Tambah Bookmark

15

Bab 14

Author POV Yeolin hampir saja mempermalukan dirinya sendiri dengan membuka mulutnya lebar-lebar, saat melihat semua mata menatap dengan hormat. Kaisar Wang Lee menarik lembut tangan mungil Yeolin, membawa wanita cantik itu berjalan kearah kursi kebesarannya. Dengan lembut kaisar Wang Lee mendorong bahu Yeolin hingga terduduk di kursi kebesarannya. Kaisar Wang Lee menatap geli Yeolin yang masih terlihat kaget, dengan lembut jari-jari tangan kaisar Wang Lee mengelus lembut pipi Yeolin, membuat calon istrinya itu menatap kearahnya. "Ini apa yang apa mulai ?" Tanya Yeolin Bingung melihat pesta pernikahan. "Pesta pernikahan." jawab kaisar Wang Lee singkat, jawaban kaisar Wang Lee tidak dapat membuat Yeolin puas. "Pernikahan siapa ?" Tanya Yeolin lagi. "Kita." jawab kaisar Wang Lee lembut. Jawaban kaisar Wang Lee membuat Yeolin tersentak kaget dan ingin menegelamkan dirinya sendiri saat ini juga. "Tapi saya tidak mau menikah dengan anda yang mulia." kata Yeolin membuat air wajah kaisar Wang Lee berubah yang tadinya tersenyum kini menatap dingin serta tajam Yeolin. Membuat nyali Yeolin menciut seketika, baru pertama kalinya Yeolin melihat dingin serta tajam kaisar Wang Lee yang pria tampan itu lemparkan padanya. "Aku tidak meminta pendapat mu, mau atau tidak mau kau akan tetap menjadi istri ku." kata kaisar Wang Lee dingin. Membuat kedua mata Yeolin berkaca-kaca bagaimana bisa kaisar Wang Lee memaksanya untuk menikah. Di saat dia tidak mau menikah dengan pria itu. Yeolin membuang mukanya ke samping, sambil menghapus kasar air matanya. Upacara pernikahan kaisar Wang Lee dan Yeolin berjalan lancar, serta pelantikan Yeolin menjadi permaisuri pun berjalan dengan meriah. 000 Yeolin menangis sesenggukan di sambil memasuki kamar kaisar Wang Lee yang mulai dari sekarang akan menjadi kamarnya juga. Tidak, dia tidak bisa seperti ini. Dia harus bicara dengan kaisar Wang Lee. Dengan langkah pasti Yeolin Keluar kembali dari dalam kamarnya dan berjalan dengan pelan kearah ruang kerja kaisar Wang Lee. Yeolin menghentikan langkah kakinya saat telinganya mendengar suara seorang pria yang sarat akan rasa sakit. Yeolin memperlambat langkahnya sambil mendekati pintu ruang kerja kaisar Wang. Kedua mata indah Yeolin terbelalak kaget saat melihat pedang kaisar Wang Lee menebus jantung prajurit kerajaan lauhan dengan begitu kejamnya. Hingga membuat Yeolin tanpa sabar menjatuhkan guci antik yang berada di dekatnya. 000 BRAKK BRAKK BRAKK Semua barang yang berada di sana sudah tidak berbentuk lagi. Kemarahan kaisar Wang Lee membuat semua prajurit serta jenderal serta panglimanya takut. Untuk pertama kalinya seorang wanita mampu mengacaukan hati serta pikiran kaisar Wang Lee. Hanya karena seorang wanita dia kehilangan kontrol dirinya sendiri. Dan hanya Yeolin yang mampu membuatnya gila hingga menghancurkan semua benda di dalam ruang kerjanya serta membunuh prajuritnya hanya untuk melampiaskan semua amarahnya terhadap Yeolin. Tapi kenapa, kenapa dia harus. Lagian dia hanya akan membuat Yeolin menjadi pemuas nafsunya saja. Apa dia marah karena penolakan Yeolin atau yang lain. "AHHHH...." kaisar Wang Lee berteriak keras sambil mengarahkan pedangnya tepat ke jantung prajuritnya hingga membuat orang yang berada di sana menggigil ketakutan. Mereka tidak pernah melihat kaisar mereka seperti ini sebelumnya. Pria tampan yang selalu terlihat wibawa kini terlihat sangat menakutkan hingga membuat siapa saja tidak mau hanya sekedar untuk mendekatkan saja. BRAKK Suara benda terjatuh membuat semua mata yang berada di sana menatap kearah pintu masuk. Kaisar Wang Lee menyerigai kejam saat melihat sumber kemarahan berdiri dengan ketakutan di depan pintu. Tubuh Yeolin menegang saat melihat kaisar Wang Lee mendekat dengan langkah pelan kearahnya. "Yang mulia�" cicit Yeolin pelan. Sangat pelan seakan-akan suaranya menghilang dari tenggorokannya. "Kenapa ? Takut?" Tanya kaisar Wang Lee Sambil menyerigai lebar terlihat sangat menakutkan, tidak dia bukan kaisar Wang Lee yang dia kenal. Kaisar Wang Lee yang dia kenal sangat lembut dan baik pada tidak terlihat seperti sekarang, bener-bener terlihat seperti monster. Yeolin berteriak kecil saat dengan mudahnya kaisar Wang Lee menggakat tubuh ke pundak lebarnya. Menggendongnya sepertinya karung beras. Dengan langkah lebar kaisar Wang Lee berjalan kearah kamar mereka. Menuntaskan hasratnya kepala wanita yang mulia hari ini menjadi istrinya. Yeolin memukul-mukul keras punggung tegap kaisar Wang Lee Sambil terus berteriak keras dan menangis sesenggukan. Kaisar Wang Lee membuka pintu kamarnya dengan kasar setelah itu membanting tubuh Yeolin keranjang besar mereka. "Ampun yang mulia, saya mohon jangan." mohon Yeolin. Tapi kaisar Wang Lee seakan-akan tuli. Dia sama sekali tidak peduli dengan air mata serta tangisan iba Yeolin. Baginya yang terpenting sekarang adalah menuntaskan semua hasratnya terhadap Yeolin. "Memohon lah terus, sayang. Kau terlihat lebih cantik saat mohon pada ku." kata kaisar Wang Lee sambil merobek baju sutra milik Yeolin. Hingga tubuh polos Yeolin terpampang dengan jelas di depan mata tajam kaisar Wang Lee. Yeolin terus saja memberontak berusaha melepaskan diri dari kaisar Wang Lee. Dengan sigap kaisar Wang Lee mengikat kedua tangan Yeolin dengan ikat pinggangnya. "Brengsek�" umpat Yeolin. PLAK Kaisar Wang Lee menampar pipi mulus Yeolin dengan keras, hingga membuat sudut bibir Yeolin terluka. Rasa asin dari darah bercampur air matanya membuat Yeolin tidak henti-hentinya terus berontak. Dengan kasar kaisar Wang Lee meremas payudara Yeolin. Membuat Yeolin menjerit sakit. Kaisar Wang Lee melumat pucuk payudara Yeolin mengulumnya dengan nikmat layaknya bayi yang kehausan. Hisapan demi hisapan kaisar Wang Lee berikan di sepanjang tubuh Yeolin, meninggalkan bercakap-cakap merah keunguan. Kaisar Wang Lee melumat bibir Yeolin berusaha menghentikan gerakan serta Teriakan Yeolin. Kaisar Wang Lee membuka lebar kedua pahanya lebar-lebar, menegelamkan wajahnya di tengah-tengah selangkangan Yeolin. Melumat rakus vagina Yeolin membuat Yeolin berteriak keras antara nikmat dan malu. Yeolin mengigit bibir bawah dalam-dalam berusaha untuk tidak mengeluarkan sedesahan yang mampu membuat harga dirinya luntuh seketika. "Nikmat ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut sambil menyeringai licik. Dengan cepat kaisar Wang Lee memposisikan dirinya sendiri di atas Yeolin. Yeolin mengelengkan kepadanya keras saat tangan kaisar Wang Lee sudah mengarah kejantanannya ke lubang vaginanya. Kaisar Wang Lee menggesek-gesekkan kejantanannya di bibir vagina Yeolin, hingga membuat Teriak marah Yeolin sedikit demi sedikit berubah menjadi desahan kenikmatan. Yeolin tersentak kaget saat benda tumpul nan keras milik kaisar Wang Lee memasuki lubang vagina dengan perlahan-lahan dan hati-hati. "Usss, jangan nangis ya sayang, rasanya tidak akan sakit." bujuk kaisar Wang Lee lembut sambil mengelus lembut rambut hitam panjang Yeolin. Dengan sekali hentakan keras kaisar Wang Lee mampu memasukan kejantanannya kedalam liang vagina Yeolin dengan sempurna. Membuat Yeolin berteriak sakit. Apanya yang tidak sakit, rasanya sangat sakit. Dirinya terasa terbelah menjadi dua saat kejantanan kaisar Wang Lee dengan sempurna menembus selaput daranya. Membuat Yeolin kehilangan keperawanan saat itu juga. Yeolin menangis keras, menangisi nasib buruknya yang harus kehilangan keperawanan dengan cara terpaksa Walaupun harus dia akui bahwa rasanya sangat nikmat. Kaisar Wang Lee bergerak dengan pelan, mengikuti irama serta narurinya sebagai lelaki. Gerakan kejantanannya kaisar Wang Lee yang awalnya pelan dan lembut, kini semakin cepat dan terkesan kasar membuat Yeolin mencakar lengan kekar kaisar Wang Lee, hingga meninggalkan luka bakar di lengan kekar kaisar Wang Lee. "AHHHHHH...YANG MULIA..." Teriak panjang kenikmatan Yeolin. Wanita cantik itu menangis dengan keras di atas ranjang besar nan empuknya. Rasanya air matanya tidak mau berhenti keluar dari mata indahnya. Selir Huen terus mengurung dirinya di dalam kamar. Bahkan ke pernikahan kaisar Wang Lee dan Yeolin pun tidak Sudi hanya untuk sekedar melihatnya saja. Kemarahannya tidak terkendali, terbukti dari banyaknya barang yang pecah di dalam kamarnya. "Kenapa yang mulia, kenapa wanita itu?" gumam selir Huen terus menerus. Tidak henti-hentinya kata kenapa keluar dari bibir tipis merah mungil milik selir Huen. ............................

BOOKMARK