Tambah Bookmark

8

bab 7

Author POV Pria tampan dengan segala kekuasaan itu kini hanya diam terpaku pada seorang wanita cantik bertubuh kecil yang kini tertidur lemas di ranjang luas. Kaisar Wang Lee menatap nanar tubuh indah wanitanya, Perasaannya kacau. Antara takut dan sedih. Kaisar Wang Lee berjalan dengan langkah pelan kearah ranjang yang sekarang di tempat oleh Yeolin. merebahkan tubuh lelahnya di sisi sebelah kanan ranjang yang di tempat oleh tubuh kecil Yeolin. Tangan kekar yang sudah membunuh banyak nyawa itu. Kini merengkuh erat pinggang ramping Yeolin. Tidak ada wajah dingin atau datar yang menghiasi wajah tampannya, yang ada hanya wajah lelah dan sorot sedih di kedua mata tajamnya. Kaisar Wang Lee menutup matanya, hanya sekedar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Sudah dua empat jam lebih dia tidak istrirahat sejak Yeolin jatuh sakit dan sekarang berakhir dengan pingsan. Sekarang pikirannya hanya bagaimana Yeolin cepat sabar, tapi jika Yeolin sudah sabar dia akan mencari orang yang sudah berani meracuni wanitanya hingga sekarat. Nafas teratur milik Yeolin, tanpa sabar membuat kaisar Wang Lee jatuh kedalam alam mimpi. Menyusul wanitanya yang sudah terlebih dahulu jatuh tertidur. *** Satu orang pelayan dari kediaman Yeolin memasuki kediaman selir Hubin dengan langkah pelan dan hati-hati. Matanya menatap liar ke sekeliling berusaha waspada agar tidak terlihat oleh siapapun. Rasa takut dan khawatir memenuhi relung hatinya, dia tahu bahwa dia lakukan barusan pada tuannya adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Tapi dia tidak mempunyai pilihan lain selain membuat kesalahan terbesar yang pernah dia buat. Yang dia pasti dapat membuatnya kehilangan kepalanya jika kejahatan di ketahui oleh rajanya yang terkenal kejam dan bertangan dingin dalam menghukum rakyat dan penghianat di kerajaannya. Langkah kaki kecilnya kian cepat saat dia sudah melihat tempat yang di tujunya kian mendekat. Pelayan cantik dari kediaman Yeolin itu membuka jubah menutup kepala dan wajah cantiknya. "Yang mulia selir hubin ada di dalam..?" Tanya bisik pelayan dari kediaman Yeolin yang tidak lain adalah Kim pada pelayan pribadi selir hubin. "Yang mulia selir Hubin ada di dalam, dia sedang menunggu mu." jawab bisikan pelayan pribadi selir hubin. "Ikuti aku." Perintah pelayan pribadi selir Hubin Sambil membimbing pelayan Kim mengikuti langkah kaki pelayan Chin, pelayan pribadi selir Hubin. Pelayan Chin menggeser pintu kamar selir Hubin. Dan melihat selir hubin yang sedang berdiri dengan gelisah. "Yang mulia, wanita itu sudah datang." kata pelayan Chin dengan sedikit membungkuk badannya. "Dimana wanita itu ?" Tanya selir Hubin dengan tidak sabaran. Pelayan Chin membawa masuk pelayan Kim, wanita mudah dan cantik itu sedikit membungkuk badannya saat melihat selir Hubin. Selir hubin berjalan dengan langkah cepat kearah kim, menatap penuh harap pada wanita muda yang memiliki wajah cantik itu. "Bagaimana ? Apa kau sudah memasukan racun itu ke dalam makanannya ?" Tanya selir Hubin beruntun dengan tidak sabaran. "Sudah yang mulia, dan sekarang nona Yeolin sedang Sekarat." kata pelayan Kim sopan. "Bagus ini bayaran untuk mu." kata selir Hubin Sambil memberikan sekantung koin emas. Pelayan Kim menerima dengan senang hati, dia tidak masalah jika nyawanya sendiri menjadi taruhannya. Baginya perut kosong keluarganya yang minta di isi lebih penting dari apapun termaksud nyawanya sendiri. *** Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu berjalan dengan anggun kearah kediaman istana bulan. Kediaman milik Yeolin dan putranya kaisar Wang Lee. Wanita paruh baya masih terlihat cantik itu tersenyum manis pada semua pelayan istana bulan yang di temuinya di jalan. "Bagaimana keadaan nona Yeolin ?" Tanya ibu suri pada bibi hun yang tidak lain adalah pelayan pribadi Yeolin. "Nona Yeolin belum sadar, yang mulia ibu suri." jawab bibi hun. "Apa bagaimana bisa, Yeolin belum sadar sampai sekarang ?" Tanya ibu suri marah bercampur khawatir. "Saya tidak tahu, ibu suri." kata bibi hun menjawab seadanya. Dengan sedikit rasa takut. "Ya sudah, kau boleh pergi." Perintah ibu suri. Wanita paruh baya itu memasuki kamar kediaman Yeolin dengan langkah lebar. Dadanya berdegup kencang karena terlalu khawatir. Langkahnya ibu suri berhenti saat matanya menatap putra pertamanya yang tertidur karena kelelahan. Ibu suri mendekat kearah ranjang yang kaisar Wang Lee dan Yeolin tempati. Mata indah sayup itu memperlihatkan putranya dan juga menantunya dengan seksama. Tangan lentik ibu suri mengelus lembut rambut hitam panjang putranya. Dia sangat tahu jika putranya saat ini begitu rapuh dan sedih. Untuk pertama kalinya dia melihat putranya yang jatuh cinta pada seorang wanita. Ibu suri mengeluarkan kertas putih yang sudah di bumbui oleh tinta dan mantra pengusir roh jahat dan di taruhnya di bawah bantal. Jika putranya tahu apa yang dia lakukan sekarang, bisa di pasti jika putranya akan sangat marah. Tapi dia tidak peduli selama yang dia lakukan benar dia tetap akan melakukannya. Baginya kebahagiaan putranya, adalah lah yang utama. *** Kedua mata indah itu terbuka dengan perlahan, berusaha menyesuaikan cahaya matahari dengan kornea matanya. Yeolin mengeram sakit di bagian kepalanya, saat matanya sudah terbuka dengan sempurna. Yeolin hampir saja berteriak keras saat merasakan sepasang tangan kekar yang melingkar sempurna di pinggang rampingnya. Membuat mata bulat dengan bola mata berwarna coklat madu itu menatap ngeri siapa pelaku yang mempunyai kedua tangan kekar dan kokoh itu. Wajah damai kaisar Wang Lee saat tertidur membuat jari-jari lentik tangan Yeolin tanpa sabar mengelus lembut rahang tegas dan kokoh milik pria tampan yang tertidur lelap di sampingnya. Jari Yeolin mengelus lembut kedua mata tajam kaisar Wang Lee yang selalu manatap lembut dan penuh kasih padanya. Boleh kah Yeolin berharap jika pria yang sedang tertidur di sampingnya ini suatu saat nanti bisa menjadi pria yang satu-satu menemani sisa-sisa usianya. Elusan lembut Yeolin membuat kaisar Wang Lee sedikit terganggu di dalam tidurnya. Yeolin hampir saja berteriak keras saat dengan santainya pria tampan yang tertidur pulas di sampingnya ini menarik tubuh agar lebih merapat pada tubuh kekar dan penuh otot miliknya. Sedangkan kaisar Wang Lee tersenyum manis dalam hatinya. Sebenarnya sedari tadi dia sudah bangun tapi rasa penasarannya yang membuatnya enggan untuk membuka kedua matanya. "Yang mulia, sesak." cicit suara lembut Yeolin yang mengalun indah di kedua telinganya di pagi hari. Bahkan suara indah seorang burung cantik pun tidak akan dapat menyaingi suara indah wanita yang masih di dalam dekapan saat ini. Kaisar Wang Lee menarik lebih dekat tubuh kecil Yeolin tanpa memperdulikan protesan penuh rasa takut dari wanitanya. Ketukan pintu kamar tidur Yeolin, membuat Yeolin tanpa sabar menghelai nafas lega. Sedangkan Kaisar Wang Lee sudah mengerutu kesal karena momen indahnya di pagi hari harus terganggu dengan suara laknat ketukan pintu kamar Yeolin. Tanpa memperdulikan ketukan pintu kamar Yeolin, kaisar Wang Lee masih saja bergelut manja di samping tubuh Yeolin. Sedangkan Yeolin berusaha mati-matian melepaskan lilitan erat kedua tangan dan kaki kaisar Wang Lee yang memeluk erat tubuh kecilnya. Protesan serta pemberontak Yeolin sama sekali tidak di ibahkan kaisar Wang Lee yang semakin memeluk erat tubuh kecil wanitanya. "Ya mulia saja harus mandi." kata Yeolin dengan suaranya sedikit mengeras. Hingga membuat kaisar Wang Lee mengeram marah, bagaimana bisa wanitanya ini Ingin mandi tanpa mengajak dirinya. "Aku ikut." kata kaisar Wang Lee Sambil membuka kedua matanya memperlihatkan kedua mata hitam tajam. Kaisar Wang Lee mengangkat tubuh kecil Yeolin dengan ringan tanpa memperdulikan protesan dari wanitanya. Kaisar Wang Lee melangkah dengan ringan kearah pemandian tanpa mau repot-repot membuka pintu untuk orang yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Yeolin.

BOOKMARK