Tambah Bookmark

14

Bab 13

Author POV Angin malam yang dingin sama sekali tidak membuat pria tampan yang menatap datar langit itu terganggu. Kaisar Wang Lee menatap langit malam di bawah kerajaan lauhan dengan penuh minat dan tidak lupa pula dengan raut datar yang menghiasi wajah tampannya. Besok adalah hari yang sangat penting bagi hidupnya sekaligus hidup kelangsungan kerajaan. Besok adalah hari di mana dia akan memilih permaisuri sekaligus ibu bagi anaknya. Kaisar Wang Lee menurunkan wajahnya saat telinganya mendengar deru langkah kaki, terdengar sangat familiar di telinganya. "Yang mulia." panggil jenderal Yeol sambil membungkuk sedikit badannya. "Bagaimana semua persiapannya ?" Tanya kaisar Wang Lee tanpa mau repot-repot membalikan badan kekarnya kearah orang yang sangat di percayanya sekaligus teman baiknya. "Semuanya sudah di persiapkan oleh ibu suri, yang mulia dan besok pagi acara pernikahan sekaligus pelantikan permaisuri akan di langsung." jawab jenderal Yeol sopan dan balas anggukan kepala oleh jenderal Yeol. "Kau boleh pergi." Perintah kaisar Wang Lee datar pada jenderal Yeol. "Baik yang mulia." balas jenderal Yeol sopan. Kaisar Wang Lee tersenyum kecil Setelah kepergian jenderalnya. Besok dia akan memiliki Yeolin seutuhnya dan hanya untuknya. Kaisar Wang Lee membalikan badannya dan berjalan dengan langkah lebar kearah kediaman Yeolin. Dia merindukan Yeolin-nya, merindukan aroma serta senyum manis Yeolin-nya. 000 Pagi hari yang indah di kerajaan Lauhan, Sudah terlihat sibuk. Semua pelayan serta prajurit kerajaan lauhan Sudah sibuk mengurus acara pelantikan Yeolin menjadi permaisuri kerajaan Lauhan sekaligus acara pernikahan kaisar Wang Lee dengan Yeolin. Ibu suri sudah terlihat sibuk sedari tadi memperhatikan perkerja pelayan istana. Sedangkan selir Huen juga tidak kalah sibuk sedari tadi malam, selir pertama kaisar Wang Lee ini sudah sibuk mempersiapkan baju serta perhiasan yang akan di pakai oleh Yeolin nanti. Selir Huen berdecak kesal saat melihat Yeolin yang masih tertidur pulas di atas ranjangnya. Dengan kesal selir Huen menarik selimut tebal yang menutupi tubuh Yeolin dengan sekali tarikan selimut yang menutup tubuh Yeolin kini sudah tergeletak di bawah lantai. Yeolin mengulurkan tangannya meraba-raba sisi ranjang besarnya, mencari selimut ya selalu menutupi tubuhnya dengan mata ya masih tertutup. Yeolin membuka matanya dengan terpaksa saat tangannya tidak mendapatkan apa yang di carinya. Dengan kesal Yeolin menatap selir Huen yang sedang menahan tawanya melihat kelakuan lucu Yeolin. Memangnya apanya yang lucu saat tangannya sedang berusaha mencari teman tidurnya yang paling setia itu. "Kembalikan selimut ku, selir Huen" kata Yeolin dengan nada merajuk. "Tidak, sekarang kau mandi habis itu langsung berpakaian. Pakaian akan di bawah oleh pelayan" perintah selir Huen mutlak. "Tapi aku masih mengantuk." kata Yeolin manja. "Tidak pokoknya sekarang kau harus mandi." Perintah selir Huen lagi dan kali ini di barengi dengan pelototan matanya. Dan membuat Yeolin mau tidak mau harus turun dari ranjang kebesarannya dan melangkah dengan enggak kearah kamar mandi ya berada di samping kiri kamar. Selir Huen tersenyum lebar saat melihat wanita keras kepala seperti Yeolin mau menurutinya, ya walaupun pun dengan sedikit paksaan di dalamnya. Yeolin membuka pakaian dengan bantuan para pelayan, Walaupun dia sudah melarangnya tetap saja para pelayan istana itu tidak mengibahkan keinginan itu. Yeolin mendesah nikmat saat air panas yang berada di dalam kolam mengenai tubuh telanjangnya. Dengan lembut para pelayan istana kerajaan lauhan itu membasuh sekaligus menggosok tubuh telanjang Yeolin. Yeolin melongok kaget saat melihat begitu banyak perhiasan serta baju mewah di atas ranjangnya, memangnya ada acara apa hingga dia harus memakai pakaian mewah serta perhiasan mahal. Dia bukan anak seorang bangsawan dia hanya anak seorang kepala desa, yang beruntung memasuki istana Lauhan yang terkenal mewah dan besar. Dengan ragu Yeolin mengulurkan tangannya, mengelus permukaan lembut baju sutra yang sangat indah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia melihat baju semewah ini. "Mari saya bantu memakainya nona." kata bibi hun dengan nada lembut. Jika bibi Hun adalah ibu kandungnya maka pasti saat ini dia akan menangis sambil memeluk erat tubuh tambun ibunya. Tapi ibu untuk bersentuhan saja dengan jijik apa lagi memeluknya. Sungguh miris nasib, hanya karena dia terakhir cacat tidak ada yang mau berteman atau pun menyayangi kecuali pelayan setianya, Hani. Yeolin menganggukkan kepalanya pelan dengan mata berkaca-kaca, dia benar-benar sangat menyayangi wanita paruh baya di hadapannya ini. Dengan lembut dan penuh perhatian bibi Hun memakaikan pakaian serta perhiasan ketubuh Yeolin dengan sempurna hingga membuat Yeolin terlihat berpuluh-puluh kali lebih cantik dari biasanya. Pria tampan dengan tatapan tajam itu kini hanya diam saat salah satu pelayan istana memakaikaan jubah mewah dengan akses emas di setiap sudut serta gambar naga di sekitar Pinggangnya. Kaisar Wang Lee dengan datar menatap wajah sendiri di pantulan cermin kamarnya. Hari ini adalah hari paling bersejarah dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya seorang raja dari kerajaan Lauhan yang terkenal kejam dan bertangan dingin menjadi seorang wanita biasa sebagai permaisuri kerajaan lauhan. Yang berarti menjadi istri sahnya. Dengan langkah tegas kaisar Wang Lee Keluar dari dalam kamarnya dan berjalan dengan cepat ke kediaman Yeolin. Hatinya benar-benar rindu pada wanita dengan satu kakinya yang cacat itu. Jika orang lain selalu menatap jijik dan kasihan pada Yeolin. Maka kaisar Wang Lee akan selalu memberikan tatapan penuh cinta dan memuja darinya. Kaisar Wang Lee terpaku di depan pintu kamar Yeolin, saat melihat Yeolin yang terlihat sangat cantik, bukan berarti Yeolin setiap harinya tidak cantik. Tapi untuk malam ini Yeolin terlihat beribu-ribu kali lipat lebih cantik. "Yeolin�" panggil kaisar Wang Lee lembut. Membuat wajah cantik Yeolin menoleh ke arahnya. Namun dengan cepat Yeolin menundukkan kepalanya lagi. Jantungnya berdegup kencang saat matanya bertemu dengan mata hitam tajam milik kaisar Wang Lee. Dengan lembut tangan kekar kaisar Wang Lee mengangakat dagu Yeolin hingga membuat wajah cantik Yeolin menatap wajahnya. Kaisar Wang Lee mengelus bibir bawah Yeolin dengan gerakan seksual. Membuat bulu kuduknya berdiri, bukan hanya bulu kuduknya yang berdiri tapi juga vaginanya ya sudah berdenyut nikmat. Yeolin tiba- tiba saja mengelengkan-gelengkan kepalanya cepat. Bagaimana bisa dia memikirkan tentang hal kotor pada kaisar Wang Lee. Dia bisa kena hukum mati jika kaisar Wang Lee tahu bahwa dia baru saja memikirkan tentang hal kotor tentang kaisar Wang Lee. Pandangan Yeolin jatuh pada jari-jari tangan kaisar Wang Lee yang panjang dan kokoh, dan pikiran buruk itu datang lagi. Yeolin membayangkan bagaimana jika jari-jari tangan kaisar Wang Lee mengelus dan mengocok lubang vagina dengan gerakan cepat dan berirama. Membuat mereka berdua mencapai puncak kenikmatan. Kaisar Wang Lee mengecup lembut bibir manis Yeolin, membuat wanita cantik itu tersentak kaget dari lamunan kotornya. "Aku kita pergi, mereka semua sudah menunggu kita." kata kaisar Wang Lee lembut. 'menuggu kita' dua kata yang mampu membuat Yeolin mengeryit kan keningnya bingung. Untuk apa mereka di tunggu ada acara apa yang akan mereka hadiri nanti. Pertanyaan demi pertanyaan berputar dengan sempurna di dalam otaknya. Tanpa dia sadari jika kaisar Wang Lee sudah menarik lembut tangan dan berjalan keluar dari dalam kamar Yeolin. Berjalan kearah gerbang istana barat tempat di mana ritual penggangakan permaisuri serta acara pernikahan di ada kan. ......................................

BOOKMARK