Tambah Bookmark

5

5. Kesepakatan

Sepeninggalan Vivianne, aku tenggelam dalam perang batin mendalam. Pikiranku saling bertempur antara satu sama lain. Penawarannya membuat galau luar biasa. Di satu sisi otakku setuju untuk menerima tawarannya, melibatkan diri dalam apapun bisnis cerdas dan menikmati ‘pertukaran’ yang akan aku dapatkan. Sisi ini mengatakan jika uang bukanlah segalanya, tapi ego yang terpuaskan adalah keuntungan terbaik dari bisnis bersama Vivianne. Sementara belahanlain dari pikiranku mencerna resikonya dengan seksama. Aku belum pernah menerima proposal kerja sama dengan jaminan akses bebas ke tempat tidur sebelum ini. Orang terbodoh dalam bisnispun akan mengatakan itu adalah penawaran yang tidak masuk diakal pebisnis waras manapun. Pada akhirnya perang batin, keinginan untuk memiliki kuasa atas tubuh Viviane menang dengan telak setelah aku melakukan voting pada setiap inci anggota tubuhku. Ini memang kedengarannya konyol dan tolol, tapi ini perlu kulakukan untuk membuat keputusan. Aku menginventarisir seluruh anggota tubuhku dan menanyai dalam hati seberapa inginnya mereka merasakan tubuh Vivianne. Jariku menyahuti dengan keinginan untuk menari bebas diatas inci demi inci kulit Vivianne. Mataku berkata, ‘puaskan rasa penasaranmu.’ Hidungku bicara ‘puaskan dirimu dengan aroma vanilla lychee.’ Sebagian besar anggota tubuhku menginginkannya. Hanya logika dari otak kanan saja yang menolaknya dengan separuh pikiran. Jadi kuputuskan untuk menerima penawarannya, sesegera mungkin. Aku menghubunginya tepat tengah malam, hanya untuk menemukan suara berisik yang menjelaskan padaku kalau Vivianne sedang bersenang-senang selagi aku galau. “Kau dimana, Nona?” tanyaku sambil menahan nafas dengan dada sesak. Bayangan tubuh seksinya meliuk-liuk dalam pelukan laki-laki lain sangat mengganggu. “Ini siapa?” pertanyaanku disambut oleh suara tawa cekikikan, aku yakin seseorang tengah menggodanya. Menggigit daun telinganya, mungkin. Tidak, aku sungguh-sungguh berharap itu tidak terjadi. “Calon mitra kerjamu, Vivianne.” Dia terdiam sejenak, “tunggu.” Sambungnya kemudian, dan aku mendengar hingar bingar musik menjauh. “Renno, ada apa?” “Kita harus segera membuat kesepakatan, malam ini juga.” “Oh! kau sudah memikirkannya dengan matang?” ia bertanya ragu. “Ya, dan aku menerima tawaranmu. Kau dimana, aku akan segera kesana sekarang juga.” “Ehm, ini pesta piyamanya, Chantelle.” Dia terdiam sejenak sebelum meneruskan “Kupikir kau menerima undangannya juga, bukan? aku melihat beberapa temanmu ada disini.” Aku menjilat lidahku sekilas, mendadak sensasi rasa lezat itu menyerang gairah pada dasar perutku saat membayangkan Vivianne dalam balutan lingerie seksi ada didekatku. “Aku akan kesana dalam setengah jam. Kau jangan kemana-mana.” “Baik.” “Jaga asetmu tetap aman, aku tidak menerima jaminan yang lecet atau penuh dengan sidik jari lelaki lain.” Tawanya terdengar berirama, ejekan dalam getarannya sangat pasti, dan itu semakin membuatku merindu. “Tidak semudah itu Tuan, kau harus menandatangani kesepakatan sebelum menguasai aset-asetku.” “Percayalah, kau pasti akan menyukai apa yang akan kau dapat dari ‘tangkapanmu’ ini.” Sekali lagi aku mendengar tawa Vivianne, “Semoga.” Katanya terdengar bosan, “Kuharap kau cepat, ada beberapa singa lapar yang ingin memakanku disini, Kevin Mertariza salah satunya.” Kevin!! Sial. Bagaimana mungkin orang yang harusnya tahu dengan benar kalau dia butuh menjaga imej untuk memenangkan pemilihan kepala daerah malah sibuk berpesta pora. Aku menghela nafas kesal. Siapapun tahu jika Kevin sering dengan sengaja merebut gadis-gadis yang sedang dekat dengan member PM lainnya untuk sekedar memperlihatkan teknik pendekatan ala siapa yang paling mumpuni. Dia selalu pandai membuat aroma persaingan antar anggota PM memanas, serta menerbangkan ego para wanita yang dia dekati sampai ke langit ketujuh. Para wanita merasa bangga karena diperebutkan oleh pria-pria terkeren se Indonesia, sampai akhirnya membuat pilihan salah dengan memilihnya hanya untuk dicampakkan setelah dia puas bermain-main. “Oke, jangan matikan ponselmu. Kau harus terus berbicara denganku lewat ponsel selagi aku bersiap-siap.” “Uh! Maaf, aku tidak suka terlalu lama berbicara lewat ponsel, Tuan Wardhana. Kurasa lebih baik aku mematikan ini sekarang agar kau bisa bergegas.” Tidak!! Tapi telat, Vivianne telah mengakhiri percakapan kami. Aku menyumpahkan kalimat terkotor yang pernah aku pelajari dalam bahasa mandarin. Kalau Mami tahu dia pasti akan menyikat mulutku dengan sikat wc. Tapi aku tidak memikirkan itu lebih lama, dan bergegas meraih kunci mobil dan keluar dari dalam rumah begitu saja. ............ Untung saja jarak antara apartemenku dan apartemen Chantelle, tidak terlalu jauh. Kurang dari setengah jam aku sudah tiba di milik sepupu Evan itu. Aku menyumpah lagi saat menyadari aku datang masih dengan pakaian lengkap sementara beberapa teman yang menyapaku di muka pintu tampil menawan dengan piyama mereka masing-masing. Yang perempuan malah berlomba-lomba tampil seksi dengan Lingerie aneka bentuk. Kulepas kemeja tartan yang kukenakan dan kubuang begitu saja kebalik pintu. Aku tidak pernah tidur mengenakan piyama, itu bukan benda yang aku kagumi kegunaannya, piyama tidak praktis bagi lelaki yang lebih suka tidur dalam keadaan ‘polos’. “Hai seksi!” Chantelle, si empunya pesta menyapaku dengan sebuah ciuman hangat yang kusambut dengan senyum. “Kau jelas-jelas sangat lezat dengan gaya tidurmu, sayang.” Dia menatap pada dada bidangku yang hanya terlapisi kaus dari bahanmirip jaring-jaring kecil. Aku mengangkat bahu malas-malasan, “Ini sedikit diluar jalur Elle, tapi inilah aku menjelang tidur.” Chantelle menyibak rambut pirangnya ke belakang, tubuhnya condong kearahku dalam sikap seduktif. Aku tidak terlalu memperdulikannya dan memutar pandanganku kemana-mana, mencari dimana sekiranya keberadaan Vivianne. “Kau mencari seseorang?” Aku mengangguk, “Kau lihat Vivianne?” Chantelle menyeringai sekilas, “Renno dan Vivianne, betapa unik paduan kalian.” “Apa maksudmu?” kutatap dia bertanya. Chantelle menggeleng sambil tersenyum, “lupakan saja, Vivianne ada di dalam.” Chantelle Lancaster mengacungkan ibu jarinya kebalik punggung. Aku mengecup dahinya dan berterima kasih sebelum melangkah, menyibak keramaian suasana pesta. ............... “Hei!!” seruan itu membuat langkahku terhenti. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam satu malam aku mengutuk dalam hati. “Kevin.” Aku menyodorkan salam tinju cowok pada teman yang satu itu dia membalas sambil menyeringai, “sendirian?” aku bertanya padanya. Dia menggeleng. Aku menatapnya meneliti, sementara dadaku berkecamuk oleh kekhawatiran yang membuatku takut. “Tadi aku muncul bersama calon istriku, “ dia menatap berkeliling, “entah dimana dia sekarang.” “Calon istri!” aku berseru kaget, “siapa?” “Kevin, ayo pulang.” Satu suara menyahuti pertanyaan penasaranku dari alah belakang. Seorang gadis muda muncul dalam balutan jubah mandi sutra dan celana piyama biru pucat. Wajahnya cantik meski dia mengenakan sebuah kaca mata tipis dan menguncir rambut panjangnya jadi sebuah kuncir kuda berantakan. Betapa mengejutkan saat tahu selera wanitanya Kevin. Calonnya jauh dari kesan glamor dan seksi, malah terlihat serius bagai kutu buku yang terlalu banyak belajar. Tapi aku lega karena dia sama sekali bukan Vivianne. “Sudah?” Kevin bertanya seraya mengulurkan tangan ke pinggang calon istrinya posesif. Gadis itu mengangguk perlahan, lalu menatap bergantian padaku dan Kevin dengan dahi berkerut. “Oh! kenalkan ini Renno temanku.Renno, ini Dar...eh Melanie.” Aku dan gadis itu bersalaman dan menyebutkan nama kami masing-masing. “Mel, mencari Valdi untuk menyampaikan titipan dari Profesor Parameswara.” Tanpa kuminta Kevin menjelaskan. “Jadi Valdi ada di dalam?” Kevin mengangguk, “bersama Theo dan juga Wega mereka sedang mengelilingi seorang cewek yang mengenakan baju tidur ala cewek perawan, mungkin sedang menguji keberuntungan kalau saja gadis itu memang perawan yang tersesat, awww...” Kevin meringis pelan sambil menatap calon istrinya dengan pandangan ngeri. Aku terkekeh melihatnya. Kevin terlihat benar-benar berusaha keras untuk mentoleransi kesadisan calon istrinya karena pada dasarnya playboy satu itu tidak kurang egoisnya dariku, aku yakin dia sangat menyukai gadis ini. Mungkin seperti rasa sukaku pada Vivianne. Sisi ke playboyanku memprotes pengakuan itu, tapi aku abaikan. “Kami akan pulang duluan.” Kevin kembali bicara padaku dan kusambut dengan anggukan. Kami berbasa-basi sejenak sebelum berpisah. Aku masuk kedalam, menghampiri teman-temanku di meja bar yang menghadap langsung pada pertunjukan tarian sensual yang dilakukan oleh beberapa teman wanita. “Hei.” Aku menepuk bahu Wega yang terlihat melamun dengan mata kosong ketengah-tengah panggung, ketua playboy monarki itu sama sekali tak hirau dengan tarian panas gadis-gadis yang berusaha keras untuk mendapat perhatiannya. Dia menoleh kearahku dan langsung terlihat lega, tidak hanya itu dia langsung memeluk dan mengecup pipiku sampai aku terlompat kaget. “YAIIIIKKKSS....APA YANG KAU LAKUKAN?” aku membentaknya jijik. “Oh Renno, aku mencintaimu.” Dia menahan leherku dan berusaha keras untuk menciumku lagi aku setengah mati berusaha menjauhkan wajahnya dariku. Valdi dan Theo terkekeh melihat kelakuan kami berdua. “Apa kau sudah berubah haluan jadi gay?” aku bertanya kesal sambil menampar pipinya agar ia sadar. “Aku sedang menimbang-nimbang untuk melakukannya.” Dia bicara dengan wajah serius, tak ada senyum setan atau tatapan dewa kematian yang biasa ia layangkan seperti biasa. Sialan. Ini pasti gara-gara Vanilla Riana Thahar, aku membatin dalam hati. “Tapi jangan ajak-ajak aku.” ketusku masam sambil duduk dikursi sebelahnya. Wega terkekeh melihat reaksiku. “Kenapa kau telat muncul?” Valdi bertanya, “kau melewatkan bagian tergilanya,” dia berbisik padaku, “Dia bahkan berpikir untuk menikahi Rensa karena satu-satunya anggota kita yang masih perjaka.” Aku tertawa tak percaya, “dan reaksi cenayang sok tau itu?” “Rensa mengatakan oke, asal dia yang jadi Bot* nya.” Aku tertawa lagi, “Rensa berhasil mematikan gairah Wega dengan itu pastinya.” Valdi menyeringai sambil mengangkat gelas bir ditangannya. Bartender datang dan memberikan sebotol vodka dingin untukku. Aku menoleh kesana kemari dan melihat Theo yang sedang asyik berciuman dengan seorang cewek pirang. Melihat gayanya mencium aku yakin ia tentu tak akan peduli bahkan jika salah satu diantara kami bertiga sekarat. Kadang aku berpikir sahabatku yang satu itu benar-benar ‘gampangan’, siapapun yang mendekat pastilah akan dia ‘santap’. “Hei, tidakkah kau ingin mencoba menahlukkan siapa yang paling menarik disini malam ini?” Pertanyaan Valdi membuatku kembali fokus padanya. Aku tersenyum sekilas, dan menggeleng. Satu-satunya yang membuatku tertarik cuma Vivianne, tapi ngomong-ngomong dimana dia? “Lihat saja dulu,” Valdi mengangkat gelas kearah stage didepan kami, “yang memakai lingerie magenta benar-benar terlihat bagai perawan.” “Persetan.” Seruku sambil kembali memutar pandangan kearah lainnya. Suara tawa nyaring dari sekumpulan iblis mesum terdengar dari meja bas diseberang tempat kami duduk. Aku menoleh untuk mencari tahu apa yang membuat playboy kelas menengah itu berisik. Mereka tertawa-tawa sambil melempar kulit kacang ke tubuh cewek-cewek yang sedang menari diatas panggung. “Benar-benar tidak beretika, barbar.” Gumamku datar, “Einer bahkan lebih beradab di banding mereka semua.” Valdi tersenyum mendengar gerutuan itu, “Itu karena mereka mengincar si magenta.” Mau tidak mau aku mengangkat tatapanku untuk melihat secantik apa kiranya wanita yang berhasil memanaskan suasana pesta ini. Ketika tatapanku terfokus pada wanita yang memakai magenta panjang sebatas lutut itulah seketika jantungku berhenti berdetak. ................ Vivianne. Nama itu dikumandangkan oleh lemak-lemak dalam kepalaku. Dan efek yang kurasakan kemudian adalah detak liar penuh amarah pada jantungku. Bagai robot aku turun dari kursi dan melompati meja didepanku begitu saja. Dengan satu kali lompatan pula aku naik keatas panggung dan berdiri di hadapan Vivianne, menatap dengan penuh amarah. Senyumnya terhenti, tariannya juga. Dia berdiri menatapku tak berkedip dan sedikit terheran-heran. “Ren ...” Disaat yang sama, aku menyambar lututnya dan menyampirkan tubuh nya ke atas bahu. “APA-APAAN KAU?” dia membentak marah. Aku bahkan sudah terlalu marah untuk sekedar menjawab pertanyaannya. Berpuluh-puluh pasang mata menatap kami berdua. Tapi aku tidak memperdulikannya sama sekali. Aku terus berjalan menuju ke pintu dan membawanya bersamaku. Tak peduli dia mengamuk sejadi-jadinya dalam gendonganku. ............... “KAU....” dia memberontak dan berhasil turun saat kami berada didalam lift. Dengan satu gerakan kilat kakinya menendang tulang keringku dengan kasar. Sakit? Tentu saja, tapi amarah telah membuatku mengabaikan semuanya. Rahangku mengencang saat aku menahan amarah itu dengan balas menatapnya. “Saat aku bilang agar kau menjaga ‘asetmu’ hanya untukku itu artinya tidak ada sama sekali usaha apapun untuk membuat mata laki-laki lain menatapmu.” Suaraku terdengar dingin bagai desir angin ditengah badai salju. “Itu sangat egois.” “Ya aku memang egois, dan itu syarat yang aku ingin untuk kerja sama kita.” “KAU!!” dia menggeram marah dan mengangkat kedua tinjunya keatas sebelum menjatuhkan kembali kesisi tubuhnya dan berbalik memunggungiku. Aku menghela nafas lewat mulut saat melihat bagian punggung lingerienya yang mempertontonkan apa yang dia punya dari balik kain tipis itu. Pintu terbuka dan aku menariknya bersamaku menuju mobil. Wajahnya masih memberengut tapi dia tidak mengatakan apapun padaku. Aku membukakan pintu mobil dan mendorong dia masuk kedalam tanpa bicara apapun. Dalam sekejap aku sudah duduk disebelahnya dan menghidupkan mesin mobil. Dalam kegelapan malam kulajukan mobil tanpa mengatakan apapun pada Vivianne. Kami tiba di apartemenku lebih cepat dibandingkan saat aku datang kerumah. Vivianne langsung duduk di sofa dan menatap aku tajam dengan dua lengat terlipat didepan dada, gayanya yang sok angkuh membuatku tertantang dan balas menatapnya sama angkuh. Jika ini adu kekuatan, maka aku harus menang. “Apa yang kau inginkan dariku?” dia bertanya masam padaku. “Kesepakatan,” desisku dingin, “kita akan membuat kesepakatan malam ini.” .................... Adit datang kerumahku dengan wajah luar biasa kesal. Kalau aku tidak mengancam akan memutus kerja sama dengan firmanya dia pastilah akan terus memprotes dan menolak datang ke apartemenku. Baik aku maupun Vivianne mengutarakan maksud kami dengan jelas padanya, membuat si pengacara bingung selama delapan detik dan menatap kami bergantian sebelum berteriak marah dan mengatakan kalau kami sudah gila. “KALIAN SUDAH GILA??” “Ya!!” baik aku maupun Vivianne mengangguk setuju. “Kesepakatan besar dengan jaminan tubuh?” dia mengatakan itu dengan jijik. Aku mengangguk sambil menelan ludah saat mendengar Adit mengatakan itu, kulirik Vivianne “Coba lihat dia, tubuhnya terlihat lezat.” Gumamku pelan. Vivianne tersenyum sinis “terima kasih.” “Sama-sama.” Kataku tak kalah dingin. Adit menggelengkan kepalanya berkali-kali dan menutup wajahnya kemudian menatapku dan Vivianne dilema. “Oke, aku akan melawan semua kepatutan dan moral disini, jelas kalau yang namanya moral adalah benda tidak berharga bagimukan Ren?” Aku mengangguk setuju. Adit mulai mengotak-atik Iphone dengan seksama, “Kontrak kerja sama atas tubuh?” “Vivianne Kelley Westin.” Vivianne menyebut namanya dengan lancar. Adit menggumamkan nama itu mengulangi, dan mulai menyebutkan pasal demi pasal kontrak rahasia antara aku dan Vivianne. “Apa yang akan kau berikan padanya Ren?” Adit bertanya padaku. “Enam juta US Dollar dana yang akan di transfer langsung dari rekeningku di Singapura besok pagi.” “Dan yang akan kau terima?” “Apapun yang berada diantara kedua pahanya.” Aku menyeringai mesum pada Vivianne. “Permintaan khususmu?” Adit menatap Vivianne penasaran. “Apapun yang ada diantara keduapahaku hanya akan dia nikmati setelah aku menerima seluruh dana yang ia transfer secara tunai, tanpa potongan beban pajak tentu saja.” “Oke” aku menyahuti setuju. “lalu?” Adit kembali menggumam. “Tempat dan lokasi menikmati apapun yang ada diantara kedua pahaku, aku yang menentukan.” “Tidak setuju.” Aku menggeleng, “Itu prerogatif orang yang menerima jaminan.” Vivianne melotot sejenak, “, hak mu, tapi aku menuntut tempat terbaik tanpa itu aku akan melakukan .” Aku mengangguk setuju. Aku pasti akan memberikan apapun yang terbaik untuk ini, bagaimana bisa dia meragukannya. “Bagaimana dengan pengaturan waktu?” Adit menatap kami berdua bergantian. “Ini tentang berapa banyak kau sanggup memberi,” dia menatap padaku, “dan berapa banyak kau bertoleransi.” Dan pada Vivianne. “Tiga kali seminggu” kataku. Vivianne mengangguk setuju. “Selasa, Jumat dan akhir pekan.” Vivianne menatapku bingung. “Selasa?” tanyanya. “Hari terjenuh menurutku.” Aku menjelaskan, dia hanya mengatakan ‘Oh’ sambil mengangguk-angguk. “Jumat?” kali ini Adit tidak tinggal diam. Aku nyengir penuh konspirasi, “pemanasan menjelang weekend.” Dia ikut tersenyum, “Aku setuju itu.” Akumendengar Vivianne menghembuskan nafas dan memasang wajah bosan. “Dan berapa lama ini akan berlangsung? Apakah sampai aku bisa mengembalikan modal awal padamu itu sudah cukup?” Aku menggeleng, “aku yang akan menentukan batasnya.” “Jangan egois, sebagai wanita aku punya jam weker biologis. Suatu saat aku harus menikah.” Aku memelototinya kesal, dia masih memikirkan pernikahan dengan lelaki lain saat kami terlibat sejauh ini. Benar-benar profesional rupanya. “Bahkan jika kau menikah dan aku masih belum puas denganmu, aku akan tidak akan menghentikan kontrak ini Vivianne.” Ketusku geram. Dia menyeringai dan memasang wajah tanpa dosa, membuatku berpikir terbuat dari apa hatinya? Batu atau es kah? “Itu menarik.” Adit menggumamkan kata ‘gila’ satu kali lagi, “Berhenti saling menerkam, kalian harus membahas kontrasepsi, tidak ada seorangpun diantara kalian yang menganggap bayi sebagai bonus akhir tahun bukan?” Bayi! “Tidak, tentu saja tidak.” Teriakku ngeri, saat aku menatap kewajah Vivianne aku melihatnya membeku dan, ... terluka. Kugelengkan kepalaku saat melihat mendadak dia jadi begitu rapuh. Dia tentu tidak menginginkan bayi dari hubungan jenis ini, tentu tidak. “Aku akan memakai benda apapun untuk tidak membuatmu hamil, aku berjanji padamu.” Untuk pertama kalinya aku terdengar benar-benar bagai peduli pada Vivianne. “Itu bagus, karena aku tidak akan memakai apapun yang bisa mengacaukan hormonku” sahutnya dengan wajah sedingin es, “suatu saat aku harus punya bayi.” Aku menatapnya sambil meringis. “Tapi kau tenang saha, bayiku tidak darimu tentu saja.” Suaranya berusaha menenangkan aku, tapi justru disaat yang sama aku mulai bertanya-tanya, jika bukan dariku lalu dari siapa? Apa dia punya lelaki lain? Kalau dia sampai punya anak dari laki-laki lain.... Tidak, aku tidak akan sanggup membayangkan. Kupejamkan mataku sesaat, sebelum menatap Adit dengan penuh tekad. “Oke, aku akan tetap memakai kontrasepsi tapi jika sampai aku membuatnya hamil tanpa disengaja, aku tidak akan keberatan untuk menjadi ayah yang baik untuk anaknya.” Vivianne menoleh padaku, menatap dengan mata tajam penuh kebencian, “Terima kasih, tapi tidak ... aku akan merawat dan bertanggung jawab sendiri jika sampai hal ‘mengerikan’ itu terjadi.” Aku melongo bingung. Wanita ini benar-benar rumit, saat aku menolak punya anak, dia terlihat sungguh terluka sekali, tapi saat aku setuju dia malah menolak mentah-mentah kebaikanku. Sialan. “Terserah kau.” Ketusku kesal. Adit nyengir melihat kami, “Kalian benar-benar bagai pasangan serasi yang sedang membahas masalah pernikahan kalau seperti ini.” Kalimat itu membuatku terdiam sesaat. Menikah! Kenapa aku tidak pernah memikirkan itu sebelumnya? Bukankah ini satu-satunya hubungan seriusku dengan wanita. Vivianne luar biasa menarik dan seharusnya dengan pandai aku membaca peluang menjalani hubungan ini dengan suatu visi dan misi yang jelas dimasa depan. Pernikahan. WOW, kurasa itu pencerahan. “Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” Vivianne bertanya padaku. Kutatap dia sekilas, “Senyum!” ulangku, “bagaimana bisa terlihat seperti itu, aku sedang menertawakan Adit.” “Kau sama sekali tidak tertawa,” dia menatap dengan mata menyelidik, tapi aku tidak memperdulikannya lebih lama lagi. Aku terlalu bahagia saat memikirkan kemungkinan jika mungkin aku telah menemukan pasanganku. Aku bersumpah akan melakukan segala cara untuk membuat Vivianne juga merasakan hal yang sama. Untuk pertama kalinya aku benar-benar bersemangat dan optimis saat menjalani hubungan bersama seorang wanita. Aku menoleh pada wanita yang duduk tepat disebelahku itu “Hei Vivianne,” panggilku separuh berbisik. Dia menoleh dan menatap kearahku, “Ya! kenapa?” “Aku menantang kau untuk tidak jatuh cinta padaku.” Dia terperangah kemudian tertawa mencemooh, “tentu saja tidak akan, itu hal terakhir yang aku harap dapat terjadi.” “Oke!” aku berseru penuh semangat, “jika dalam tiga bulan aku tidak bisa membuatmu jatuh cinta maka aku akan melepaskanmu.” Dia terperangah karena tak percaya dengan tantangan itu. “Kau serius?” suaranya meninggi dengan emosi rasa penasaran. Aku mengangguk, kuulurkan telapak tanganku yang terbuka diatas sofa yang kami duduki. “Tapi, jika yang terjadi sebaliknya maka kau harus menuruti apa mauku, bahkan jika aku mau kau tidak boleh menikah dengan orang lain, seumur hidupmu.” Tatapannya terang terguncang, dia menggigit bibir sejenak sebelum membalas uluran tanganku. “Tentu, aku yakin itu tak akan terjadi.” Dia bersikeras. Aku menyeringai, sepertinya dia termakan jebakan pertama, gumamku dalam hati, sambil mengunci jemarinya dengan jemariku. Mata sipitnya melebar kaget, terlebih saat aku mencium punggung tangannya sambil tersenyum mesra. Aku puas saat melihat rona merah timbul di pipinya. Memutus kecanggungan yang mendadak timbul aku mengalihkan pandanganku pada Adit yang sibuk mengetikkan isi kontrakku dan Vivianne. “Adit.” Aku memanggilnya datar. Dia mengangkat kepala dan menatapku. “Ya, kenapa?” “Kurasa aku harus mengubah tenggat kontrak dan beberapa poin di dalamnya.” “A-apa?” matanya melotot menatapku dan sedetik kemudian dia berteriak marah. “KENAPA TIDAK DARI TADI!!!” ...................... Bot: Lelaki yang dalam hubungan sexual sejenis berperan sebagai lelaki (Suami), umumnya cenderung berpenampilan rapi dan Macho.

BOOKMARK