Tambah Bookmark

16

Xtra : Hari untuk dikenang

“Hentikan, kegilaanmu dan cepat kembali duduk ditempat yang benar.” Perintah itu terdengar , dan tidak ada yang bisa memerintahku selain satu orang saja di dunia ini. Aku menggerutu pelan tapi beranjak dari tempat nyamanku, diantara sepasang kaki jenjang nan mulus milik kekasihku dan bergegas keluar dari kolong meja kerja kami. Sambil mendengus aku merapikan kembali jas-ku dan duduk ditepian meja menatap Fika yang masih sibuk dengan laptopnya. “Kau dingin sekali,” gerutu tak percaya, “apa aku sudah tidak cukup menggairahkan lagi bagimu?” Suara kekehan tawa Fika mengandung ejekan untukku, dia bahkan menatapku sekilas dari balik kaca mata yang ia kenakan, “Ya Tuhan, kau menggerutu seperti istri yang nggak disayang …” Mencibirnya sekilas aku kemudian menundukkan kepalaku untuk mengecup dahinya pelan, “aku lebih buruk dari itu,” gumamku lirih. “Aku bahkan tidak punya status spesial itu untuk dibanggakan.” Sebelah alis Fika terangkat, tapi kemudian dia memilih untuk diam saja. “Vi, kapan kamu mau ngelamar aku?” Fika menjawab pertanyaanku dengan tawa panjangnya yang berirama. “Entahlah, aku belum tahu … mungkin sepuluh atau duapuluh tahun lagi.” Kuhela nafas sambil tersenyum pahit. Beginilah dia, selalu menganggap semua kata-kataku adalah lelucon. Aku enggan untuk mendesaknya. Dari pengalaman yang sudah-sudah, desakanku malah membawa kami dalam suasana perang dingin yang sungguh enggak ingin kurasakan kembali. “Tanpa pernikahanpun kau memiliku, sayang. Kita bahkan punya Enzo sebagai pengikat hubungan ini, aku tidak melihat di mana kurangnya kebersamaan ini.” Insensitif! Itulah dia. Fika agai tidak pernah menyadari jika ketidaknyamananku ada pada fakta bahwa, setelah menjadi ibu dari anakku, Vivianna Arfika masih belum bisa menjadi istriku. Aku merasa bagai warga Negara kelas dua yang tingkatnya jauh berada dibawah Enzo, anak kami. Jika kami berkumpul bertiga, aku menyadari jika Enzo adalah milik Fika tapi aku bukan miliknya, bukan seseorang yang punya ikatan secara hukum padanya. Rasanya benar-benar konyol, jika berpikir untuk aset dengan nilai puluhan juta saja aku punya bukti kepemilikan secara hukum, tapi pada hal sepenting Fika dan Enzo aku tidak memiliki itu. Aku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Suara tawa dari halaman belakang yang terhubung langsung dengan ruang kerja kami berdua mengusik lamunanku. Putraku tertawa-tawa riang dengan dokter Sado yang sedang berusaha membujuknya untuk mau diajak kedokter gigi.  Reu berperan besar membantuku pada hari-hari pertama setelah kelahiran Enzo. Harus kuakui diluar perilaku menyimpangnya, dia bisa bersikap padaku yang selalu saja bersikap jauh dari keramahan padanya. Tapi sekarang ketusnya sikapku bukan lagi yang mendominasi. Aku bahkan merasa terancam setengah mati melihat Enzo bermain bersama Reuben. “Kau tahu, aku menerima ini tadi …” suara Fika mengalihkan perhatianku sejenak. Ditangannya ada sebuah undangan putih tebal dengan inisial R dan V, aku menerimanya kemudian menyeringai jahat. Ini pasti undangan dari dokter Sado, akhir-akhir ini aku sering mendengar Fika bercerita jika Reu berkencan dengan teman seprofesinya. “Kau boleh merasa aman sekarang.” Fika tersenyum penuh arti. “Huh! Bahkan dia mencari istri dengan inisial nama yang sama denganmu …” aku melirik sebal kehalaman belakang. Fika membelalakkan matanya tidak percaya, “Don’t be childish, sayaaanggg … kau lihat sajalah.” “Nggak perlu” potongku kesal sambil membating undangan itu keatas meja dan melangkah menuju pintu jepang yang mengarah kehalaman belakang, untuk mengambil Pangeran kecilku dari pria sialan yang bahkan mencuri start dengan lebih dulu menikah dariku. ………. “Kamu enggak harus bersikap kasar sama Reu, kan?” Fika mengatakan itu padaku malam harinya. Ekspresi wajahnya menunjukkan kekesalan luar biasa. “Aku enggak kasar, aku hanya menunjukkan batas wilayahku padanya … itu hukum alam yang diketahui semua pejantan, ini seperti singa yang menandai wilayahnya dengan menggesekkan tubuhnya kepohon atau harimau yang mengencingi betinanya.” “Uhhh … kau bukan Singa dan bahkan harimau tidak mengencingi betinanya, harimau betina akan membunuhnya jika dia sampai melakukan itu.  Kau … eh mmm …” “Apa? Aku apa? Kau bahkan tidak menemukan kalimat yang tepat untuk menggambarkan peranku kan?” “Renno jangan mulai mengajakku bertengkar,” katanya dingin. “Atau kau akan menyesal.” “Aku tidak akan menyesal,” balasku tak kalah dingin, mencoba menunjukkan kuasa. Fika mengangguk-angguk perlahan, wajahnya datar, dan sinar matanya menunjukkan kemarahan yang mengancam. “Fine!” sahutnya, sambil menarik bantal dari sebelahku, “malam ini kau tidur sendiri, aku mengungsi kekamar Enzo.” SIAL!! Aku benci tidur sendiri. Cepat kucekal lengannya sebelum Fika keburu kabur dari sisiku. “Tidak! Tidak sayang.., maafkan aku … aku benar-benar menyesal untuk kekacauan ini. Jangan marah, kumohon jangan marah Vivian, aku janji akan minta maaf pada Reuben besok. Tidak, malam ini detik ini juga, Oke!” aku menyambar ponselku terburu-buru. Tapi kemudian Fika menahanku untuk melakukan panggilan. Matanya, juga senyumnya menahanku untuk melakukan itu. “Masih ada hari esok,” bisiknya sambil membelai wajahku lembut. “Aku butuh kau untuk melakukan tugas lain yang lebih penting.” Tidak mengijinkanku untuk menyela dengan sebuah pertanyaan, Fika sudah terlebih dahulu membungkam bibirku dengan sentuhan bibirnya yang ranum. ……. “Apa ini?”aku mengernyit heran, saat jemariku menyentuh semacam tali tipis yang sangat halus di bagian antara sepasang kakinya.      “Oh!itu …” “Fika jangan bilang jika kau mulai kembali menggunakan alat untuk …” aku menarik tali itu tak sabaran, membuatnya meringis dengan wajah yang sangat mengundang. Sial! Dia bahkan berani menggunakan saat bersamaku. Ujung lain dari benda itu membuatku tercengang. Sesuatu dalam darahku bergejolak, mendidihkan kemarahan sampai keubun-ubunku. Dan dia, Arfika Vivianna dengan tanpa dosa malah merebahkan tubuhnya yang semula duduk menguasaiku,menatap sambil memasang senyum penuh rahasia. “Sebelum kau terlanjur marah, coba kau lihat baik-baik itu apa.” Suruhnya datar. Tanpa dia mintapun aku sudah tahu itu apa. Benda yang menjatuhkan harga diriku itu adalah sebuah vibrator berbentuk telur dari bahan yang ukurannya tidak bisa dikatakan mungil. Dengan jijik aku menjatuhkan benda itu keatas perutnya, suaranya saat terjatuh terdengar seakan ada benda didalamnya. Arfika dengan sigap mengambilnya sebelum benda itu keburu jatuh bergulir dari  ranjang kami. “Lihat baik-baik,” dia mengatakan itu sambil memutar benda itu perlahan. Suara, kotak terbuka menarik perhatianku. Dengan gusar tatapanku kembali tertuju pada benda itu hanya untuk mendapatkan sesuatu yang menakjubkan ada di sana. “Menikahlah denganku Alverrenno Wisnuwardhana.” ……….. “Dad, ini apa?” Adrien Enzo Wisnuwhardhana meraih sebuah benda bulat telur yang terjatuh dari sakuku. Yang membuat wajahku memerah adalah, karena dia mengulurkannya saat aku sedang sibuk menyalami teman-temanku sesama member PM yang kontan langsung berseru takjub melihat benda itu.  Evan Natasukma menyambar benda itu dari tangan putraku, lalu menatapku sambil menyeringai penuh arti. “Ckk … tak kusangka kau sudah mulai mengajari anakmu untuk jadi member PM generasi kedua.” Theo yang sibuk menimang gadis kecilnya ikut tertawa, “Aku akan mencoret Enzo dari daftar pria-pria yang boleh mendekati Tyra” katanya sambil mencium pipi bayinya yang baru berusia tiga bulan. Aku memutar mata dan mengambil paksa benda itu dari tangan Evan. “Ini tidak seperti yang kalian pikir.” Gumamku sambil memandangi mempelaiku yang masih berdansa dengan ayahnya di tengah-tengah karpet bunga yang menjadi pusat berkumpulnya beberapa kerabat serta teman-teman kami yang diundang dalam perhelatan sederhana ini. Fika melemparkan ciuman jarak jauhnya padaku yang kubalas dengan kedipan mata. Seseorang menyela tariannya dengan Andrew, membuatku langsung mengendurkan ikatan dasi ascot-ku untung mengurangi rasa sesak yang mendadak menyerang. Aku menyambar Enzo dalam gendongan dan meninggalkan teman-temanku untuk menghampiri dua orang itu. “Maaf menyela,” kataku pada Reu yang langsung melepaskan Fika dari pelukannya, “Bisa kau pegang enzo sebentar Reu, aku ingin berdansa dengan istriku.” “Oh tentu.” Reuben tanpa curiga mengambil alih putraku dan kemudian membawanya pergi sambil berjanji akan memberi Enzo sebuah cupcake blueberry, saat aku mulai merapatkan tubuh Fika padaku. Dia, Istriku menatapku tajam. “Apa?” kataku pura-pura bingung. “jangan berlagak bodoh, sayang. Kau masih belum bisa bersikap lunak pada Reu, bahkan saat dia sudah sangat baik padamu.” “Jangan harap aku akan berubah jadi orang suci, sayang.” Aku mengecup cuping telinganya saat mengatakan itu, membuat Fika mendesah pelan. “Lagipula aku suamimu sekarang.” Aku memberi penekanan dengan penuh kebanggaan pada kata ‘suami’. “Ya! sayang sekali,” katanya “aku benar-benar tidak mengerti apa yang membuatku sampai kerasukan dan memintamu menikah denganku.” Fika terdengar seperti sedang mengeluh. Aku terkekeh dan kembali menggoda zona sensitif di lehernya. “Ngomong-ngomong, apa kau sudah menerima hadiah pernikahan dariku?” Fika mengangguk keheranan, “Aku tidak mengerti, apa maksudmu menghadiahkan itu padaku? Lagipula ukuran macam apa itu?” protesnya kesal. Sambil menyeringaikan senyum mesum aku memandangnya penuh arti, “Sudah saatnya kita melakukan peningkatan dalam hubungan kita, sayang. Lagipula ekspresimu saat aku menarik paksa kotak cincin waktu itu benar-benar menakjubkan, luar biasa. Aku ingin melihatnya lagi.” Fika mencibirku sekilas, namun aku menunda protesnya dengan sebuah ciuman panas yang membuat Ibuku melengos geram di depan meja tempatnya menempatkan diri pada pernikahan ini. Tapi aku terlalu sibuk untuk peduli pada Mami sekarang. Tidak disaat ini, hari bahagia untuk kukenang selamanya.

BOOKMARK