Tambah Bookmark

7

Bab 6

Author POV Selir Hubin berjalan dengan gelisah di dalam kamarnya. Dia sedang menunggu pelayan setia. Bahkan hanya untuk sekedar duduk saja selir Hubin tetap gelisah. "Yang mulia." pangil seorang wanita muda yang tidak lain adalah pelayan setianya sehyun. "Bagaimana ?" Tanya selir Hubin cemas. "Saya sudah memberikan racun di makan nona Yeolin, yang mulia." kata Sehyun. "Bagus kita hanya tinggal menunggu waktu saja." kata selir Hubin Sambil tersenyum kecil. Hatinya sangat puas, sebentar lagi dia akan mendapatkan hati kaisar Wang Lee, bukan hanya hatinya tapi juga gelar permaisuri kerajaan Lauhan. Dia akan mendapatkan semuanya. Semua yang seharusnya sudah menjadi haknya sejak lama. Dan dia akan mengambil hak itu dari wanita murah itu yang sudah dengan beraninya merebut miliknya. *** Kaisar Wang Lee menatap pemandangan di depannya, begitu banyak pelayan yang berusaha untuk membujuk Yeolin untuk makan. Tapi ternyata wanitanya itu tidak mau makan sama sekali. Yeolin masih berkeras untuk tidak menyentuh makanannya. Dengan langkah lambat tapi pasti kaisar Wang Lee berjalan kearah Yeolin dan kumpulan pelayanannya. "Yang mulia, saya akan memberikan kedatangan anda pada nona Yeolin." kata bibi Hun sambil membungkuk sedikit badannya. "Tidak perlu." jawab kaisar Wang Lee sambil melanjutkan langkahnya kearah Yeolin yang masih tidak mau memakan makanannya. "Kenapa kamu tidak mau memakan makanan mu, Yeolin ?" Tanya kaisar Wang Lee. "Ya mulia, sejak kapan anda ada di sini ?" Tanya Yeolin tanpa menjawab pertanyaan kaisar Wang Lee. "Aku sedang bertanya pada mu Yeolin, bukan meminta mu untuk bertanya lagi." kata kaisar Wang Lee yang juga tidak ada niat untuk menjawab pertanyaan dari Yeolin. Yeolin tersipu malu, membuat kedua pipi tirusnya memerah. Kaisar Wang Lee mengelus lembut pipi merah Yeolin. "Kau belum menjawab pertanyaan ku, Yeolin." kata kaisar Wang Lee membuat Yeolin sedikit gugup. "Hamba tidak lapar yang mulia." jawab Yeolin susah payah dengan keberanian yang dia kumpulkan. Kaisar Wang Lee menghembuskan nafas, dengan gerakan anggun dan elegan khas bangsawan terhormat. Kaisar Wang Lee mengambil sendok emas yang berada di atas meja makan kecil dan menyendok nasi beserta lauknya. Yeolin tersentak kaget dari lamunannya saat merasakan bibirnya bersentuhan dengan benda tumpul yang dingin yang di ketahui Yeolin itu adalah sendok emas yang berada di atas mejanya. "Buka mulut mu, Yeolin." perintah kaisar Wang Lee mutlak. Yeolin membuka mulutnya dengan terpaksa dan menerima suapan demi suapan nasi yang di berikan oleh kaisar Wang Lee padanya. Sedangkan kaisar Wang Lee menyuapi Yeolin makan dengan lembut dan hati-hati. Dan tanpa mau mempedulikan tatapan serta bisikan para pelayan istana bulan. Kaisar Wang Lee bangun dari duduknya dan saat dia sudah selesai menyuapi Yeolin sarapannya. "Bibi Hun." panggil kaisar Wang Lee. "Iya yang mulia." jawab bibi hun sambil membungkuk sedikit badannya tanda hormat. "Penuhi apapun permintaan Yeolin, saya mau Yeolin merasa nyaman dan tidak kekurangan sedikit pun, selama saya pergi." Perintah kaisar Wang Lee. Yang langsung di balas anggukan kepala oleh bibi hun Yeolin menatap punggung tegap kaisar Wang Lee dengan pandangan nanar, dia benar-benar tidak mau terkurung di istana mewah ini. *** Ruang luas yang hanya di isi oleh kaisar Wang Lee, Jendral Yeol dan juga panglima besar Sehun. Begitu terlihat memegang bahkan aura dingin dan kejam dari kaisar Wang Lee sama sekali membuat jendral Yeol dan panglima besar Sehun merasa nyaman. "Yang apa yang akan anda lakukan dengan perbatasan di daerah gongshun ?" Tanya jendral Yeol. "Panglima Sehun yang akan mengurus perbatasan di daerah gongshun." perintah kaisar Wang Lee. "Baik, yang mulia." jawab panglima Sehun. Kasim Han masuk dengan tergesa-gesa kedalam ruang kerja kaisar Wang Lee. "Yang mulia." pangil Kasim Han sedikit takut. "Hmmm�" jawab kaisar Wang Lee. "Nona Yeolin, keracunan." kata Kasim Han. Perkataan Kasim Han, membuat tubuh kaisar Wang Lee seperti tersambar petir di siang hari. Kaisar Wang Lee membalikkan tubuhnya dengan cepat menghadap kearah Kasim Han yang masih menunduk takutnya. Dengan cepat kaisar Wang Lee Keluar dari dalam ruang kerjanya. Langkah lebar kaisar Wang Lee lebih terkesan seperti lari itu terus mengkah melewati lorong demi lorong istana Lauhan. BRAKK Kaisar Wang Lee menggeser pintu dengan kasar. Mata tajam milik kaisar Wang Lee mengarah ke setiap sudut kamar mewah yang di tempati oleh Yeolin sejak pertama kali kakinya menginjak istana lauhan. Kaisar Wang Lee berdiri dengan lemas saat melihat, tubuh Yeolin yang berbaring dengan lemah di atas ranjang luas. Kaisar Wang Lee melangkah dengan pelan dan getir tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah pucat wanitanya. Hatinya berdenyut nyeri saat mata indah itu yang selalu menatapnya dengan lembut kini tertutup rapat. "Apa yang terjadi padanya..?" Tanya lirih kaisar Wang Lee pada Tabit istana. "Nona Yeolin keracunan makanan, yang mulia." jawab Tabit Jeong. Kaisar Wang Lee meraih tangan pucat dan kecil milik Yeolin Menggenggamnya erat. Untuk pertama kalinya dalam hidup kaisar Wang Lee air matanya menetes karena seorang wanita. Rasanya begitu sakit saat melihat tubuh kecil Yeolin terbaring dengan lemah. "Maaf." hanya satu kata yang mampu mewakilkan perasa bersalahnya. Dia benar-benar tidak kuat menatap tubuh lemah Yeolin. Dia bahkan rela mengantikan rasa sakit Yeolin. Permaisuri masuk kedalam kamar mewah Yeolin dengan wajah khawatirnya. Permaisuri berjalan cepat kearah ranjang yang Yeolin tiduri. Permaisuri menatap khawatir Yeolin, wanita cantik bertubuh kecil yang sudah mencuri perhatian saat pertama kali wanita itu datang ke kerajaan lauhan. "Apa yang terjadi pada Yeolin..?" Tanya permaisuri khawatir. "Nona Yeolin keracunan makanan, yang mulia." kata Tabit Jeong takut saat melihat dengan jelas raut marah di wajah cantik wanita paruh baya itu. "Apa kalian tidak memeriksa terlebih dahulu makanannya. Cepat cari siapa pelakunya, hukum mati orang itu." Perintah permaisuri. "Tenanglah, nak." kata permaisuri sambil berusaha menenangkan putranya kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee memeluk erat tubuh sang bunda, menumpahkan semua air matanya yang sedari tadi dia tahan di pelupuk matanya. *** Empat langkah kaki wanita cantik itu berjalan dengan pelan di kegelapan malam kerajaan Lauhan. Dua orang penjaga kerajaan lauhan membuka gerbang dengan cepat sambil terus menatap waspada ke sekeliling istana. "Ayo�" ajak kepala pelayan dari istana ibu suri. Yang sedari tadi menunggu di depan gerbang istana lauhan. Mereka melangkah dengan pelan dan hati-hati takut ada orang lain yang melihat mereka. "Ibu suri, wanita itu sudah datang." kata kepala pelayan Chun. "Suruh dia masuk." perintah ibu suri. "Hormat kami yang mulia." kata kepala pelayan Chun. "Dimana wanita itu..?" Tanya permaisuri. "Saya di sini yang mulia." kata seorang wanita cantik dengan penampilan sedikit mencolok. "Apa kau benar-benar cenayang Yun?" Tanya permaisuri. "Benar yang mulia." kata wanita muda yang dipanggil Yun. "Bagus, aku mau sekarang kau buat jimat, untuk menantu ku sekaligus calon permaisuri kerajaan Lauhan, namanya Yeolin Shan." Perintah permaisuri. "Baik yang mulia." jawab cenayang Yun. Permaisuri menatap tajam, cenayang Yun yang masih sibuk menggores tinta di kertas putih belukuran panjang. "Ini yang mulia." kata cenayang Yun. Sambil memberikan kertas yang tadi di tulisnya. "Kalau boleh saya kasih saran, Anda harus lebih berhati-hati dengan selir Hubin." kata cenayang Yun sebelum pamit undur diri. Permaisuri menatap bingung cenayang Yun. Tapi memang tidak bisa di pungkiri jika hati kecilnya menyetujui perkataan cenayang Yun. Yang menurutnya sangat masuk akal.

BOOKMARK