Tambah Bookmark

23

Bab 22

Part 22 Author POV. Bibir kecil Yeolin terus saja mengeluarkan sumpah serapannya terhadap kaisar Wang Lee. Bagaimana bisa suaminya itu tidak mau melepaskannya barang sejam saja. Terus saja mengendongnya kemana pun pria itu pergi. Sedangkan kaisar Wang Lee tetap berbicara dengan tenang kepada semua perdana menteri tanpa memperdulikan tatapan serta wajah kesal istrinya. Dengan kesal Yeolin memukul keras tangan kekar kaisar Wang Lee Membuat semua mata orang yang berada di ruang pertemuan itu menatap Yeolin tidak percaya. Untuk pertama kalinya mereka melihat seorang wanita berani memukul seorang kaisar. Apa ini adalah kaisar Wang Lee. "Kenapa, sayang ?" Tanya kaisar Wang Lee kalem seperti tidak melakukan apa pun. Yeolin mendengus kesal bagaimana bisa suaminya ini bersikap seakan-akan tidak ada apa-apa. Oh dewa rasanya dia benar-benar ingin menjambak rambut hitam panjang suaminya itu atau kalau bisa dia ingin mematahkan tulang lehernya saja. Yeolin menggelengkan kepadanya kuat-kuat. Tidak..dia tidak mau menjadi janda muda hanya karena mematahkan tulang leher suaminya. Lagi pula dia masih sayang dengan nyawanya, mana mau dia di hukum mati hanya karena membunuh pria paling berkuasa di dinasti Ming. Kaisar Wang Lee mengigit keras permukaan leher Yeolin, membuat Yeolin tanpa sabar mendesah di depan semua perdana menteri sekaligus utusan kerajaan tetangga. "Hmmm...yang mulia." dehem kasim Han cukup keras, berusaha menghentikan tindakan memalukan kaisarnya. "Hmmm." jawab kaisar Wang Lee tanpa mengibahkan peringatan tidak langsung dari kasimnya. BUK "Aww…" jerit kecil kaisar Wang Lee. Saat tangan kecil istrinya itu melayangkan kembali pukulannya. Ini sudah kedua kalinya kaisar Wang Lee menerima pukulan dari istrinya dan kali ini dia mendapat pukul dia bahu kekarnya. Dengan kesal Yeolin bangun dari pangkuan kaisar Wang Lee dan berjalan keluar dari aula pertemuan tanpa melihat lagi ke wajah kaisar Wang Lee yang manatap istrinya tidak percaya. "Ikuti istri ku Kasim Han." perintah kaisar Wang Lee saat dia sudah tersadar dari rasa terkejutnya. Kaisar Wang Lee melanjutkan kembali pertemuannya dengan para menteri serta istana tetangga yang tadi sempat berhenti karena perbuatan mesumnya terhadap Yeolin. Sedangkan Yeolin terus berjalan kearah istana bulan tanpa memperdulikan Teriak Kasim Han yang menyuruhnya untuk memelankan langkah kakinya. "Yang mulia permaisuri." panggil kasim Han pelan saat pria paruh baya itu sudah dapat berdiri di depan Yeolin. Yeolin menghentikan langkah kakinya saat melihat Kasim Han yang terlihat sangat kelelahan. "Hamba mohon untuk memelankan langkah kaki anda, yang mulia permaisuri." kata kaisar Wang Lee sopan saat dia sudah dapat mengatur nafasnya. Yeolin mengendus keras dan berjalan dengan langkah pelan seperti keinginan kasim Han. Sedangkan di Belakang Yeolin kasim Han menghelai nafas lega Sambil mengikuti langkah kaki Yeolin dari belakang. Yeolin tersenyum senang saat mata indahnya melihat pelayan sekaligus sahabat baiknya dari kecil sedang berdiri dengan setia di depan pintu kamarnya. Dengan semangat Yeolin berjalan kearah Hani yang masih gelisah menunggu kepulangan nona mudanya. "Hani." panggil Yeolin senang. Hani mengalihkan menoleh kepadanya ke samping saat telinganya mendengar suara lembut wanita yang sudah lama di layani. "Yang mulia permaisuri." kata Hani senang sambil berlari memeluk tubuh kecil nyonya mudanya. "Anda dari mana saja, permaisuri. Saya mencari anda dari tadi, saya pikir Anda kabur." kata Hani sambil bergerik ngeri. Dia tidak dapat membayangkan bagaimana hidupnya jika nyonya mudanya benar-benar kabur dari istana. Mungkin dia akan berakhir di tiang gantungan dengan julukan penghianat. Yeolin memajukan bibirnya kesal. Semau orang yang berada di istana tidak ada yang mempercayainya, memang dia akan kecil yang tidak tahu jalan pulang ke kerumahnya sendiri. Ini semua karena kaisar Wang Lee yang selalu mengekangnya dan selalu memerintahkan para pelayan serta prajurit kerajaan untuk selalu mengikutinya. "Aku bukan anak-anak lagi, Hani." kata Yeolin kesal. "Tapi anda tingkah laku anda masih seperti anak-anak, permaisuri." jawab Hani lancang Membuat kasim Han yang masih berdiri di belakang Yeolin tidak dapat menahan tawanya. Yeolin menatap tajam Kasim Han hingga membuat pria paruh baya itu berdehem kaku. "Berani menertawakan ku, aku adukan pada kaisar." kata Yeolin kesal. Kasim Han membungkuk sedikit badannya dan pamit undur diri dari hadapan Yeolin. "Saya permisi dulu, permaisuri." kata Kasim Han kaku. Kasim Han membalikan badannya dan berjalan cepat, pergi dari hadapan Yeolin dan juga Hani. "Ayo masuk, yang mulia. Anda harus tidur siang." kata Hani geli Yeolin mendengus kesal, bagaimana bisa harus mengikuti semua perintah kaisar Wang Lee. Dari mulai tidur siang, makan dan juga mandi harus perintah dari kaisar Wang Lee. "Iya." balas Yeolin jutek sambil menghentakkan kakinya kesal. Sedangkan Hani yang mengikuti langkah Yeolin dari belakang hanya tertawa kecil. 􀀁􀀁􀀁 Sentuhan lembut di permukaan wajahnya membuat Yeolin terusik dari tidur nyenyaknya. Yeolin membuka matanya dengan perlahan dan melihat dengan jelas wajah tampan suaminya yang sedang tersenyum manis. "Yang mulia." kata Yeolin pelan. "Usss..." Bisik kaisar Wang Lee sambil menaruh hari telunjuknya di depan bibir Yeolin. "Panggil aku Jiahon, sayang." tubuh Yeolin menegang saat telinganya mendengar suara serak dan berat yang sarat akan gairah. Bukan....bukan itu yang membuat Yeolin bingung, tapi suara serta nama kaisar Wang Lee yang berubah. "Yang mulia." kata Yeolin bingung. Ya dia bingung, apa yang harus dia katakan. Semua suaranya seakan-akan tidak keluarkan dan di tertahan di tengah tenggorokannya. "Bukankah kau ingin bertemu dengan ku, aku sudah datang sekarang, di sini di hadapan mu." kata jiwa lain kaisar Wang Lee. Tangannya yang awalnya mengelus lembut permukaan pipi Yeolin kini merambat turun ke leher dan payudara Yeolin yang masih tertutup baju tidur tipis. "Ssshhh..ahhh..yang mulia…" desah Yeolin panas. "Ya mendesah lah untuk ku, sayang. Hanya aku yang boleh membuat mu mendesah serta berteriak puas." kata jiwa lain kaisar Wang Lee Bibir panas jiwa lain kaisar Wang Lee menghisap serta mengigit kecil permukaan leher yang lembut. Meninggalkan banyak jejak merah kebiruan. Dengan gerakan cepat tangan kekar jiwa lain kaisar Wang Lee atau biasa di panggil kaisar Wang Lee dengan nama kaisar Wang jiahon. "Siapa kamu ? kamu bukan kaisar Wang Lee ?" Tanya Yeolin di tengah-tengah desahannya. "Aku kaisar Wang Jiahon." kata kaisar Wang jiahon di permukaan leher Yeolin. "Kenapa kamu ada di tubuh kaisar Wang Lee ?" Tanya Yeolin lagi. Rasa penasaran belum terjawab hanya karena satu jawaban dari bibir kaisar Wang Lee atau kaisar Wang jiahon. "Karena kami memiliki tubuh yang sama." jawab kaisar Wang Jiahon yang kali ini menatap lembut kedua mata indah Yeolin. "Maksud mu ?" Tanya Yeolin yang masih terlihat binggu. Kaisar Wang Jiahon terkekeh kecil, Membuat kadar ketampanannya meningkat. Kaisar Wang Jiahon mencubit gemas hidung kecil Yeolin, membuat wanitanya itu mengaduh kesakitan. "Aku kan Wang Lee memiliki tubuh yang sama atau bisa di bilang satu tubuh dua jiwa." jawab kaisar Wang Jiahon membuat Yeolin membuka mulutnya lebar-lebar. "Tapi bagaimana bisa ?" Tanya Yeolin kurang percaya dengan penjelasan kaisar Wang Jiahon. "Tentu saja bisa, sayang." Jawab kaisar Wang jiahon. "Aku terlahir dari rasa sakit, keputus asaan, dan juga rasa benci." kata kaisar Wang Jiahon. "Apa anda akan menyakiti saya ?" Tanya Yeolin waswas dengan sedikit rasa takut di hatinya. Kaisar Wang Jiahon menghelai nafas pelan. "Aku tidak mungkin menyakiti mu, sayang. Aku bahkan sangat mencintai diri mu." kata kaisar Wang Jiahon begitu lembut hingga setiap kata mengalun dengan indah di kedua telinga Yeolin. Kaisar Wang Jiahon menarik lembut tangan Yeolin dan mengecup mesra punggung tangan Yeolin, Membuat rona merah di kedua pipi putih Yeolin tidak dapat di sembunyikan. "Kau sangat cantik dengan rona merah di kedua pipi mu." kata kaisar Wang Jiahon membuat wajah Yeolin bertambah merah. "Jangan mengoda ku, yang mulia." kata Yeolin pelan sambil menutup wajah cantiknya dengan kedua tangan kecilnya. "Siapa yang mengoda mu, sayang ? Aku hanya berbicara apa adanya." kata kaisar Wang Jiahon semakin membuat Yeolin malu. Kaisar Wang Jiahon menundukkan kepalanya dan melumat lembut bibir Yeolin. Kaisar Wang Jiahon mengigit bibir bawah dengan cukup keras hingga membuat Yeolin membuka mulutnya. Kaisar Wang Jiahon memasukan lidahnya, menghisap dan membelit lidah Yeolin. Yeolin yang awalnya tidak membalas ciuman kaisar Wang Jiahon kini ikut melumat serta melilit lidahnya dengan lidah kaisar Wang Jiahon. Suara decakan demi decapan terdengar dengan jelas di telinga para pelayan serta prajurit kerajaan Lauhan yang masih setia berdiri dengan pintu kamar Yeolin. Membuat wajah mereka semua memerah malu sambil menunduk kepadanya, seakan-akan tidak mendengar suara apapun dari dalam kamar kaisar mereka. Tangan kaisar Wang Jiahon meremas kuat payudara sintal milik Yeolin. Hingga membuat istrinya itu mendesah nikmat di sela-sela lumatannya. "Yang mulia... ahhhh…." desah Yeolin kuat. "Ya mendesah lah terus untuk ku, sayang. Aku suka mendengar suara desah mu yang terdengar sangat seksi dan bergairah." kata kaisar Wang Jiahon sambil terus meremas payudara sintal milik Yeolin. Kedua tangan kekar kaisar Wang Jiahon dengan leluasa melucuti semua pakaian tidur Yeolin hingga membuat istrinya itu telanjang bulat di depannya. Dengan lembut jari-jari kaisar Wang jiahon mengelus sekali mengocok lubang vagina Yeolin. Membuat Yeolin mendesah semakin keras. "AHHHH….." teriak kenikmatan Yeolin saat Yeolin mendapatkan pelesaannya. Tubuh Yeolin terlentang lemas dengan deru nafasnya yang tidak beraturan. Kaisar Wang Jiahon mengeluarkan jari-jarinya dari lubang vagina Yeolin dan menghisap serta menjilati jari-jari yang basah karena cairan kenikmatan Yeolin, di depan wajah Yeolin. Hingga membuat wajah cantik istri itu merah padam. "Rasanya sangat gurih dan manis." kata kaisar Jiahon tanpa malu membuat wajah Yeolin bertambah merah. "Apa sekarang aku boleh memasuki mu, sayang ?" Tanya kaisar Wang Jiahon. Yeolin mengaggukan kepalanya pelan dengan rona merah yang tidak pudar dari kedua pipinya, membuat terlihat berkali-kali lipat lebih cantik di mata kaisar Wang Jiahon.

BOOKMARK