Tambah Bookmark

12

Bab 11

Kaisar Wang Lee membalikan tubuh kecil Yeolin dengan lembut, menatap langsung kedua bola mata indah Yeolin-nya. Hanya dengan melihat tatapan polos serta sayup dari kedua bola mata indah Yeolin, sudah mampu membuat rasa rindu dan gelisah di hatinya lenyap begitu saja tanpa bekas. Dengan lembut kedua tangan kekar kaisar Wang Lee menarik lembut tubuh kecil Yeolin kedalam dekapannya. Yeolin menutup kedua matanya menikmati dekapan hangat serta lembut dari kaisar Wang Lee. Dekapan hangat yang mampu membuat perasaan Yeolin nyaman dan bahagia, yang entah dari mana. Kedua tangan kecil Yeolin membalas pelukan erat kaisar Wang Lee, memeluk erat tubuh tegap kaisar Wang Lee. Hanya dengan memeluk tubuh kaisar Wang Lee saja sudah dapat membuatnya merasa aman dan di sayangi. Kaisar Wang Lee melepaskan pelukannya dari tubuh Yeolin sambil tersenyum manis, senyum yang tidak pernah singgah di sudut bibir sejak kepergian sang ayah. Kaisar Wang Lee mengelus lembut pipi tirus Yeolin yah sudah sedikit berisi, tanpa melepaskan pandangannya dari kedua bola mata Yeolin. "Kenapa kau belum tidur, Yeolin ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut sangat lembut hingga terdengar seperti hembusan angin malam di musim semi di perhujung tahun. Kaisar Wang Lee menarik lembut tangan kecil Yeolin. Berjalan dengan pelan kearah kamar mereka. Sedangkan Yeolin hanya diam membisu, lidahnya terasa kelu, tidak dapat mengucapkan apa pun lagi. Perlakuan serta perkataan manis kaisar Wang Lee benar-benar membuat Yeolin tengelam ke dasar bahagiaan. Kaisar Wang Lee membimbing tubuh kecil Yeolin agar tertidur di ranjang besar mereka. Kaisar Wang Lee merangkak naik keatas ranjang dan merebahkan tubuhnya di samping kanan Yeolin. Kedua tangan kekar kaisar Wang Lee melingkar sempurna di pinggang kecil Yeolin, mengikis jarak yang ada di antara mereka berdua. "Tidur lah Yeolin ini sudah malam." kata kaisar Wang Lee. Perkataan kaisar Wang Lee bagai mantra pengantar tidur yang ampuh untuknya. Hanya dengan satu kalimat lembut dari kaisar Wang Lee sudah mampu membuat Yeolin jatuh tertidur. Padalah dari tadi dia tidak dapat menutup matanya tadi hanya karena kehadiran kaisar Wang Lee di sisinya sudah dapat membawa rasa nyaman dan hangat di hati Yeolin. 000 Kedua bola mata tajam itu tidak dapat tertutup, hanya memperhatikan wajah cantik seorang wanita yang tertidur dengan damai di dalam dekapannya. Raut wajah tampan yang selalu menunjukkan wajah dingin itu kini, terus saja tersenyum lembut. Hanya karena satu wanita sudah benar-benar dapat membuat hidupnya hanya berputar di sekeliling wanita cantik yang masih setia terpejam di dalam dekapannya. "Hanya dengan melihat mu saja sudah mampu menghilangkan semua rasa cemas dan rindu ku." bisik lirih kaisar Wang Lee Sambil mempererat pelukannya di pinggang kecil Yeolin. Senyum indah di bibir Yeolin terbit dengan sempurna di bibir Yeolin. Telinganya masih dapat mendengar dengan jelas kata-kata manis kaisar Wang Lee. 000 Yeolin terus tersenyum manis, membuat para pelayan di kediamannya mengeryit keningnya bingung. "Aku ingin pergi ke aula barat." kata Yeolin tiba-tiba membuat bibi Hun beserta pelayan di sana tersentak kaget. "Ta-pi...no-na.." balas bibi hun gugup. Wanita paruh baya itu tidak mungkin dapat menolak keinginan Yeolin. Jika kaisar Wang Lee tahu bahwa bibi hun berani menoleh ke Ingin Yeolin bisa di pastikan jika kepalanya tidak akan menempel lagi di lehernya. Wanita paruh baya itu meremas jari-jari dengan gugup bagaimana caranya dia menolak keinginan Yeolin tanpa harus menyakiti hati wanita polos itu. "Bibi, ayu kita pergi." ajak Yeolin sambil menarik tangan bibi hun. Sedangkan wanita paruh baya itu hanya dapat mengikuti langkah Yeolin dengan pasrah dengan pelayan istana yang setia mengikuti langkah kakinya. 000 Mata hitam tajam dingin itu menatap penuh amarah kepada pria yang ada di depannya. Kaisar Wang Lee mengepalkan kedua tangannya dengan kuat menahan emosi yang tidak dapat dia salurkan saat ini. Pandangan kian menggelap saat pria yang ada di hadapannya itu menggakat kepalanya dengan angkuh. Membuat kaisar Wang Lee menggeram marah. Tidak ada yang boleh menggakat kepalanya dengan angkuh di hadapannya. Ego kaisar Wang Lee terhina saat musuhnya tersenyum mengejek padanya. "Siapa pemimpin kalian ?" Tanya kaisar Wang Lee dingin. Bukannya menjawab pria itu justru tertawa lepas, seakan-akan menertawa kebodohan pertanyaan kaisar Wang Lee. "Anda tidak perlu tahu siapa pemimpin kami, yang perlu Anda tahu jika pemimpin kami pasti akan merebut istana ini." kata pria itu sambil tersenyum mengejek. Perkataan pria yang ada di hadapannya itu mampu menyulutkan emosi kaisar Wang Lee yang sedari tadi di tahanannya. "Kau�!!" geram kaisar Wang Lee sambil bangkit dari singgahsana kebesarannya. Kaisar Wang Lee mencabut pedangnya dengan gerakan cepat dan mengayunkan pedangnya kearah leher lawannya dan dalam hitungan detik leher itu sudah terputus dari kepalanya. "Yang mulia�" panggil suara lembut seorang wanita yang sudah sangat di hapalnya membuat semua aula barat itu panik. Dengan cepat kaisar Wang Lee menendang kepala musuhnya hingga ke pojok ruangan serta memerintahkan para pengawal istana untuk menyeret jauh tubuh pria tanpa nyawa itu. "Yeolin." kata kaisar Wang Lee lembut sambil membalikkan badannya dengan kaku. "Apa yang kau lakukan di sini, Yeolin ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut sambil mengelus lembut pipi Yeolin. Bibir Yeolin merucutkan kesal, membuat kaisar Wang Lee tidak tahan untuk tidak mencubit gemas kedua pipi berisi milik Yeolin. "Hamba bosen, yang mulia. Apa hamba tidak boleh jalan-jalan keluar istana ?" Tanya Yeolin takut-takut. "Tidak, kau tidak boleh keluar dari istana ini." jawab kaisar Wang Lee tegas sambil merengkuh pinggang Yeolin dengan erat. Membuat tubuh kecil Yeolin menempatkan dengan sempurna di dada bidang milik kaisar Wang Lee. Yeolin mencurutkan bibirnya kesal sambil menghentakkan kakinya. Kaisar Wang Lee mengecup lembut bibir Yeolin dan tersenyum kecil saat melihat wajah marah Yeolin berganti wajah malu. Rona merah di kedua pipi Yeolin menambah kecantikan Yeolin di depan mata kaisar Wang Lee. "Aku akan menemanimu nanti jalan-jalan, tapi setelah pekerjaan ku selesai ya." kata kaisar Wang Lee lembut. Kaisar Wang Lee berusaha memberikan pengertian kepada Yeolin agar mengurungkan niatnya untuk pergi keluar dari istana. Bagaimana jika nanti Yeolin di lukai oleh musuhnya saat wanita itu pergi berjalan-jalan keluar istana. Yeolin menganggukan kepalanya dengan tidak ikhlas, gagal sudah rencana yang ingin pergi berjalan-jalan keluar istana tanpa pengawalan ketat dari para prajurit istana kerajaan lauhan. Kaisar Wang Lee tersenyum melihat sikap sangat penurut padanya. "Bagus sekarang kembali kekediaman ku nanti aku jemput sebentar lagi." Perintah kaisar Wang Lee lembut. Kaisar Wang Lee melepaskan kedua tangannya yang melilit erat pinggang ramping Yeolin dengan lembut, sambil memerintah para pelayan istana segera membawa pergi Yeolin dari aula barat. Yeolin menghentikan langkah kakinya saat melihat sedikit bercak darah di jubah kebesaran kaisar Wang Lee. "Yang mulia, ini bekas nona apa?" Tanya Yeolin Bingung. Kaisar Wang Lee memperhatikan arah pandang Yeolin yang mengarah kearah jubah kebesaran yang terkena bercak darah bekas penghianat yang baru saja di bunuhnya. "Ini bukan bekas apa-apa, Sekarang kembali kekediaman mu, Yeolin." peringat kaisar Wang Lee lagi tapi kali ini dengan nada bicara yang sedikit tegas. Yeolin menganggukan kepalanya tanpa melepaskan pandangannya dari jubah kebesaran kaisar Wang Lee yang terkena bercak noda berwarna merah pekat mirip darah. Tapi Yeolin tidak tahu darah siapa dan siapa yang di bunuh kaisar Wang Lee. ..............................

BOOKMARK