untuk menghadapku sepenuhnya. “Ini jenis bidang usaha yang akan menarik banyak keuntungan,” dia memulai “Jaringan waralaba toserba tanaman hias dan dekorasi interior pertama di Indonesia.” Hanya dengan satu kali mendengar saja aku sudah tahu apa yang akan terjadi jika di Indonesia benar-benar ada tempat belanja seperti itu. Sialan, harus ku akui kalau otakVivianne menakjubkan, dan dia bisa membuatku menjadi orang terkaya nomor satu di Indonesia mengalahkan keluarga Pattinusa. “Coba kau bayangkan, sebagai surga tanaman hias, Indonesia malah tidak memiliki satupun jaringan retail yang mampu membuat tanaman asli Indonesia lebih mudah untuk didapat oleh semua orang dari berbagai kalanngan dan bahkan memiliki kesempatan untuk lebih dikenal dunia.” “Kau membuat utopia terdengar nyata, pada kenyataannya untuk melakukan itu tentu saja tidak akan mudah, kita butuh pemasok tetap, jaringan untuk mendapatkan produk dari luar negeri apa kau sudah memikirkan semuanya?” aku berusaha untuk tidak terlalu tertarik. Dia mengangguk, aku punya proposal resmi untuk diajukan padamu, tapi tidak terlalu sabar untuk menempuh birokrasi bisnismu yang melelahkan.” Aku tersenyum datar, “Maka di tempuhlah cara ini?” Bibirnya mencibir sinis, “Kenapa tidak? Aku tidak takut menempuh cara kotor sekalipun.” “Benarkah?” sambil mengatakannya aku menarik betisnya keatas pangkuanku dan dia tidak terlihat terkejut saat kulakukan itu. “Yang terkotor sekalipun?” aku kembali bertanya padanya. Dia mengangguk kemudian mencondongkan tubuhnya dan menempatkan bibir tepat di telinga kiriku, “Aku datang kesini dengan penuh perhitungan, Tuan Wisnuwhardana, tentu saja aku siap menghadapi segala kemungkinan apapun.” Aku terdiam sejenak, benakku tak habis pikir dengan gadisini. Tidakkah dia merasa dia sedang menjual dirinya? “Bagus.” Sahutku berusaha untuk tenang dihadapannya, “Jadi apa yang kauinginkan? dan apa penawaran terbaikmu untukku?” “Investasi tanpa batas untukku, dan apapun yang kau inginkan dariku.” Aku tersenyum datar, harus kuakui aku menyukai gaya tanpa basa-basinya dalam bernegosiasi, tapi aku harus memberitahunya satuhal terlebih dahulu. “Jumlah uangku masih dalam jumlah digit yang bisa dihitung, Vivianne. Dan kurasa sesuatu yang aku inginkan dari dirimupun tidak akan membuatku ada dalam kesenangan abadi, segalanya berbatas tapi masih bisa kita rundingankan dengan cara yang benar di lain waktu bukan.” Dia mengangguk dengan wajah dingin, “Aku setuju, jadi kapan kita akan membuat kesepakatan?” “Bulan depan?” Vivianne menggeleng cepat, “Tidak, aku tidak akan bisa bersabar sampai senin depan, aku butuh segala sesuatunya lebih cepat, Tuan Wisnuwardhana, atau aku akan beralih ke Investor asing.” Sialan. Dia pikir aku akan peduli? cari saja orang lain. Setan dalam diriku berbisik sambil menyeringai, membuatku tersadar kalau dampaknya pasti akan sangat buruk jika itu terjadi. Aku menggeleng frustasi. Menentukan pilihan dalam tempo singkat bukanlah hal terbaik yang bisa aku lakukan. Setanku kembali memprotes. “Aku butuh waktu.” kataku padanya. “Dan aku butuh cepat.” “Kau akan mendapat jawabanku pada hari jumat, bisakah kau bersabar dua hari lagi?” Dia tersenyum dan menurunkan kakinya dari pangkuanku, aku justru merasakan semacam kehilangan besar dari apa yang dia lakukan. “Dua hari lagi,” ulangnya sambil berdiri dan membenahi rok, kemudian membuka tas dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya, “Oke.” Aku menerima kartu namanya saat dia menyodorkan, dan hanya menatap saat dia berlalu menuju pintu, membukanya dengan anggun. Vivianne menahan daun pintu sambil menatapku dari balik bahu “Dan , jangan pernah menghubungi aku jika kau hanya ingin mengatakan tidak.” Pintu tertutup dan dia menghilang dari pandanganku sepenuhnya. …………………

BOOKMARK