Tambah Bookmark

10

Bab 9

Author POV. Yeolin meremas kedua tangannya dengan gugup, bagaimana dia tidak gugup saat harus bertemu dengan ibu suri dan selir utama, kaisar Wang Lee yang tidak lain selir huen. Bahkan kakinya begitu gemetar selama perjalanan kearah kediaman ibu suri. Tiba-tiba saja langkah kecil kaki Yeolin berhenti membuat para pelayan yang mengikutinya di belakang juga berhenti melangkah. "Kenapa anda berhenti, nona ?" Tanya bibi hun bingung. Yeolin meremas kuat jari-jari tangannya. Bagaimana dia tidak berhenti berjalan saat rasa gugup yang di rasakan semakin besar. Dia benar-benar tahu, bagaimana jika selir huen tidak menyukainya dan yang lebih parahnya lagi selir huen membencinya. Yeolin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan dengan pelan mulut. Yeolin melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti tadi. *** Yeolin menatap gugup dan takut dua orang wanita berbeda generasi itu. Bahkan Yeolin dapat melihat dengan jelas betapa cantiknya selir Huen, terbesit iri di hati Yeolin. 'apa yang Kaisar Wang Lee mencintai selir Huen ?' Tanpa sabar Yeolin bertanya pada dirinya sendiri. Yeolin mengempukkan semua keberaniannya sebelum kembali melangkah mendekati kearah ibu suri dan selir huen yang masih setia berbincang-bincang dengan hati riang. "Selamat siang ibu suri dan selir Huen" kata Yeolin pelan sangat pelan hingga terdengar seperti bisikan saja. Selir Huen tersenyum lebar sambil menatap lembut Yeolin, tidak ada raut benci atau pun tidak suka dari wajah cantik selir Huen. Sedangkan ibu suri sudah tersenyum lebar sambil melangkah mendekati Yeolin dan menarik tubuh kecil Yeolin ke dalam dekapan hangatnya, dekapan hangat seperti seorang ibu yang sedang memberikan kasih sayang kepada anaknya melalui pelukan hangatnya. "Kau sudah sehat Yeolin ?" Tanya ibu suri lembut dan senang. "Saya sudah sehat yang mulia." jawab Yeolin pelan dan malu-malu. Membuat ibu suri dan juga selir Huen tertawa pelan. Yeolin menundukkan kepalanya dalam-dalam menyembunyikannya wajah merah padamnya. "Ayo kita duduk dan minum teh hijau bersama, banyak yang ingin ku tanyakan pada mu Yeolin." kata selir Huen lembut. Sikapnya yang lemah lembut dan anggun, benar-benar mencerminkan Sifat kebangsaannya. Yeolin menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah anggun kaki ibu suri dan selir Huen. Yeolin memperhatikan selir Huen dan ibu suri yang terlihat sangat anggun, bahkan saat duduk pun mereka masih terlihat cantik dan anggun, benar-benar terlihat jelas jika mereka di besar di keluarga terhormat yang pasti juga terpandang. "Kau mau teh hijau, Yeolin. Teh ini sangat nikmat dan aromanya benar-benar mampu membuat pikiran mu tenang." kata selir Huen sambil menuangkan teh hijau kegelas kecil milik Yeolin. Yeolin mengaggukan kepalanya pelan. lidahnya terasa keluh tidak dapat menjawab atau bertanya pada selir huen dan ibu suri. "Makan ini, ini kue kering yang di buat dari sari bunga matahari. Rasanya sangat enak dan manis." kata ibu suri sambil menaruh satu potong kue kering berwarna kuning di piring kecil dan memberikannya pada Yeolin. Yeolin mengaggukan kepalanya dengan senyum manisnya. Selir huen membalas senyum Yeolin dengan senyum lembut. Perempuan di hadapannya ini benar-benar sangat cantik dan baik, tidak aneh jika selir Huen menjadi salah satu selir kesayangan kaisar Wang Lee dan mungkin juga menjadi selir kesayangan ibu suri. *** Senyum lebar terpatri dengan indah di bibir kaisar Wang Lee. Hatinya benar-benar bahagia saat melihat Yeolinnya tertawa bahagia dengan selir huen dan juga Ibundanya. Kaisar Wang Lee berjalan dengan langkah tegas penuh wibawa, membuat para pelayan mencuri-curi pandang kearah pria gagah penuh pesona. Siapa orang yang berani melawan pesona seorang kaisar Wang Lee yang terkenal dingin tapi begitu rupawan dengan aura kekuasaannya. "Apa aku mengaggu Kalian ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut saat di sudah berada di dekat ketiga wanita cantik berbeda generasi itu. Selir huen, ibu suri dan Yeolin pun langsung berdiri saat melihat tubuh tegap kaisar Wang Lee berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuh tegapnya di tiang. "Sama sekali tidak, yang mulia." jawab selir huen sopan dan tidak lupa dengan tutur katanya yang lembut penuh ke anggun. Yeolin mencurutkan bibirnya dan hal itu tidak lepas dari mata tajam milik kaisar Wang Lee. Nafas kaisar Wang Lee berubah tidak beraturan, bukan hanya nafasnya saja tapi juga selangkangannya yang sudah terasa sangat sakit dan sesak. Yeolin menundukkan kepalanya dalam-dalam berusaha menghindari tatapan tajam kaisar Wang Lee yang seakan-akan menelanjangi tubuh kecilnya. Ibu suri dan selir Huen memperhatikan arah pandangan kaisar Wang Lee yang mengarah langsung ke payudara sintal milik Yeolin. "Hmmm..." ibu suri berdehem cukup keras membuat arah pandangan kaisar Wang Lee terputus dan membuat Yeolin menghelai nafas lega. "Apa yang membawa anak ku sini ?" Tanya ibu suri pura-pura tidak menggetahui tujuan putra Pertamanya ini datang. "Aku hanya ingin memberikan tahu bahwa malam ini aku akan tidur di kediaman selir Huen." kata kaisar Wang Lee datar. Perkataan kaisar Wang Lee yang baru saja di kata tadi membuat tubuh Yeolin tanpa sadar melemas. Semua sendi dalam tubuh tiba-tiba saja tidak dapat berfungsi dengan baik. Yeolin memegang erat dadanya yang tiba-tiba saja terasa sangat sesak, bahkan tanpa di sadari satu tetes air mata sudah jatuh dari mata indahnya. Dia tidak tahu kenapa tiba-tiba saja dia menangis. Dia bukan gadis cengeng yang begitu dengan mudahnya mengeluarkan air mata. "Kenapa kau menangis, Yeolin. Apa ada yang sakit lagi ?" Tanya selir Huen khawatir bercampur panik. Demi dewa wanita yang berada di sampingnya ini benar-benar memiliki hati seorang malaikat. Dosa kah dia jika dia ingin egois untuk memiliki kaisar Wang Lee seutuhnya tanpa di bagi kepada siapa pun. Yeolin mengelengkan kepadanya dengan keras, tidak dia tidak mau menjadi wanita jahat. Lagi sejak awal kaisar Wang Lee memang bukan miliknya. Dan Yeolin harus tahu itu, dia tidak mungkin mampu menggeser posisi selir Huen dan selir Hubin yang sudah terlebih dahulu berada di dalam hati Kaisar Wang Lee. "Kau sakit lagi Yeolin ?" Tanya kaisar Wang Lee khawatir. Pertanyaan kaisar Wang Lee menyentak Yeolin dari pikiran buruknya kembali ke dunia nyata. Yeolin mengelengkan kepadanya pelan. "Tidak yang mulia, saya baik-baik saja." kata Yeolin pelan. Sedangkan ibu suri hanya memperhatikan Yeolin dengan lekat, dia tahu apa yang ada di dalam pikiran Yeolin. Karena dia dulu juga pernah berada di posisi Yeolin. Posisi di mana dia tidak dapat membagi miliknya dengan wanita lain. Hingga membuat hampir saja menjadi wanita jahat. Dan ibu suri tidak akan membiarkan itu terjadi pada Yeolin, cukup hanya dia saja yang pernah membuat kesalahan itu dan tidak untuk kedua kalinya. Bedanya dia dan Yeolin hanya satu, jika raja terdahulu sangat suka memilik selir berbeda dengan anaknya yang tidak pernah mau menyentuh selir- selirnya hingga sekarang. Dan membuat kaisar Wang Lee belum miliki anak untuk mewarisi tahtanya. "Baiklah sekarang sudah sore, lebih baik kalian kembali kekediaman kalian." Perintah ibu suri lembut tapi terdengar sangat tegas dan tidak ingin di bantah. Kaisar Wang Lee mengaggukan kepalanya pelan dan memeluk singkat tubuh Ibundanya sebelum pergi menjauh dari sana. Sedangkan selir Huen memperhatikan Yeolin dengan khawatir saat melihat wajah Yeolin yang awalnya ceria kini berbalik murung, dan itu benar-benar membuat hatinya merasa cemas.

BOOKMARK