Tambah Bookmark

10

10. Masih (membalas) dendam

Pada malam yang sama, kami pergi ke Pulau Kemaro. Aku, seperti kebiasaan yang diajarkan oleh Papi dan Oma, secara rutin selalu datang ke kelenteng yang ada disana untuk melakukan sembahyang. “Jadi itu lilinnya?” Arfika bertanya separuh berbisik padaku. Matanya menatap pada salah satu dari puluhan lilin sembahyang raksasa di bagian dalam altar utama kelenteng Dewi Kwan Im tempat aku baru saja selesai bersembahyang.  “Besar sekali. Apa itu benar-benar akan menyala selama satu tahun? Sampai ke Cap go meh tahun depan?” Aku mengangguk sambil merangkul bahunya membawa pergi dari sana sebelum dia punya pikiran untuk meminta dibelikan lilin dalam ukuran yang sama tapi dalam aroma melati untuk dihidupkan di ruang tamu rumah. Aku sengaja mengajaknya pergi ke Pulau Kemaro pada malam hari dengan alasan suasana pulau di malam hari lebih indah dibanding dengan apa yang bisa dilihat saat siang. Semuanya berkat puluhan lampu-lampu yang menghiasi pohon-pohon juga meriahnya pemandangan dari kios peserta pasar malam yang menjual aneka barang-barang yang unik. Pada awal masuk kami sudah melihat-lihat beberapa stand yang menjual penganan tradisional khas Imlek dan Cap go meh. Arfika bahkan membeli beberapa buah kue keranjang berwarna coklat dan hijau meski aku tidak yakin dia akan memakannya atau tidak. “Renno, kesana.” Pintanya sambil menarikku mendekat kearah sekumpulan manusia yang berkerumun mengelilingi atraksi tarian Barongsai dan suara berisik musik pengiring tariannya.  Aku tidak pernah menyukai keramaian berlebihan. Biasanya sehabis sembahyang aku langsung pulang, Tapi saat ini, rasa antusias Fika untuk melihat-lihat membuatku menahan diri bersikap egois. Kubiarkan ia menyeretku kemana saja tempat yang ia kehendaki. Aku tersenyum dan mengusir suramnya suasana hati setiap kali melihat dia tersenyum atau sesekali tertawa dengan lepas. Sama sekali tanpa kesan dibuat-buat sebagaimana dia yang biasa. “Wah aku enggak punya amplop angpao,” katanya saat melihat beberapa orang memberikan amplop merah pada para penari Barongsai.  Aku tertawa pelan, “Sudah kuduga.” Balasku seraya meraih dompet dari saku celana jeans yang kukenakan. Aku mengeluarkan beberapa lembar amplop merah yang sudah kuisi dengan uang dan kuberikan pada Fika.  “Wow, thanks” sahutnya kegirangan.  Kupukul kepalanya dengan dompetku, “bukan untukmu, tapi untuk mereka.” Aku menunjuk pada sekumpulan penari yang masih sibuk beratraksi.  “Pelit.” Gerutunya sekilas.  Aku tidak menghiraukan gerutuannya dan menyenggol bahunya, memberi kode Fika membagikan angpao itu pada para pemain barongsai.  Arfika mendekat dan membagi-bagikan amplop merah itu pada para penari.  “Pulang?” tanyaku saat ia sudah kembali.  Fika menggeleng sambil memberengut saat menatapku.  “Ayolah aku beneran lelah, besok kita masih harus meninjau lokasi dan bangunan.”  “Aku masih mau disini.”  “Kalau begitu kau kutinggal saja.”  “Please, kita disini saja sampai shubuh.” Bujuknya tidak berputus asa. “Aku lihat banyak orang yang menyewa tikar dan duduk-duduk di lapangan sambil menata langit malam, itu luar biasa sekali.”  Duduk di lapangan! Diatas tikar! Kenapa dia tidak menyuruhku masuk peti mati sekalian. Tangannya kembali mengguncang-guncang lenganku setengah memaksa.  “Apaan sih!” aku berseru kesal. Tapi kakiku mengikuti kemana dia melangkah. Kami melewati banyak orang yang duduk-duduk bersama pasangan atau teman masing-masing. Mereka duduk mengelilingi rimbunan pepohonan yang sekelilingnya dipagari dengan bilah bambu yang di cat tiga warna.  Itu pohon cinta. Mitosnya mengatakan jika disanalah lokasi tempat dimana Tan Bun An dan Putri Siti Fatimah melompat setelah membuang guci-guci berisi emas ke dalam sungai.  Dimasa kini banyak pasangan yang datang melukai kulit pohon untuk mengukir nama mereka agar cinta mereka bisa seabadi cinta Tan Bun An dan Siti Fatimah.  Aku mendengus rikuh, jangan bilang Arfika juga mempercayainya.  "Itu pohon cinta kan?” tanyanya penasaran. Aku mengangguk pelan tanpa mengatakan apa-apa. “Kita tebang yuk?”  WHAAAATTT!!! “Fika apa kamu udah gila!?”  Adik tiriku nyengir jahil tanpa rasa dosa, “Habisnya heran deh sama orang-orang yang tega ngelukain pohon cuma demi pengharapan pada mitos konyol.”  Yeah! Harus kuakui dia benar, tapi… “Apa kamu lupa jika pohon sebesar itu bisa menghasilkan banyak oksigen?” kataku, “manfaatnya lebih banyak jika dia tetap hidup dan ada disana. Lagipula aku enggak yakin menebang pohon setua ini tidak dilarang oleh peraturan daerah, kita bisa masuk penjara hanya karena itu, tahu.”  Arfika tertawa, “serius sekali sih, tadi itu aku Cuma bercanda.” Katanya, lalu terdiam dan hanya menatap lurus pada pohon raksasa bercabang banyak itu. Kemudian menggumam pelan, “Iya sih, pohonnya enggak salah. Tapi aku benci mitos.” Sekali lagi kuacak puncak kepalanya. Arfika menoleh kearahku sambil tersenyum, tidak melakukan perlawanan dia hanya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas sandangnya yang ternyata adalah karet rambut dari bahan bulu-bulu. Aku melihat tanda itu saat dia mengikat rambutnya. Bentuknya mirip sulur panjang yang muncul dari bawah telinga kiri sampai ke leher belakang. Selama ini aku tidak pernah melihat itu karena Arfika hampir tidak pernah mengikat rambutnya didepanku. Tak  dapat menahan diri aku mengulurkan tangan untuk menyentuhnya hanya demi meyakinkan jika itu adalah keloid.  Begitu kulit kami bersentuhan Arfika membeku.  “Ini, apa?” pertanyaanku penuh desakan, kebutuhan untuk mendengar kejujuran. Dari reaksi tubuhnya kau tahu ada yang tidak beres dengan bekas lukanya. Arfika berbalik menatapku, kemudian tersenyum. “Bukan apa-apa, ayo kita pulang saja.” Kemudian dia melangkah mendahului aku. Firasatku memburuk, bekas luka itu benar-benar terlihat mengerikan. Apa yang sebenarnya pernah terjadi dan tidak kuketahui. “Fika” aku mengejarnya, berusaha mensejajarkan langkah kami, “katakan padaku, itu bekas luka apa?”  “Hmm… bekas kecelakaan.”  "Kecelakaan?” ulangku bertanya, dahiku berkerut. Aku tidak pernah mendengar kabar dia pernah kecelakaan.  Jika memang dia mengalaminya Andrew Oey pasti tahu, dan jika Andrew tahu, maka Mami pasti tahu. Arfika menghentikan langkahnya, kemudian menengadahkan kepalanya untuk menatap langit bertabur bintang di atas langit malam. Asap pabrik dari perusahaan pupuk didekat sini membuat taburan bintang tidak terlihat sekaya jika kita melihatnya dari tempat yang sepi.  “Dua tahun yang lalu,” dia mulai bercerita dengan suara kaku. “Di Oklahoma, aku mengalami kecelakaan lalu lintas.”  Aku menahan nafasku mendengar pengakuannya.

BOOKMARK