Tambah Bookmark

9

Bab 8

Author POV. Yeolin menekuk wajahnya sedari tadi, membuat kaisar Wang Lee mati-matian berusaha membujuk Yeolin agar tidak marah lagi padanya. "Yeolin�" panggil kaisar Wang Lee untuk yang kesekian kalinya. Tapi respon dari Yeolin lagi-lagi membuat kaisar Wang Lee menarik nafas lelah. Ternyata sangat sulit membuat membujuk wanita yang sedang marah. "Aku mohon jangan marah lagi ya." mohon kaisar Wang Lee untuk pertama kalinya dalam sejarah kerajaan lauhan, seorang kaisar Wang Lee memohon pada seorang wanita. Lagi-lagi kaisar Wang Lee hanya mampu menghembuskan nafas lelah. Yeolin benar-benar tidak mau bicara padanya jangankan bicara menatapnya saja Yeolin tidak mau. "Yeolin makan ya, nanti kalau kamu mau makan kita pergi jalan-jalan keluar istana." bujuk kaisar Wang Lee untuk kesekian kalinya. Kaisar Wang Lee menarik nafas lega saat melihat Yeolin mau menatapnya kembali. Kedua mata Yeolin menatap kaisar Wang Lee dengan binar-binar kebahagiaan. Yang membuat kaisar Wang Lee tanpa sabar tersenyum kecil melihat Yeolin-nya bahagia. "Anda serius yang mulia, anda tidak lagi membohongi saya kan." kata Yeolin dengan tatapan curiganya yang bukannya membuat kaisar Wang Lee takut tapi justru tertawa lepas hingga membuat para mata pelayan dan prajurit kerajaan menatap penuh minat pada rajanya. Untuk pertama kalinya raja mereka tertawa lepas. Mereka pikir jika raja mereka hanya bisa marah-marah menghukum mati seseorang. Tapi ternyata tidak, buktinya raja mereka bisa tertawa lepas hanya karena pertanyaan yang menurut semua orang, Pertanyaan itu sungguh konyol. Yeolin merenggut kesal melihat kaisar Wang Lee yang tidak henti-hentinya tertawa. Bukan seharusnya kaisar Wang Lee takut padanya tapi kenapa malah tertawa. "Yang mulia." kata Yeolin yang lebih terdengar seperti rengekan. Kaisar Wang Lee menghentikan tawanya saat melihat kedua mata indah Yeolin sudah mulai berkaca-kaca, yang menandakan bahwa wanita itu sudah ingin menangis. Satu tetes air mata Yeolin turun di susul air mata lainnya. Kaisar Wang Lee panik melihat air mata Yeolin jatuh dengan mulus di pipi putih tirus miliknya. "Baik-baik jangan menangis aku minta maaf, jangan menangis lagi. Ayo sekarang makan makanan mu, baru setelah itu kita pergi jalan-jalan." kata kaisar Wang Lee membuat air mata Yeolin seketika langsung berhenti. Yeolin mengaggukan kepalanya sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Yeolin memakan makanannya dengan cepat tanpa memperdulikan peringatan dari kaisar Wang Lee untuk makan dengan pelan-pelan. *** Seperti janji kaisar Wang Lee tadi, raja yang terkenal kejam dari negara lauhan itu kini menemani Yeolin berjalanjalan sepanjang pasar dengan wajah di tekuk. Bukan, Yeolin bukannya tidak suka berjalan-jalan ke pasar. Yang tidak dia suka adalah kenapa harus pergi dengan para pengawal istana. Membuat mereka semua menjadi bahan tontonan. Yeolin benar-benar tidak nyaman saat semua orang membungkuk padanya. Padahal dia hanya ingin jalan-jalan dan makan jajanan pasar bukan menjadi tontonan bagi seluruh penghuni pasar. Kening kaisar Wang Lee menyerengit bingung saat melihat wajah cemberut Yeolin. "Kamu kenapa Yeolin ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut sambil mengelus pipi sebelah kanan Yeolin. Yeolin hanya diam tanpa memperdulikan pertanyaan dari kaisar Wang Lee. Membuat kaisar Wang Lee bertambah bingung. "Kamu tidak senang jalan-jalan ke pasar Yeolin ?" Tanya kaisar Wang Lee lagi. "Saya senang yang mulia, tapi saya tidak senang saat menjadi pusat perhatian dari semua rakyat Lauhan." lirih Yeolin dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Kaisar Wang Lee menarik lembut tubuh kecil Yeolin kedalam dekapannya. Memberikan wanitanya menangis dengan puas dia baju kebesarannya. "Usss....maaf Yeolin. Tapi ini sudah pelaturan istana. Aku seorang raja dan banyak orang di luar sana berebut untuk membunuh ku, bagaimana aku bisa melindungi mu jika aku hanya seorang diri." kata kaisar Wang Lee membuat hati Yeolin terhenyak mendengarnya. Dia begitu egois, hingga tidak memikirkan kedudukan kaisar Wang Lee yang seorang raja. Dia hanya benar-benar merindukan kehidupannya yang dulu sederhana tapi penuh kebahagiaan. Yeolin menggakat wajah penuh dengan air mata, menatap langsung wajah rupawan milik kaisar Wang Lee. Tatapan lembut kaisar Wang Lee lempar pada Yeolin, kedua mata yang selalu menatap tajam dan dingin pada semua orang kini menatap lembut dan penuh cinta pada Yeolin. "Maaf yang mulia, seharusnya saya tidak egois hingga melupakan kedudukan anda di istana." kata Yeolin pelan. Kaisar Wang Lee menghapus sisa-sisa air mata Yeolin dengan lembut di kedua pipi tirusnya sebelum mengecup lembut kening Yeolin, hingga membuat wanita cantik itu sedikit salah tingkah. "Kamu tidak perlu minta maaf, Yeolin. Jangan pernah menangis lagi, mata indah ini tidak boleh mengeluarkan air mata lagi, hanya boleh ada sinar kebahagiaan di kedua mata mu." bisik kaisar Wang Lee tempat di depan bibir Yeolin. Yang sudah tidak dapat berkata-kata lagi. Sekali lagi kaisar Wang Lee menarik lembut tubuh Yeolin. Membuat tubuh wanita cantik itu menempel dengan sempurna di dada bidang dan penuh otot miliknya. Yeolin melilit kedua tangannya di pinggang kekar kaisar Wang Lee sambil menenggelamkan wajah cantik di dada bidang kaisar Wang Lee. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee tersenyum lebar di balik tubuh kecil Yeolin. Untuk pertama kali dalam hidupnya dia merasa bahagia karena seorang wanita. *** Tatapan mata penuh kemarahan selir Hubin lemparkan pada pelayan dari kediaman Yeolin. "Kau bodoh ya, saya sudah menyuruh mu untuk selalu memberi tahu apapun yang ada di sana." geram selir hubin. Sangat terlihat jika wanita cantik itu sangat marah saat ini. "Maaf yang mulia, saya tidak tahu jika yang mulia Wang Lee mengajak nona Yeolin, yang mulia selir Hubin" kata pelan wanita itu takut-takut. "Bodoh!" geram selir Hubin. "KELUAR!!" teriak selir Hubin mengusir semua pelayan yang berada di dalam kamarnya. "PANGGILKAN AYAH KU SEKARANG!!" Teriak selir Hubin lagi. Membuat semua pelayanan tergopoh-gopoh memanggil perdana menteri barat. Langkah Perdana menteri barat terhenti saat melihat putri semata wayangnya menangis sambil bersimpuh. Kedua tangan pria paruh baya itu mengepal tangannya erat-erat, hatinya sakit saat melihat putrinya yang mengemis cinta dan perhatian dari kaisar Wang Lee. Entah kenapa dia merasa menyesal karena sudah memberikan putri semata wayangnya untuk di jadikan selir dari kaisar Wang Lee. Perdana menteri barat hanya menginginkan kebahagiaan bagi putrinya tapi mengapa malah penderita serta air mata yang di dapatkan oleh Putrinya. Perdana menteri barat melanjutkan langkah kakinya, berjalan dengan langkah pelan kearah putrinya yang masih menangis keras dalam diam. Tangan pria paruh baya itu memegang kedua pundak putrinya, membawa tubuh putrinya agar bangun dari tangisnya. "Kenapa kau menangis, nak ?" Tanya perdana menteri barat dengan lembut. "Yang mulia Wang Lee ayah, dia pergi berdua dengan Yeolin, ayah. Aku juga istrinya ayah. Aku juga ingin perhatian darinya." Isak selir Hubin dengan keras. Sambil memeluk erat tubuh tambun ayahnya. Tangisan putrinya bagaikan sembil pisau tajam yang menikam tepat di jantung, Perdana menteri barat. Dia rela melakukan apa saja agar dapat menggantikan semua air mata putrinya dengan kebahagiaan yang abadi. Perdana menteri barat menghapus air mata putrinya dengan lembut. "Ayah akan membuat yang mulia Wang Lee menatap mu, dan hanya akan menjadi milik mu." kata perdana menteri barat penuh dengan keyakinan. Selir Hubin menganggukan kepalanya pelan dalam tangisnya, dia bertekat akan membuat hidup Yeolin menderita. Kaisar Wang Lee hanya miliknya dan selamat akan terus menjadi miliknya.

BOOKMARK