Tambah Bookmark

11

11.Mengakhiri

Pagi harinya aku terbangun oleh suara gedoran pintu apartemenku. Setelah cukup mengabaikannya dan gedoran itu masih tetap terdengar aku memutuskan untuk membukanya.  Aku menoleh sekilas dan melihat Vivianne masih terlelap tidur disebelahku. Dia pasti lelah luar biasa setelah puas marah-marah padaku semalam suntuk.  Sambil tersenyum kurundukkan punggungku untuk mengecup dahinya sebelum beranjak pergi menuju ke pintu terkutuk yang mengacaukan pagi. “YA!!” aku berteriak kasar saat gedoran itu terdengar semakin menjadi-jadi. Aku pasti akan menghajar orang sialan dibalik pintu itu. Pintu terbuka dan aku mematung saat melihat bedebah kurang ajar yang mengetuk pintu kamarku. Kurasa bukan cuma aku yang mematung, pria itu juga melakukan hal yang sama. “Kau mencari kakakmu?” aku bertanya sambil mengurai senyum licikku, “dia masih diatas ranjangku.” Sungguh diluar dugaanku saat dia terlihat –datar-datar saja seakan mengabaikan perkataanku barusan. “Dia bukan kakakku.” Cowok sialan yang dulu pernah hampir kuhajar karena nyaris mematahkan hidungku di , mengaku.  Aku menyeringai, “ya aku tahu.” Dari tatapannya yang tajam aku yakin dia bertanya-tanya tentang pernyataanku. Mungkin ini memang waktunya untuk bermain-main dan menjauhkan semua pria dari sisi Arfika. “Kalau aku bilang aku kakak tirinya, apa kau percaya?” Si koboi tersenyum sinis mendengar kalimatku, “Yang aku tahu, Vianne sangat membenci kakak tirinya, kau tahu.” “Aku tahu!” sambutku cepat, “itu karena dulu aku menjebaknya dalam video mesum yang membuatnya dipindahkan keluar negeri.” Seketika wajah si koboi yang diakui Fika sebagai adik tirinya menegang. Sayangnya itu tidak lama.  “Bukan urusanku.” Katanya singkat sambil mengeluarkan bungkusan kecil dari saku jaket jeans yang dikenakannya. Bentuknya yang pipih membuatku yakin kalau itu adalah bungkusan berisi obat-obatan. “Tolong serahkan ini pada Vianne, bilang  padanya kalau ini titipan dari dokter Reuben.” Aku menerima bungkusan itu dengan dahi berkerut, “namamu Reuben?” aku bertanya. Lelaki berwajah campuran itu menggeleng. “Aku Rendi adik Reuben, kakakku... mantan kekasih Vianne.” Leherku seketika kaku, tenggorokankupun  kelu. Fika punya kekasih? Apa itu pria yang dia bilang harus dia nikahi. “Aku tidak ingin menjelaskan apapun.” Perkataan itu menghentikan keingin tahuanku. Aku mendengus keras, “aku bahkan belum menanyakan apapun padamu.” Bocah itu tersenyum datar. “Ini pil pencegah kehamilan.” Aku tertegun sejenak sebelum kemudian tertawa tidak percaya sambil geleng-geleng kepala. “Buang saja. Aku tidak butuh.” Kulempar kembali bungkusan itu pada si bocah yang masih berdiri didepanku. “Jangan egois, jika tidak ingin terganggu dengan kontrasepsi ini satu-satunya cara untuk mencegah semuanya, Tuan Besar.” Aku memelototi bocah lelaki itu garang. “AKU BILANG AKU TIDAK BUTUH!!” Bentakku kasar. Matanya membesar. “Vivianne harus hamil anakku, jadi bawa pulang saja obat tidak berguna itu.” “Apa kau sudah gila? Untuk apa kau melakukannya?” “Bukan urusanmu.” “Jadi urusanku jika itu membahayakan Vianne?” jawabnya dingin. “Aku tidak tahu apa motifmu, tapi jika itu hanya untuk menyakitinya, tolong jangan lakukan.” Bocah ini benar-benar membuatku naik pitam dengan sikap sok pahlawannya itu. Aku muak.  “SUDAH AKU BILANG BUKAN URUSANMU!!!” “Renno hentikan!” Suara Vivianne terdengar dari arah kamar, dan tahu-tahu saja dia telah berdiri disebelahku hanya dengan gaun tidurnya yang tipis. Tanpa repot-repot melihat dan perduli pada perasaanku dia mengambil bungkusan itu dari tangan adik mantannya. Aku menggumamkan amarah saat menyebut namanya. “Rendi, terimakasih.” Dia berkata lembut, “aku benar-benar butuh ini untuk pencegahan.” Diluar dugaanku semula yang menyangka si bocah akan larut dalam emosi dan kemungkinan besar akan segera menyerangku tidak terbukti. Dia hanya mengangguk sambil menatap gadisku dengan tatapan lunak. “Aku berharap kau berhenti membahayakan dirimu Vianne,” perkataannya lebih mirip himbauan yang disertai kecemasan tersembunyi. “Atau jika tidak bisa, maka beri tahu dia yang sebenarnya...” Jari  telunjuk Arfika menyentuh bibir si bocah, dari bibirnya terdengar tanda suara untuk menghentikan kata-katanya. “Itu akan jadi urusanku, kau jangan khawatir.” Ini... menjijikkan. Cara mereka memperlakukan satu sama lain sangat intim, benar-benar membuatku mual. “Arfika!” kuserukan namanya dalam amarah terpendam, “ayo masuk!” Sekilas dia menoleh dan mengangguk, “sebentar Renno.” Sekilas aku melihat si bocah tersenyum penuh pengertian, “aku akan segera pulang kembali ke Jakarta, tolong jaga dirimu baik-baik Vianne.” Aku tidak pernah merasakan kecemburuan teramat sangat sebelum ini. Tapi jika kecemburuan adalah paduan antara rasa sakit, sesak nafas dan api yang membakar dari luar maka bisa dipastikan aku sedang merasakannya sekarang. Terlebih saat aku melihat Arfika memeluk dan mengecup pipi pemuda itu. Hanya dalam satu kali sentakan dan sedikit tendangan kasar pada pintu apartemen aku berhasil merenggut Arfika dari tangan bocah itu, menyeretnya kembali ketempat tidur “APA-APAAN KAU!?” bentaknya marah. “KAU YANG APA-APAAN.” Balasku tak mau kalah. “C’mon Renno, berhenti bersikap kekanak-kanakan, dia cuma mengantarkan pesananku.” Tanpa rasa dosa Viviaanne Arfika melambai-lambaikan strip obatnya tepat didepan wajahku.  Hanya dengan mengingat kembali fungsi obat itu, amarah kembali membakarku tak terkira. “Kau luar biasa! apa sebegitunya kau enggak menginginkan anak dariku?!” Arfika membelalakkan matanya sesaat. “Renno, berpikirlah secara normal.” Sergahnya dingin, “seks diantara kita adalah koneksi yang alami, kuat dan sangat luar biasa, tapi coba pikirkan jika kita sampai punya anak...” “Aku sudah siap untuk itu.” potongku cepat. “Vivianna Arfika, aku tidak pernah menginginkan ini sebelumnya...” kuhentikan kalimat itu hanya untuk menatapnya lurus dan dalam, “mari kita menjadi orangtua bagi anak-anak hebat yang bisa kita miliki bersama, sayang.” “Kita bangun rumah di...” dahiku mengernyit, memikirkan banyak lokasi dan gambaran rumah ideal untuk keluarga bahagia yang akan kami bina, “dimanapun kau mau, sayang.”

BOOKMARK