Tambah Bookmark

15

15. Ikatan

Ini sudah masuk bulan ke tujuh usia kandungan Arfika. Selama kehamilannya, aku benar-benar jadi budak kekasihku tercinta, Vivianna Arfika. Aku bahkan tak punya waktu untuk berkumpul bersama teman-temanku karena terlalu sibuk mengurusi Fika dan kehamilannya. Secara umum tugasku hanyalah sibuk memegangi pispot penampung muntahannya yang terpaksa aku beli karena tak tega dan lelah- melihatnya harus bolak-balik kamar mandi untuk mengeluarkan isi perut. Aku tidak mengerti kenapa sampai masuk trisemester terakhir mual muntahnya tak kunjung reda. Aku terus berpikir serius tentang kenapa kehamilan harus diawali dengan muntah-muntah. Bukan dengan hal lain yang lebih menyenangkan. Dasar hormon kacau brengsek!! Padahal menurut tulisan pada sebuah blog  tentang kehamilan yang kubaca, kelebihan hormon pada wanita hamil menyebabkan tingginya libido, dan itu artinya ... seks. Tapi kenapa itu tak terjadi pada Fika??? Apa ada yang salah padanya??? Kenapa dia hanya muntah-muntah dan tak menginginkan seks??? Theo menertawakan aku ketika aku mengutarakan hal itu padanya. “Kau masih sempat memikirkan hal itu sekarang?” katanya geli. Aku menghela nafas panjang dengan lelah. “Aku hanya heran, makanya kutanyakan ini padamu, kau kan dokter.” “Sorry, aku dokter umum bukan genekolog” “, aku butuh pendapat dan saran” “Yang bisa kukatakan hanyalah, kehamilan pada setiap orang itu berbeda dan itu disebabkan tingkat stres yang berbeda pula. Melihat latar belakang proses kehamilannya aku yakin Fika memendam ketakutan tertentu dengan kehamilan ini.” “Yeah!” kataku. “Dia pernah menyinggung tentang keinginan untuk jadi reptil yang bertelur.” Theo tertawa lagi “Kalau begitu kau harus lebih banyak bersabar, dan lebih banyak membuatnya bahagia, menurut sebuah penelitian keadaan psikis ibunya mempengaruhii pertumbuhan mental janin. Jadi kalau Fika memiliki ketakutan dalam menerima kehamilannya bisa-bisa anakmu kelak tumbuh menjadi anak yang sensitif dan rendah percaya dirinya.” Aku terdiam lama mencerna penjelasannya itu. “Kau harus menyenangkan hatinya, hindarkan dia dari rasa tak nyaman, dengan begitu keadaan mentalnya menjadi lebih baik” Aku mengangguk-angguk paham. “Ngomong-ngomong kapan pernikahanmu?” Aku mengangkat bahu sekilas “Entahlah! Fika tidak ingin aku berlutut melamarnya, jadi kemungkinannya akulah yang harus menunggu dia berlutut melamarku.” Theo terkekeh mendengar jawabanku. “Kalau begitu semoga kau bisa menjadi Ayah yang baik.” Ucapnya tulus. Aku tersenyum padanya “Thanks,” kataku sambil mengangkat gelas berisi Dry Martini pesananku. ...... Karena baru bisa pergi lewat tengah malam ke klub aku baru kembali menjelang dini hari. Begitu aku membuka pintu kamar aku menemukan Fika masih tertidur nyenyak. Dengan hati-hati aku menutup pintu kamar dan berusaha melangkah tanpa menimbulkan suara. Sambil terus memperhatikannya aku melepaskan jas dan menaruhnya kesandaran sofa. Kemudian aku mendekat keranjang, berusaha untuk tak menimbulkan banyak gerakan aku duduk disisi ranjang dekatnya. Syukurlah ia tak terusik dengan kedatanganku aku tak dapat membayangkan betapa rewelnya Fika kalau sudah bangun. Dokter kandungan tempat Fika berkonsultasi menyatakan kemungkinan untuk melakukan bedah cesar lebih dini untuk mencegah robekan rahim dari bekas jaringan parut yang terjadi akibat gaya hidup sado masokis yang dulu dia terapkan bersama si bodoh dokter boyband. Ada batas peregangan rahim yang masih bisa ditolerir tetapi untuk menunggu sampai kandungan cukup usia rasanya agak sulit. Ini juga karena faktor luka yang berupa sayatan vertikal lebih besar resikonya ketimbang sayatan seperti bekas operasi cesar. Harus kuakui jika aku agak sedikit merasa cemas sekarang tapi ini tak terhindarkan dan harus tetap kami lewati. Orangtua kami masing-masing sudah tahu kehamilan Fika, seperti biasa reaksi Mami adalah marah-marah padaku, sementara Andrew bersikap lebih tenang dan menyerahkan semuanya pada kami yang menjalaninya. Ayah Fika jelas lebih bersemangat dibanding ibuku saat tahu dia akan punya cucu. Yang kukagumi darinya adalah rasa sayangnya pada Arfika yang berlimpah meski cinta yang sama tidak pernah ia limpahkan pada ibu kekasihku itu dulunya. Andrew secara rutin akan ikut setiap kami akan memeriksakan kandungan, dia bahkan menyimpan semua hasil cetak USG calon anak kami dalam sebuah album khusus.      Aku tersenyum pelan dan merasa geli sendiri memikirkan apa yang terjadi sekarang. Kehidupan terasa jauh lebih baik setelah aku sadar akan punya anak. Sambil memperhatikan pipi Arfika yang sedikit tirus sejak dia hamil aku membelainya perlahan. Sangat sulit untuk membujuknya menelan makanan. Hanya berhasil kalau yang kusuapkan padanya adalah sepotong coklat. Aku menyentuh perut besar Arfika dengan hati-hati, lalu mengusapnya perlahan “Bersabarlah nak” bisikku pelan, “dengan coklat.” Mendadak lampu tidur kamar menyala dengan kaget aku menjauhkan diri dari dekat perutnya. “Coklat?” Fika bergumam sambil mengucek-ucek mata dengan suara mengantuk. Aku mengatur nafasku supaya lebih teratur “kau ini mengagetkan sekali” gumamku. “Aku dengar tadi kau menyebut-nyebut soal coklat ,” ulangnya. “Eh...itu..”aku memutar otak untuk mencari alasan. “Aku berencana mengajakmu membeli cake coklat dan minuman dari coklat putih untukmu, tapi kukira kau sudah tidur jadi aku baru akan memesannya besok” “Uuhhh ... besok,” gumamnya pelan kemudian dia kembali meringkuk miring diatas ranjang, sambil memegangi jemariku dan mempermainkannya. “Aku kangen,” akunya dengan mata terpejam. “Nggak ada baumu rasanya tidak enak” Bau... aku bau...??? “Anak ini membuatku jadi aneh-aneh” gumamnya lagi “kalau tak mencium bau tubuhmu sebentar saja dia membuatku merindukanmu.” Fika tersenyum pelan masih sambil memejamkan mata. Aku ikut tersenyum sambil menggaruk dahiku, bingung harus berkomentar apa dengan pengakuannya itu. Tapi itu membuat hatiku menghangat. “Akukan ayahnya” kataku pelan “Dia tahu aku menyayanginya” ‘Ya benar” sahutnya dengan suara mengantuk Fika kemudian berbalik lagi,kulihat matanya sudah terpejam rapat dan sedetik setelahnya bisa kudengar suara dengkuran halusnya. Tangan kananku kembali terulur keperutnya membelainya dengan lembut berusaha untuk tak mengusiknya. Jadi mahluk kecil di dalam sana tahu kalau aku menginginkannya. Dan si kecil selalu merindukanku setiap saat. Aku tersenyum lagi. Tidak pernah kuduga jika akan sebahagia ini rasanya menjadi ayah. Lebih bahagia dari memiliki segalanya di dunia. Aku tak pernah tahu kalau ada perasaan seperti ini sebelumnya, dan aku tak tahu kenapa bisa begini. Mungkin karena mahkluk kecil di dalam sana sangat berarti untukku. Karena dia satu-satunya hal yang mutlak menjadi milikku sejak dia ada. Tak sama dengan semua kemewahan yang menjadi milikku karena pemberian keluargaku. Hanya sebanding dengan besar cinta ibunya untukku, aku harap janin mungil di dalam sana kelak menerimaku apa adanya. Sebagaimana dia tahu aku ayahnya, dan aku menginginkannya bahkan sebelum dia ada di rahim ibunya. Aku berdoa agar kelak dia tahu bahwa dia terhubung padaku lewat pertalian tak kasat mata yang menghubungkan jiwanya pada jiwaku dan itu memperjelas ikatan antara kami berdua. Anakku .... .......

BOOKMARK