Tambah Bookmark

14

14. Berbunga-bunga

Renno Pov Fika hamil!! Informasi itu terkoneksi dengan nalarku membentuk suatu kesimpulan, setelah Theo bicara. Segera setelahnya aku hanya mampu berdiri tak bergeming di tempatku berada. Seribu uraian pertanyaan mengikuti dua kata itu. Tentang, kenapa dia menyembunyikan ini dariku? Kenapa dia seakan tidak ingin aku tahu? Apa karena itu anak dari mantan kekasihnya? Atau justru karena itu... anakku? Aku benar-benar tidak mengerti apa alasannya. Pintu terbuka, dan dia, si wanita hamil keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah seputih kertas. Aku menelan ludah untuk menyembunyikan perasaanku saat ada dihadapannya. “Kau...” aku bingung mau menanyakan apa, “aku antar kau pulang.” Tegasku, menelan mentah-mentah pertanyaan yang belum sanggup aku tanyakan. Aku tidak sanggup menerima seandainya dia bilang jika itu bukan anakku. Tidak, aku tidak bisa menerimanya. “Aku pulang sendiri saja...” sahutnya lesu. Kugelengkan kepala sebagai jawaban. “Enggak, aku harus memastikan sesuatu.” Fika menatapku bingung. “A-apa?” Dia gugup. Aku melihatnya. Aku tersenyum sekilas dan menarik nafas dalam-dalam, kemudian membungkukkan tubuhku untuk meraih ponsel yang tadi terjatuh. “Aku harus memastikan kau sampai dengan selamat di apartemen.” “Aku akan hubungi Reuben...” “Apa dia tidak bekerja?” tanyaku. “Dia dokterkan? Dia pasti sibuk sekali.” “Kau jauh lebih sibuk darinya, Kak.” “Tapi perusahaan ini milikku sendiri, tidak ada yang akan berani menegurku jika aku meninggalkan tugas-tugasku.” Tegasku. Arfika terdiam, tahu jika pada akhirnya dia tidak akan pernah menang melawanku. Aku tersenyum lagi dan merengkuh bahunya dalam jangkauan tanganku. “Ayo..” kataku sambil pelan-pelan membimbing langkahnya menuju keluar ruang kerjaku. Kami melangkah bersama dan saling berdiam diri. Arfika sepertinya terlalu lesu untuk bicara apapun. Sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Saat kami tiba di lobi, dalam kepalaku sudah tersusun rencana-rencana untuk mengetahui anak siapa yang dia kandung. Aku tidak ingin salah duga dan membuat kesalahan lagi seperti yang sudah-sudah. Jika memang itu anakku, bisa kupastikan Arfika akan terus berurusan denganku seumur hidupnya. Tidak akan ada kompromi lagi, dan aku akan menendang semua pria didekatnya ke samudera Pasifik. Terutama dokter sado yang satu itu. Yah! aku akan melakukannya satu persatu. Kami tiba di apartemennya kurang dari satu jam perjalanan. Fika tertidur dalam mobil saat aku tiba di parkiran basement. Pada awalnya aku berusaha untuk membangunkannya, tapi karena Fika tak bergeming aku terpaksa membawa naik dengan cara kuno, menggendong dengan gaya sementara tanganku yang lain menyelipkan tasnya ke leherku. Ini sedikit agak merepotkan, tapi kurasa akan sepadan jika pada akhirnya aku bisa mencari cara untuk menemukan bukti-bukti kehamilan Fika. Masih dengan kepayahan aku membuka pintu apartemen dengan sandi rahasianya. Sebenarnya tidak terlalu rahasia untukku karena Fika pernah mengatakan jika dia sedikit narcis sehingga menggunakan ukuran size bra dan sepatu sebagai nomor kombinasi dari berbagai password untuk berbagai program yang dia kenakan. Entah itu sekedar pin atm, password kode akses laptop pribadi maupun brankas kantornya. Semuanya menggunakan angka tiga enam tiga sembilan. Dia tidak pernah memberi tahuku nomor kombinasi itu, tapi pengalaman selama bertahun-tahun menjadi playboy mengajarkanku untuk mengetahui ukuran apapun yang berkenaan dengan tubuh wanita hanya dengan menyentuh atau melihat. Aku mendengus saat pintu apartemen tanpa perlawanan terbuka lebar sehingga aku bisa membawa Arfika langsung masuk ke kamarnya setelah terlebih dulu melempar tas di leherku ke sofa tamu. Kubaringkan dia di atas ranjang dengan hati-hati kemudian aku bergegas kembali keruang tamu untuk melakukan hal yang sejak tadi sangat ingin aku lakukan. Tas Arfika menunggu untuk digeledah, dengan efisien aku mencoba untuk menemukan segala bukti yang bisa aku dapat. Aku putus asa saat tidak menemukan apa-apa, tapi kemudian sesuatu menarik perhatianku. Benda itu ponsel Arfika. Setelah memasukkan semua barang pribadinya yang kukeluarkan aku meraih ponsel dan membukanya. Dan foto pada layarnya membuat aku satu kali lagi membeku. ......... Arfika POV Aku terbangun dengan rasa lelah luar biasa. bahkan setelah tertidur sampai puas mataku masih belum sudi untuk terbuka lebar. Tapi aroma yang tercium itu benar-benar membuat cacing-cacing dalam perutku unjuk rasa. Aku tersenyum seraya membiarkan tanganku mengelus perut,tempat dimana janin kecilku bersemayam. Seorang anak adalah alasan terbesar bagi ibunya untuk berhenti bermalas-malasan dan mulai mencari apa yang bisa dimakan, pikirku dalam hati seraya bangkit dan duduk sejenak di ranjangku. Seingatku tadi aku pulang diantar Renno, apa dia masih di sini? Pertanyaan itu membuatku mati penasaran dan dengan antusias segera turun dari tempat tidur dan melangkah menuju ke . Menemukan dia ada di sana, membuat hatiku berbunga-bunga. Entah kenapa, tapi rasanya aku benar-benar bahagia ada di dekatku. Ah! Ini pasti karena aku sedang hamil anaknya. Dia mengangkat kepala dan menoleh kearahku. Dahinya berkerut sekilas. “Sudah bangun?” tanyanya sedikit keheranan. “Aku lapar.” Kataku, menghampiri dan duduk di kursi tinggi yang ada tepat di depan meja . “Kau masak apa?” Renno menggaruk-garuk dahinya dan terlihat serba salah. “Aku tidak memasak, aku memesan ini di restoran langgananku karena tidak menemukan apa yang cukup bergizi untuk wanita ehmm... pengidap anemia.” , sampai sejauh ini dia masih percaya aku anemia. Aku tersenyum dan sedikit berbangga hati karena kebohonganku yang luar biasa itu, ehmm sebenarnya aku juga enggak bohong-bohong amat. Wanita hamil memang rentan terkena anemia-kan? “Itu apa?” aku menunjuk ke microwave yang menyala. “Bebek Peking, kamu mau?” Aku menelan ludah sambil mengangguk. Biasanya aku paling benci aroma masakan daging-dagingan, tapi sekarang... Mungkin anakku tahu jika yang menyediakan makanan untuknya adalah Papanya sendiri. Dengan cekatan Renno mengeluarkan piring kaca berisi potongan-potongan lezat bebek Peking dari dalam microwave. Aromanya benar-benar menggugah selera. Dengan sumpit Renno mengacak-acak potongan itu dan menjepit salah satunya dan meniupnya dengan sabar sampai itu jadi tidak terlalu panas lagi. Kemudian dia menyuapkannya untukku. “Enak!” seruku kaget. “Bebek Peking beli di mana sih? Aku pernah makan tapi kok enggak seenak ini?” Dia hanya tersenyum sambil menyebutkan nama restoran terkemuka di sebuah hotel bintang lima. Sekali lagi dia membuatku terkejut karena restoran itu juga langgananku jika ingin makan bebek Peking. Aku menatap kebingungan padanya, seraya bertanya-tanya kenapa cuma dengan kehadirannya saja semuanya jadi terasa lebih mudah untukku. Aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa merasa gelisah. Juga apa yang kumakan jadi terasa lebih lezat. Aaaaahhh... jangan bilang ini gara-gara aku lagi hamil anaknya. Gerutuku dalam hati. Renno terus menyuapi aku sambil terus bicara jika aku harus banyak makan. “Vian!” seruannya membuatku menghentikan kunyahanku sejenak hanya untuk menatapnya. “Hmmmm??” aku hanya mengatakan itu karena  mulutku masih penuh berisi potongan daging bebek.

BOOKMARK