Tambah Bookmark

7

7. Menuai badai

Sepanjang pagi aku mencoba berkosentrasi penuh dengan semua berkas laporan yang dikirim delon dari kantor, yang masih harus aku baca dan tandatangani. Berusaha keras mengabaikan enam huruf yang menari-nari dalam kepalaku dan kebutuhan laki-laki yang kadang sangat egois jika sudah muncul.G.A.R.T.E.RIsi kepalaku mengulang huruf-huruf itu dengan frustasi.Berpikir siapa sekiranya orang yang menemukan kata yang punya efek sihir pada ‘tongkat’ sihir milik kaum Adam itu. SHIT. ‘Tongkatku’ ingin melakukan . Asshhhh....Tak dapat menahan diri aku menyingkirkan semua berkasku dan kabur dari rumah.Dalam setengah jam aku sampai di hotel yang menjadi salah satu jaringan bisnis keluarga Oey. Tempat dimana resepsi pernikahan Arfika dan Nathan akan dilangsungkan besok malam.Pernikahan Arfika dan Nathan membuat keramaian di hotel berbeda pada hari biasa.. aku berusaha untuk tidak tampil mencolok mata staf hotel yang kemungkinan mengenaliku.Tujuanku cuma satu, menyelinap masuk ke kamar ganti yang letaknya berada pada lorong yang berseberangan dengan tempat pesta akan dilaksanakan.Aku tahu karena itu tempat yang sama ketika dulu Mami mempersiapkan diri dalam resepsinya saat menikah dengan Andrew Oey.Aku menghubungi Vivianne lewat ponsel yang terhubung dengan earphone nirkabel.“Ya, Renno.” Sapanya begitu kami tersambung“Kau sedang dimana Vivianne?”“Aku masih di , apa kau sudah menyelinap?” “Hmmm...” aku mencoba menyembunyikan nada senang pada suaraku untuknya. “Aku ingin ada disana, tapi masalahnya aku ada darurat dengan para .”“Oh!’ seruan itu bernada kecewa. Kuharap aku tidak salah telah menyimpulkan begitu.“Maaf Vivianne.”“Tidak apa, mungkin bisa lain kali.”Aku tersenyum, mataku menatap pintu yang aku cari-cari dengan cepat aku langsung berusaha membukanya tanpa suara.“Vianne, aku benar-benar menyesal.” Mencoba membuat suaraku terdengar membosankan ternyata bukanlah suatu hal yang berat untuk dicoba kalau aku mau.“Padahal aku ingat ruang tunggunya benar-benar indah.” Timpalku lagi.“Sangat.” Desahnya diseberang sana. “Aku sangat suka kamar gantinya.”Aku tersenyum dan membuka pintu kayu yang menjadi akses langsung ke ruangan kaca berukuran tiga kali tiga dengan bentuk persegi delapan.“Aku ingin bercinta denganmu disana Vivianne.” Saat mengatakan itu aku benar-benar membayangkan sedang bersama gadisku. “Aku ingin melakukan denganmu, sekarang.”“Renno, tolong jangan memancingku. Aku sedang bersama teman-temanku dan petugas dari WO.”Kubelai kaca di depanku. “Menyelinaplah kesana.” Pintaku memohon.Kudengar suara tawanya, “Tidak.”“Tidak!” ulangku pelan.“Ya!” “Ayolah Vianne.” Aku terus membujuk. “Aku ingin melihatmu ada di ruangan kaca itu.”“Sialan, ini gila.” Keluhnya pelan, kemudian terdengar jeda suaranya seperti berbicara pada sekumpulan orang. Aku tersenyum lebar, godaanku berhasil. Ini sepertinya terlihat mudah untuk kami, Vivianne diam-diam memendam hasrat yang sama denganku.“Aku tidak tahu apa yang ada dalam otakku sekarang, Tuan Wardhana. Aku meninggalkan gladi.” Lapornya dengan suara tidak yakin.Aku tertawa, “Ikuti saja hasratmu, itu yang lebih benar. Ayolah percepat langkahmu, aku sudah tidak tahan untuk melihat garternya.”“Laki-laki dan otak mesumnya.” Vivianne menggumam dengan cara yang dramatis.Dari tempat keberadaanku aku bisa mendengar pintu kamar ganti yang terbuka. Senyumku mengembang, perlahan aku berdiri sambil menyandarkan tubuh tepat pada dinding kaca yang ada disebelah pintu masuk kamar ganti ini.Tubuhku penuh antisipasi bagai Harimau yang sedang mengincar mangsanya datang. Dorongan pada pintu kayu terdengar samar. Gadisku masuk sambil menundukkan kepala, masih dengan ponsel dekat telinga.“Aku sudah di dalam Renno.” Bisiknya lirih.“Ya.” Aku tertawa tanpa suara, dan mematikan ponselku. “Aku melihatmu, sayang.”..............Vivianne  melompat kaget saat melihat bayanganku dari cermin. Tubuhnya merapat pada dinding kaca diseberang tempatku berdiri sambil menyerukan namaku.“Sialan, Tuan Wardhana, kau membuat jantungku  nyaris lepas.” “Kejutan!!” seruku sambil membentangkan kedua lengan dan mendapatkan dirinya dalam dua langkah lebar yang aku ambil. Bibirku secara terarah langsung memburu miliknya, kami berpelukan dan berciuman dengan cara yang liar dan kasar.Tanganku tidak dapat menunggu izinnya lebih lama. Bagai penjarah yang menemukan harta karun, aku mengembara pada seluruh bagian tubuh yang aku incar.Vivianne melepaskan jas yang kupakai. Menjatuhkannya kelantai dan menarik dasi dan manset, membuangnya entah kemana. Tak mau kalah, masih sambil berciuman, aku mendorongnya naik ke meja rias kecil yang ada dibelakang tubuhnya. Gaun cantik dari bahan renda elastis yang dikenakannya mempermudah semua usahaku untuk membuatnya polos.Semua yang dia kenakan adalah komplotan pemicu ledakan gairahku. Dia merencanakan ini, aku tahu itu.“Apa ada yang melihatmu menyelinap?” aku bertanya diantara kegiatanku melucuti gaunnya. “Aku meminta ijin untuk keluar sebentar.” Bisiknya dari telingaku. “Aku hanya punya waktu beberapa menit, Renno.” Kakinya mendorong gaun itu jatuh ke lantai.“WOW!” aku berseru pada apa yang aku lihat. Bra hitam dan celana dalam hitam berlapis sabuk garter warna senada. “Kau suka?”  dari caranya menikmati tatapanku, dia jelas tahu apa jawabannya.“Tidak.” Tanganku berusaha menarik celana hitam berenda yang ia kenakan. “Aku lebih suka apa yang ada dibaliknya.”Vivianne memberiku senyuman menggoda. Lipstik merah menyala yang ia kenakan membuatku tidak dapat menahan diri untuk tidak kembali menyentuhnya disana.Aku sudah berhasil menurunkan celana itu sampai ke batas lutut sebelum bergerak mendorong punggungnya kedinding kaca dan mulai menyelinapkan tongkat sihirku diantaranya.“Siap untuk menerima VVIP?” aku bertanya sambil menjilat lidahku.“VVIP?” ulangnya bingung.“Vivianne terkikik dan tidak menjawab apapun selain bergerak mendorong bokongnya dan meluncur kearahku.“Oh!” Mataku membelalak, nafasku meliar dalam gairah atas perbuatannya. Seluruh rongga dalam mulutku basah oleh kelezatan yang aku rasa di bawah sana. Dalam kelezatan rasa, aku terpesona dan tidak mampu bergerak. Ini sihir paling sensual yang pernah aku rasa. Tidak ada satupun wanita yang bisa membuatku terdiam saat bercinta.Alis Vivianne terangkat sebelah. “Tidakkah kau ingin bergerak?” dia bertanya heran.“M-maaf,  ini eh… sedikit, uhhh… mengejutkan.” Segera setelahnya aku mulai mengayunkan tongkat sihirku untuk melakukan Aku tergamam oleh gerakanku sendiri. Tubuh Vivianne adalah perangkap dan siksa. Jika aku berharap mendapatkan kepuasan darinya maka aku salah besar. Setelah hari ini, aku tak akan pernah terpuaskan selamanya. Dan aku akan selalu haus pada tubuh Vivianne.“Ya Tuhan!” aku berseru di telinganya. “Sial, Vianne apa kau menaruh penjepit kertas atau apa… kau benar-benar membuatku kesulitan… ahh…”“Biasakan dirimu untuk itu.” Ejeknya sambil mencakar bahuku dengan kuku jarinya yang panjang dan dimanikur ala Perancis.Aku menikmati gerakanku sambil kembali melumat bibirnya, dan sesekali menikmati pemandangan di dinding kaca yang menyajikan gerakan sensual kami dalam ritme irama percintaan yang panas ini.Sensasi melihat pemandangan diri sendiri bercinta memberiku semangat tambahan untuk semakin menggila. Dengan satu gerakan ringan aku mengangkat tungkai Viviaan dan merentangkannya sampai kebahuku. Membuat gadisku tak memiliki pilihan selain menumpu bobot tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang bertumpu di meja rias.“Kau pernah naik ?” bisikku ditelinga Vivianne.Dia mengangguk sambil mendesah panjang.Aku memegang punggungnya dengan kedua tanganku. “Lepaskan tanganmu dari meja, sayang.” Aku memberi perintah yang langsung diikutinya.Dengan gerakan kilat seperti nahkoda memutar kemudi kapal aku membalik tubuh Vivianne.“Ahhhh….” Teriak Vivianne terkesiap, tangannya secara refleks memegang permukaan dinding kaca, wajah dan bra renda yang ia kenakan menempel ditempat yang sama. Tekanan tubuhnya pada kaca adalah visualisasi keindahan paling purba dalam diri seorang wanita.Sementara efek dari kekagetannya mencengkramku lebih ketat di bawah sana. Aku meringis menahan jepitan nyeri nikmat itu. “Kau gila.”gerutunya sebal.“Maaf sayang.” aku meringis sambil kembali bergerak. Dengan posisi membelakangi aku bisa masuk lebih dalam.Kami mengerang bersama, menikmati keliaran dan ritme yang semakin lama semakin tak terkendali. Aku berusaha untuk menarik diri saat merasakan masa pelepasan kian dekat. Namun dia menahanku.“Akhiri VVIP-mu dengan sempurna Tuan Wardhana, aku dalam masa aman.”Aku menundukkan kepalaku sambil mendesahkan nafas kelegaan, menggigit bahunya, dan mengembalikan apa yang dia minta dariku dengan satu hentakan keras. Disaat ketika akhirnya ledakan gairahku dan gairahnya bergabung. Kami menyuarakan kepuasan masing-masing dengan erang dan pekik kepuasan.Dari belakang aku memeluknya erat, menenggelamkan kepalaku di lekuk bahu dan selangkanya. Menikmati kepuasan senilai enam juta dollar yang kudapat darinya.Vivianne berbalik  menciumku lembut. “Ini hebat.” Bisiknya ditelingaku. “Terima kasih.”Aku menurunkannya dari pelukanku, kupungut gaunnya dari lantai dan menyodorkan pada Vivianne.“Aku masih menginginkanmu sayang, tapi aku harus sadar situasi.” Aku membantunya memakai kembali gaun warna kulit yang ia kenakan sebelum memungut kembali rompi dan jas yang aku pakai.“Nanti malam pesta lajang Arfika dan Nathan, kau mau ikut?”Aku menggelengkan kepalaku. “Tidak.”“Masih antipati dengan Fika.” Tebaknya sambil tersenyum, “boleh aku tahu kenapa?”Aku balas tersenyum dan membelai wajah Vivianne dengan punggung tangan kananku. “Keadaan kami sekarang adalah yang terbaik, Vianne.”“Biar kutebak, ayahnya adalah selingkuhan ibumu bukan?”Apa yang dia utarakan membuatku membeku. Vivianne sepertinya selalu tahu cara untuk meraba kelemahanku. “Apa… kau membenci Fika untuk kesalahan orang tuanya?” Aku mendengus keras sambil memejamkan mata. Keingintahuannya bisa membunuhku, lagi pula apa keuntungannya dengan mengetahui hal itu.“Fika dan aku memiliki luka yang sama, aku tidak membencinya Vianne.”“Benarkah?”Aku mengangguk penuh keyakinan, mencoba mendatarkan perasaanku dihadapannya. Tidak ada yang lebih penting dari Vivianne bagiku sekarang. Kucoba menguatkan diri dengan menegaskan itu pada benakku, tapi sesuatu yang lain menolak pengakuan dan membangun tembok kokoh yang melindungi apa yang coba aku hindari sejak lama.“Arfika lah yang membenciku, sayang. Dan dia punya alasan kuat untuk itu.” pengakuan yang sama menghempaskanku pada pahitnya pengorbanan.................... Aku meninggalkan Vivianne dengan mood buruk. Sisa euforia usai bercinta bahkan sudah tidak kurasakan lagi. Segala sesuatu, jika menyangkut Arfika hanyalah mengingatkan aku pada hal-hal yang tidak mengenakkan. Aku ingin mengumpatkan sumpah serapah pada detik ini juga. Tapi beberapa orang yang melintas di lorong hotel membuatku membatalkan keinginan itu. Mereka sepertinya beberapa pegawai hotel atau bahkan panitia WO yang mengurusi pernikahan Arfika dan Nathan. Beberapa diantaranya lewat sambil membawa bingkai besar dan tonggak penyangganya. Mereka melewati aku tanpa mengatakan sepatah katapun. Sibuk dengan barang bawaan mereka masing-masing.Benda yang dibingkai, aku sangat yakin adalah foto-foto prewedding Fika dan Nathan. Aku menundukkan kepala dan menahan nafas saat satu demi satu pembawa foto melewati aku.Aku tidak akan sanggup melihatnya tanpa merasa tersakiti. Sebenarnya itu adalah hal yang sangat lucu. Bagaimana mungkin seorang pengingkar sepertiku bisa merasakan sakit bahkan setelah bertahun-tahun lamanya memendam kenyataan dan bahkan berhasil membuat Fika jadi sangat membenciku.Aku benar-benar pengecut yang hebat sama seperti Papi.Kuhela nafas saat aku mulai tergoda untuk keluar dari zona nyamanku dan mulai menjadi pemberani dengan memberi penghormatan untuk terakhir kalinya pada dia yang pernah aku sakiti.Aku mengangkat kepalaku tepat saat petugas terakhir yang membawa foto hampir melewatiku. Kukumpulkan keberanian seutuhnya untuk melihat wajah gadis yang dulu pernah membuatku gila oleh kontradiksi antara keinginan untuk memiliki dan rasa takut kehilangan.Foto terakhir berada dalam bingkai emas besar yang mewah. Di dominasi oleh warna putih dan emas gaun yang mereka kenakan. Aku tersenyum saat melihat wajah Nathan yang terlihat bahagia disana. Namun senyumku langsung menghilang saat melihat wajah Arfika. Duniaku berhenti berputar. Udara seakan dikosongkan dari paru-paruku. Apa yang aku takutkan menjadi kenyataan. Seperti yang dia janjikan dulu, balas dendam Arfika sudah dimulai. Dan aku menuai badai atas kebencian yang dulu telah dengan sengaja aku sebarkan.....................

BOOKMARK