Tambah Bookmark

8

8. Mengambil alih

Aku melangkah melintasi lorong gereja tanpa benar-benar melihat apa yang seharusnya aku lihat. Aku masih ingat bagaimana ketika Nathan mengakui itu dengan wajah pucat, dibawah ancamanku.Dan bantahan Arfika yang terlihat seperti ingin menangis.Oma Lani menatap keduanya dengan wajah tidak suka. Oma berhenti bicara hanya untuk memegangi dadanya yang mungkin mendadak terasa sakit.Aku tidak mengingat detail ratapan yang ia ucapkan dalam bahasa pada mendiang nenek Arfika yang juga adik kandungnya, Tan Giok Lan. Dan yang kulakukan hanya berdiri sambil memegangi bahunya, berusaha untuk menenangkan.Aku melakukan itu sampai tersadar tatapan menusuk Fika tertuju padaku. Suara itu menuduhku dengan tajam.Tetap kucoba untuk membantahnya.Aku tertawa datar. Matanya memancarkan kebencian untukku sepenuhnya, dan nyatanya aku memang layak untuk semua itu. Desisnya dingin, .................Aku duduk disamping mami yang tersenyum melihat kehadiranku.Wanita ini, andai aku boleh membencinya terang-terangan.Semua pikiran itu terhenti saat aku melihat sedan Marcedez ayah tiriku berhenti di muka pintu Gereja. Andrew Oey turun terlebih dahulu untuk membantu putrinya turun.Jantungku bagai direnggut paksa saat melihatnya dalam balutan gaun putih sutra mewah yang konon katanya rancangan Elie Saab.Dia yang tercantik. Satu-satunya yang membuat jantungku berhenti berdetak. Tapi dia membenciku untuk suatu alasan yang kuat.Kebencian yang bahkan membuatnya bertahan sepuluh tahun hanya untuk membalaskan dendam. Membuatku hancur dan ia berhasil.Dan hari ini dia akan menjadi milik sepupuku. Aku memejamkan mata sambil menghela nafas dengan berat. Mami merapat disebelahku, “Arfika cantik sekali bukan?” dia bertanya dengan suara lembut.Aku menggumam pelan menyetujui.“Tapi sepupumu tidak beruntung, sayang. Arfika itu licik bagai ular.”“Beberapa hari yang lalu mami masih belum tahu apa tujuannya menemuimu, tapi Mami bersyukur hari itu kau melarikan diri.”“Dia mengincar uangmu setelah Mami berhasil membuat  Andrew menahan dana perwaliannya, Mami tidak tahu dia mendapat uang banyak dari mana untuk memulai bisnisnya sayang.”“Apapun itu Mami bersyukur bukan kau orangnya, Renno.”Aku menoleh ke arah mami sekilas, menatap memperingatkannya dengan kenyataan kalau dia berbisik dan mencela anak tirinya sendiri di dalam tempat suci.“Mom, aku memaafkan mami atas kesalahan yang mami buat terhadap Papi dan Tante Anne. Tapi jika satu kali ini Renno berbuat salah, tolong lakukan hal yang sama.”Mata mami menatapku bingung, Andrew Oey dan Arfika sudah berada dekat dengan tempat kami berdiri. Tatapan mata adik tiriku menatapku dingin dan keras, menyakitkan bagaikan sebilah pedang baja yang ditujukan untuk membunuhku.Tapi aku seakan bisa mendengar permintaan putus asa dari kebisuannya. Aku menghela nafas sesaat, sebelum dengan penuh percaya diri keluar dari barisan dan mencegat langkah keduanya, aku emndengar suara-suara terkesiap dan tarikan nafas yang terhenti.“Cukup sampai disini saja.” Aku bicara pada ayah tiriku yang menatap dengan dahi berkerut. Seluruh tamu menatap kami, dan nya terhenti saat aku menarik Arfika mendekat padaku, “Mulai sekarang aku yang ambil alih.”Desah lega itu terdengar lepas dari bibir Fika, entah dia sadar atau tidak. Aku tersenyum padanya dan menatap pada Nathan yang membisu memandangku.“Ini sepenuhnya tanggung jawabku Nathan, sekarang kau bebas menikahi wanita manapun yang kau mau.” Dan sedetik setelahnya aku melangkah membawa Arfika menuju keluar gereja.“Ini belum selesai, sayang.” Bisikku saat kami melewati berpuluh-puluh pasang mata.“Aku tahu.” Jawabnya pelan, “Kita baru saja memulai kegilaan.”Aku mengangguk setuju, “Yang paling gila dalam hidup, Vivianna Arfika Kaleeya Westin Oey.”Tawanya pecah, “Kau masih mengingat nama panjangku dengan baik, kak.”Aku menggeleng perlahan, “Tidak, sampai aku memutuskan untu membuka-buka lagi buku keluarga semalam.”“Dasar brengsek.”“Ya.” aku mengangguk setuju, “yang paling brengsek tentu saja.”Kami berdua menuruni tangga depan gereja sambil menatap Matahari pagi yang bersinar cerah. Sopirku dengan sigap menghampiri kami membukakan pintunya untukku, mesin menyala dan siap untuk dikendarai. Membawa aku dan adik tiriku menjauh dari kegilaan apapun yang sudah aku mulai sejak sepuluh tahun yang lalu. Atau bahkan lebih lama lagi. “Kita mau kemana?” Fika bertanya padaku setelah kami berada jauh dari gereja. “Ke kantor Adit untuk revisi kontrak.”“Revisi?”“Pembatalan, sebenarnya.” Hatiku, saat mengatakannya terasa sakit.“Pikir ulang lagi Renno, itu kontrak kerja...”Aku menjilat bibirku sendiri, kenapa disaat hatiku mantap dia malah bersikeras untuk menggoda naluri iblisku. “Yang dibuat dengan tujuan ini, bukan?” “Renno, demi Tuhan aku tidak memintamu untuk membebaskan aku dari pernikahan dengan Nathan, jika kau tidak ingin melakukannya.”“Lalu keesokan harinya kau akan menyebar luaskan rekaman waktu aku menidurimu di kamar kaca?”Matanya saat menatapku terlihat hampa, dan kemudian aku melihat kata-kataku menyebar bagai racun untuknya.“Aku tidak menyimpan apapun yang kau takutkan itu Alverenno Wisnuwardhana. Aku tidak sepertimu, brengsek!”“Jangan bilang kalau kau tidak mengenali aku? kau pasti sudah merencanakan balas dendam ini dengan matang, Vivianna Arfika.”“YA!” dia berseru dengan suara tinggi. “Aku merencanakan ini semua, kau tahu untuk apa? Agar kau terpukul, ini pembuktianku atas tuduhanmu padaku dulu. Kau tahu itu, bajingan.”Kupejamkan mata sesaat. “Aku menjual diriku, ya, aku memang melakukannya. Kenapa? Karena aku butuh uang untuk membangun bisnisku, berkat Ibumu, Ayahku sudah tidak mempercayakan apapun lagi padaku. Dan aku melakukannya dengan meniru jejak ibumu, sialan.”“Tapi saat membuat kontrak itu, kau terikat pada Vivianne Westin, bukan Arfika Oey.” Dia menambahkan.“Pada kenyataannya kalian orang yang sama, walau padaku kau memperkenalkan diri dengan nama ibu kandungmu.”Arfika mengangkat cadarnya dan kemudian menyibak kain tipis itu kebelakang dengan tidak sabaran, “Persetan dengan isi pikiran sentimentilmu Renno, aku tetap pelacur mainanmu, brengsek.”Aku hancur oleh kalimatnya. Dia pelacurku. Ya, aku memang membuatnya jadi seperti itu.“Kau tahu, aku dan timku baru memulai perencanaan proyek, kami sudah mensurvei beberapa gedung dan saat ini tidak mungkin bagiku untuk mengembalikan uangmu.”Kugelengkan kepalaku perlahan, “Aku tidak minta uangku kembali, aku hanya ingin melepaskanmu dari kontrak....”“Dan membiarkan kontrak berjalan tanpa jaminan?”Aku menggeleng dan tersenyum kecut, “Tidak, tidak sepenuhnya begitu, aku akan terlibat secara aktif dalam proyekmu. Itu akan membuat dewan direksi tutup mulut.”Arfika menatapku datar, “Aku tidak tahu harus bicara apa-apa lagi denganmu.”Aku mengangguk setuju, “Itu jauh lebih bagus.”“Dan kabar buruknya,” dia kembali menyambung kata, “jika kau melakukan ini hanya untuk mendapat kata maaf dariku, itu tidak akan pernah terjadi Renno.”Aku tahu. Sejak lama aku tahu. Aku tidak termaafkan, tentu saja.Karena akulah orang yang ada dibalik rekayasa video mesum yang membuat Fika dan Nathan terikat dalam pertunangan keluarga.Aku tertawa mencemoohnya, “Dan aku tidak sedang mengemis maafmu, Monster Oeyster.” Disebelahku Arfika mendesis dalam amarah tertahan.“Ini tidak selesai dengan sangat sederhana bukan?” dia mengangkat dagu dan menantangku, aku melihat itu dari spion mobil.Aku tersenyum tipis, ya ini masih jauh dari kata usai..........................

BOOKMARK