Tambah Bookmark

13

13. Kejutan

Renno POV Malam Jumat pertama setiap bulan adalah jadwal wajib pertemuan bulanan para member. Diluar kebiasaan, Wega mengatur pertemuan kami di apartemennya. Dan yang mengherankan tidak ada siapa-siapa selain sebelas orang member yang datang kesana. Einer memasang wajah cemberutnya saat menyadari jika malam ini akan menjadi acara main pedang-pedangan sesama cowok. Sementara kulihat Rensa justru bisa menghela nafas lega. “Oke, beri ucapan selamat padaku.” Wega memasang wajah sumringahnya bukan tanpa alasan. Dia baru saja usai menandatangani kontrak pranikah dengan Vanilla. Jika saja dia cewek aku yakin dia pasti akan menghiasi apartemennya dengan pernak-pernik berwarna pink sesuai dengan suasana hatinya yang –menurut pengakuannya- luar biasa bahagia. “Bulan depan aku akan menikah.” Seluruh ruangan dipenuhi dengan seruan, gumaman dan tepuk tangan. Kevin serta Robin memberikan tanggapan dengan menyiramkan sampanye dari botol yang sudah di kocok terus menerus sejak tadi, semuanya berkat bisikan dari Theo yang menjadi saksi bersamaku saat kontrak dibuat. Pusat dunia teralih pada Wega dan itu sedikit melegakan, aku menyelinap menuju teras luar dengan sebotol vodka ditangan. Aku tidak ingin sibuk bergabung dalam barisan pemberi ucapan selamat padanya karena beberapa hari yang lalu aku –nyaris- ratusan kali dipaksa olehnya mengucapkan selamat. Lagipula suasana bahagia sedang tidak cocok denganku saat ini. “Galau?” “Dasar pengacau,” balasku pada suara yang mengusikku dari arah belakang, siapa lagi kalau bukan Rensa. Aku menoleh kearahnya yang menatapku dengan alis terangkat separuh. Matanya menatapku prihatin. Mungkin kedatangannya tidak buruk-buruk amat, aku bisa sedikit meminta bantuannya tentu saja. “Aku butuh ‘pandanganmu’,” kataku memohon dengan malas. “Temui dia.” “Cuma itu?” “Segalanya akan dimulai, atau justru diakhiri jika kau kembali menemuinya.” “Cuma itu?” aku bertanya satu kali lagi, “dan semua orang menyebutmu cenayang hebat? Pensiun saja sana.” Aku mendengar tawa mengejeknya, “Arfika sedang sakit.” Tidak mungkin. Aku tersenyum sekilas. “Jangan buat aku tertawa,” kataku datar. “Jika kau tidak segera menemuinya, kau akan sangat menyesal Renno Wardhana, aku memastikan begitu.” Tanpa penjelasan apa-apa lagi, begitu saja Rensa kembali masuk ke dalam apartemen. Meninggalkan aku sendirian dan kebingungan. Aku menghela nafas panjang dan kembali hendak bergegas melangkah ke dalam, tapi sesuatu menahanku. Kuangkat ponselku tepat pada reffrein lagu. Itu panggilan khusus dari Delon. “Ya, ada apa?” aku langsung bertanya begitu kami tersambung. katanya datar. “Ya! Lalu?” kutanyakan itu karena apa yang disampaikannya padaku masih belum kukatahui korelasinya. ................... Jika dia menipuku, aku akan membunuhnya. Oke, aku yakin Rensa pasti akan segera kabur sebelum aku melakukan itu, tapi aku tetap akan melakukannya. Aku memikirkan seribu cara untuk membunuh Rensa jika dia sampai salah memberiku informasi tentang Arfika. Tapi andai Rensa salah, tentu Arfika tidak akan mengajukan pengunduran diri disaat yang sama. Sambil terus melangkah aku menjambak rambutku. Berharap jika sekarang ramalan Rensa salah dan tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada Arfika. Kakiku melangkah tanpa bimbingan pikiran menuju ke apartemen dimana adik tiriku itu tinggal. Unit nomor 203 di lantai 15 adalah istana kecilnya. Dan aku berdiri menatap ke arah pintu dengan separuh keyakinan. Menguatkan hati aku menekan bel. Satu kali. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Berkali-kali aku menekan bel itu, dan sama sekali tidak mendapatkan reaksi apapun. Didalam sana dia mungkin melihatku. Tapi tidak ingin membukakan pintunya. Fika pasti sangat marah dan membenciku. Dia pasti ingin membuatku gila, memohon atau justru terpuruk. Bagai orang gila aku menekan bel secara bertubi-tubi. Arah pikiranku berkecamuk kesana-kemari. Tidak masalah jika Fika membenciku. Tapi, bagaimana jika ramalan Rensa benar, dan Arfika... sekarat. Aku baru saja hendak menggedor pintu dengan lenganku saat secara tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang muncul dari baliknya, membuatku terkejut karena faktanya dia bukanlah Arfika. Orang itu lelaki. Tampan dan memancarkan kharisma dewa cahaya. Jantungku berdenyut kesakitan, rasanya sekarang justru aku yang sekarat. Tolong jangan bilang jika dia pacar baru Arfika. “Bung...” sapanya padaku. “Pemiliknya sedang tidak di tempat.” Aku menatap nanar padanya, masih belum sepenuhnya bisa menguasai keterkejutan. Wajah yang sama terasa familiar denganku sebelumnya. Lelaki dihadapanku mengingatkan pada bocah remaja yang pernah meninju hidungku. Dia... “Aku Reuben...” Reuben! Mantan kekasih Arfika. Haaa... bagus..., apa mereka tinggal bersama sekarang? berkat ramalan palsunya Rensa akan segera mati.  “Dimana Fika?” tanyaku dingin, sama sekali tidak ingin repot-repot menunjukkan sopan santun. “Di rumah sakit.” Serangan rasa dingin membuatku mati rasa. “Apa dia... sesuatu... terjadi?” ketakutan membuatku tidak mampu berkata-kata. Mata tajam pria dihadapanku terlihat muram. “Kita harus bicara.” Katanya yang segera saja kusetujui. ............... Aku dan mantan kekasih dari wanita yang kucinta duduk bersama pada sebuah kafetaria sambil menikmati minuman kami masing-masing. Pertemuan ini terasa canggung.  Aku tidak tahu sekiranya apa yang membuatku tertarik untuk duduk-duduk minum kopi bersama pria yang kemungkinan besar adalah dia yang di cintai oleh wanita yang aku cinta. “Apa Fika pernah bercerita tentang aku padamu?”  dia bertanya padaku secara tak terduga. Kugelengkan kepalaku perlahan. Kulihat dia tertawa sekilas. “Dan aku harus mendengar ocehannya tentangmu selama kami tinggal bersama di Amerika.” Membayangkan, jika mereka pernah tinggal bersama sungguh membuatku kesal. Aku menatap malas sebagai tanggapan pada lelaki itu. Tapi dia bilang apa tadi? Fakta jika Arfika banyak mengocehkan tentang aku selama dia tinggal di Amerika? Hmmm... itu artinya apa? “Butuh waktu lama bagiku untuk mengubah arah hatinya dan di saat aku berhasil semuanya harus berakhir...” “Apa aku harus mendengarkan omong kosongmu?” aku bertanya sinis akibat tidak tahan mendengar curhatan menjijikkan itu.

BOOKMARK