Tambah Bookmark

12

12. Melangkah diatas pelangi

Vivianne POV  “Sudah kubilang ini pasti akan terjadi, kapan kau akan mendengarkan aku Fika.”Omelan itu, terdengar samar-samar diantara hentakan suara music dari atas panggung utama. Aku mengabaikan orang yang mengoceh didepanku itu, bereaksi hanya dengan terkikik geli melihat bagaimana lucunya Chantelle saat ini. “Kau mabuk.” Tuduhnya geram. “Kau lucu.” Aku balik menunjuk kearahnya, kemudian terkikik lagi. “Demi Tuhan!! Apa ini artinya aku harus kembali menggendongmu  sampai ke apartemen?” Aku terkikik mendengar keluhan si lamban Chantelle yang terdengar dramatis.Aku hanya berpura-pura mabuk hanya demi membuatnya kesal, setidaknya kekesalan Chantelle bisa manjadi hiburan untukku saat ini. “Dia akan pulang bersamaku...” suara tegas bernada lembut yang menyela dari arah belakang membuatku tersenyum. “Renno!!” “Oh! wanita satu ini benar-benar gila kalau sudah mabuk. Dia bukan Renno, dia Reuben.” Ya! tentu aku tahu siapa orangnya. Wajah itu terlalu familiar bagiku, dirinya pernah jadi inti dariku, dan andai aku lebih dulu mengenalnya bisa kupastikan aku akan berakhir dengannya dan menuliskan, dibatu nisan makamku kelak. Aku menatap wajah innocentnya yang kekanakan, ciri fisik yang dia dapat dari darah campuran sunda, arab dan spanyol dari ayahnya. Ide usil itu terbetik dikepalaku. Ini bagian permainan yang lain lagi. Menguji batas kesabaran Reuben selalu akan jadi hal mengasyikkan untukku. “Reu... siapa??” tanyaku seraya mengerjabkan mata. “Reuben.” “Oh!Aku tidak mengingatnya.” “Kal.” Lagi-lagi suara itu menyela, “aku akan membawamu pulang.” “Oke!” Bawa saja, siapapun boleh membawaku selama dia bisa menghibur.Kuulurkan kedua lenganku padanya dan membisikkan kata ‘gigolo’ ditelinganya cuma untuk memanaskan suasana hatinya. Dulu hanya dengan melakukan itu dia akan langsung terangsang dan menerjang, tapi sekarang…ya ampun, aku bersama tuan menyebalkan nan membosankan. Hmmm…aku rindu dipukuli lagi. Menonton sambil tertawa saat ia dengan sabar menempatkan aku dipunggungnya dan berpamitan pada Chantelle. “Jangan memainkan gaya denganku, oke!” Kukatakan itu seraya menjambak rambut pria yang menggendongku. Aku bisa mendengar suara tawa tertahannya yang penuh ironi. Meski tidak tahu apa yang ia tertawakan. “Sekarang kembali jadi dirimu Kal, aku tahu kamu enggak mabuk.” “Issshhhh…” aku mendesis sambil berupaya melompat turun dari gendongannya, tapi cekalan tangannya begitu kuat mengapit kakiku. “Kal!...” suaranya memanggilku, memperingatkan dengan cara yang serupa seperti dulu. Panggilan itu membuatku rindu. Dia satu-satunya orang yang memanggilku begitu. Satu orang yang dikehidupan lalu pernah mendominasi pikiranku, memanipulasinya dari dendam dan kemudian memurnikannya dengan belajar memaafkan. Reuben pernah menorehkan luka paling dalam dari semua luka yang kurasa, sampai setelahnya semua luka lainnya bagai goresan kecil ditepian luka yang membusuk dan bernanah. Aku mencium tengkuknya lembut, menghirup aroma citrusnya yang membaur bersama keringatnya. “Reuben..” panggilku. “Ya?” “Kamu jelek,” “Dan?” “Sialan,” “Lalu?” “Tukang perkosa...” Dia terdiam lama kemudian menghela nafas panjang yang terdengar sangat berat. Lelah menanti respon yang tidak kunjung kudapat aku  menenggelamkan kepalaku dilekuk leher dan bahunya dan menangis diam-diam. “Tolong kamu perkosa aku sekali lagi,” pintaku lirih diantara tangis. “Kemudian bunuh.” “KAL!!” “Dia minta yang enggak mungkin aku bisa kasih lagi.” Seketika kurasakan bahunya tegang, dan aku tahu jika dia mengerti arah pembicaraanku. “Mau aku bantu bicara sama Renno?” tawarnya bijak. Aku menggeleng. “Kalo gitu mau denger saran aku?” tanyanya lembut. Masih dengan kepala menempel dibahunya aku mengangguk. “Lupain dia.” Melupakan Renno? “andai bisa pasti sudah kulakukan.” Sekali lagi kudengar dia menghela nafas sebelum berat. “, Kal.” Bisiknya mengejutkanku. Reuben selalu bisa mengatakan hal-hal yang membuat aku sedih karena tidak mampu membalasnya. Dengan hati-hati dia menurunkanku dari punggungnya. Kemudian berbalik menatapku lurus-lurus. “Biarin aku bertanggung jawab untuk semua kesalahanku dulu.” Dia kembali memohon, “aku akan kasih semuanya sama kamu jika kamu kembali terima aku.” “Reu..” desahku miris, dari dulu kamukan tahu kemana hatiku tertuju, aku enggak mau ada salah satu dari kita yang terluka lagi...” kujatuhkan kepalaku kedadanya, dan memeluknya tepat dipinggang. “Aku sayang kamu Reu…” isakku pelan “aku udah janji kita bakal nikah, tapi… hati enggak bisa dibohongi, hati aku ada di dia, cuma mau dia, dan aku beneran enggak tahu cara untuk ngebawanya lagi secara utuh. buat kamu.” .................... Aku tidak ingat bagaimana aku mengakhiri malam. Tapi aku memulai pagi dengan mengerang dan berguling-guling diatas tempat tidurku. Kepala pusing karena dan perut sakit karena panggilan alam adalah paduan yang sama sekali tidak nikmat untuk memulai pagi. “Bangun, Kal. Ini sudah pagi.” Oh! Tuhan. Entah ini sudah kali keberapa  dalam minggu ini aku terbangun dan mendengar suara serak Reuben sebagai suara pertama yang kudengar. Aku meringkuk sambil memegangi perut, entah kenapa panggilan alam kali ini benar-benar aneh rasanya. Sakit sekali. “Kamu kenapa, Kal?” “Reu, perutku sakit sekali.” keluhku sambil membuka mata sedikit. Reuben berdiri dihadapanku dengan kemeja kusut, aku yakin dia tidak pulang semalam karena sibuk denganku. Aku mengabaikannya dan kembali mengerang kesakitan. Merasakan tarikan selimut, mungkin Reuben berniat menyeretku ke kamar mandi sebelum aku terlanjur diatas tempat tidur. “Kal...” aku mendengar kepanikan dalam panggilan Reuben. “Aaaaa... Reu, sakiiitttt...” rintihku tanpa bisa ditahan lagi. “Kal... kita harus kerumah sakit. Sekarang!” ................ “Kamu hamil empat belas minggu.” Aku ternganga tidak percaya, dihadapanku Reuben memandang cemas. “Ba-bagaimana...” pertanyaan itu terhenti, sesuatu melintasi ingatanku, membuat kerongkonganku kering.

BOOKMARK