Tambah Bookmark

24

Bab 23

Part 23 Author POV. Kaisar Wang Jiahon mengarahkan Kejantanan yang sudah berdiri dengan tegak kearah lubang vagina Yeolin. Yeolin mendesah nikmat saat kejantanan kaisar Wang Jiahon memasuki miliknya dengan perlahan dan begitu lembut. membuat Yeolin mendambakan kejantana kaisar Wang Jiahon menusuk kuat dan kasar miliknya hingga membuatnya lupa daratan dan bagai terbang ke atas langit. Kaisar Wang Jiahon memaju-mundurkan kejantanannya dengan pelan dan lembut membuat Yeolin mengigit bibir bawah. "Aku ingin gerakan yang cepat dan keras, mulai..." bentak Yeolin kesal. Kaisar Wang Jiahon terkekeh geli melihat wajah kesal wanitanya. "Baiklah, sayang. Aku akan bergerak dengan keras dan kasar hingga kau tidak dapat meminta ku untuk berhenti." kata kaisar Wang jiahon serak. Kaisar Wang Jiahon mengerakan kejantanannya dengan keras. membuat Yeolin terus mendesah dengan keras. Desah demi desah serta teriak kenikmatan Yeolin memenuhi seisi kamar yang awalnya senyap menjadi penuh dengan suara Erotis dan seksual. "Ahhhhhh...yang mulia…..." Teriak Yeolin keras saat gejolak kenikmatan datang menikam relung hatinya dan hanya menyisakan serpihan kenikmatan. Kaisar Wang Jiahon memeluk erat tubuh kecil Yeolin sebelum memuntahkan semua spermanya ke dalam rahim Yeolin. Kaisar Wang Jiahon terjatuh di samping Yeolin, tanpa melepaskan kejantanannya dari dalam liang vagina Yeolin. "Ya-ng..mu-lia…" panggil Yeolin gugup saat dia sudah dapat mengatur deru nafasnya. "Hmmm." jawab kaisar Wang jiahon Sambil mempererat pelukannya pada tubuh kecil Yeolin. "Hmmm, itunya masih di berada di dalam ku, yang mulia." kata Yeolin pelan dengan kedua pipinya yang sudah memerah malu. Kaisar Wang Jiahon tertawa lepas hingga membuat tubuh kekarnya terguncang hebat. "Hahahaha." tawa kaisar Wang Jiahon membuat Yeolin kesal. Dengan kesal Yeolin memukul keras Dada bidang kaisar Wang Jiahon. Membuat tawa suaminya itu berhenti. "Aku risih yang mulia." kata Yeolin kesal. "Sudah tidur, sayang. Sebelum aku menyerang mu lagi." kata kaisar Wang Jiahon serak. Terbukti perkataan kaisar Wang Jiahon mampu membuat Yeolin menutup kedua matanya dengan terpaksa dan erat-erat. Membuat kaisar Wang Jiahon terkekeh geli. Yeolin tertidur pulas di dalam dekapan hangat kaisar Wang Jiahon. sinar lilin di kamar mereka membuat kaisar Wang Jiahon dapat leluasa melihat dan mengagumi setiap inci tubuh indah serta wajah cantik Yeolin. 􀀁􀀁􀀁 Hani menekuk wajahnya dengan muram bagaimana bisa nona-nya bermesraan dengan kaisar Wang Lee tanpa memikirkan perasaan yang masih sendiri. "Wajah cantik mu akan cepat tua jika kau terus menekuk wajah mu." kata suara berat yang tiba-tiba saja masuk ke telinga Hani. Hani mendengus kesal saat melihat wajah tampan jenderal Yeol yang menatapnya sambil tersenyum manis. Jika semua wanita akan merasa senang mendapat senyum manis dari salah satu petinggi kerajaan Lauhan. Hani justru sebaliknya dia merasa mual saat melihat senyum manis jenderal Yeol. Sampai-sampai rasanya dia ingin memuntahkan semua isi perutnya. Bagaimana bisa kaisar Wang Lee yang terkenal kejam dan dingin Memiliki jenderal yang memiliki otak kotor dan juga mesum. "Kenapa melihat ku seperti itu, ah...kau baru sadar ya kalau aku ini sangat tampan." kata jenderal Yeol Benar-benar Membuat Hani ingin membunuh sekarang juga. Jika saja membunuh seorang petinggi kerajaan Lauhan bukan sesuatu kejahatan mungkin sudah dari kemarin Hani membentur kepala pria mesum yang ada di hadapannya ini ketembok. Dia tidak mau mati mudah hanya karena tubuhan pembunuhan berencana. Lagi-lagi Hani mengendus kesal sambil memutar bola matanya malas. "Apa yang Anda lakukan di sini jenderal ?" Tanya Hani malas dengan sedikit nada sinis di dalam suaranya. "Melihat mu," jawab jenderal Yeol santai tanpa memperdulikan tatapan tajam Hani. Hani pergi tanpa memperdulikan tatapan lembut yang jenderal Yeol lemparkan padanya. "Eh..mau kemana, Cantik ?" Tanya jenderal Yeol manja sambil menarik lembut tangan Hani lembut. "Pergi." jawab Hani ketus. "Est...jangan pergi dulu, Cantik." kata jenderal Yeol sambil tersenyum lebar. "Bagaimana kalau sekarang kalau kita pergi jalanjalan." lanjut jenderal Yeol yang langsung saja menarik tangan Hani tanpa mendengarkan Jawaban dari Hani. "Eh...apa tunggu dulu…" kata Hani panik. Rasanya dia ingin berteriak sekarang, tapi dia tidak mau mengaggu kemesraan kaisar Wang Lee dan nona-nya. Bisa-bisa dia kehilangan kepalanya. "Tunggu …. aku tidak mau ikut dengan mu." kata Hani berani. Wanita cantik itu menggakat kepalanya tinggi-tinggi, sama sekali tidak takut dengan tatapan tajam jenderal Yeol. "Oh jadi tidak mau ikut ya ?" Tanya jenderal Yeol pelan tapi sarat akan makna. "Ya." jawab Hani mantap tanpa menyadari bahaya yang menghampirinya. Dengan sekali hentakan keras jenderal Yeol sudah dapat memindahkan montok Hani ke atas bahunya. Hani berteriak keras meminta bantuan dari beberapa pelayan dan prajurit yang berjaga di depan kamar kaisar Wang Lee. Tapi mereka semua akan tuli. Tidak ada yang mampu bergerak menolong, lagi pula siapa yang berani melawan orang kepercayaan kaisar Wang Lee sekaligus salah satu petinggi kerajaan lauhan. Hani berhenti bergerak dan berteriak di atas bahu jenderal Yeol. Bukan karena dia takut atau kalah, oh itu salah besar tapi dia lelah terus berteriak dan terus memberontak tapi tidak ada hasilnya. "Kau mau membawa ku ke kemana jenderal mesum ?" Tanya hani santai dengan masih berada di atas bahu kekar jenderal Yeol. "Ke pasar." jawab jenderal Yeol bangga. "Oh tuan keras kepala, apa perlu ku kasih tahu jika pasar adalah mainan ku sedari kecil." kata Hani sambil mengendus kesal. Jenderal Yeol menurunkan Hani dari bahunya dan langsung menatap tidak percaya pada Hani. "Apa kau bilang ?" Tanya jenderal Yeol tidak percaya. "Perlu ku ulangi lagi jika 'pasar adalah mainan ku sedari kecil' puas ." kata Hani dengan penuh penekanan di bagian kata 'pasar adalah mainan ku sedari kecil' "Lalu aku harus mengajak mu kemana ?" Tanya jenderal Yeol polos hampir saja membuat hati luluh. Hani mengelengkan kepadanya keras menghilangkan semua pemikiran tentang jenderal Yeol. "Ke sungai mungkin." jawab Hani kurang yakin. "Baiklah ayo kita pergi ke sungai sekarang." kata jenderal Yeol semangat. Tangan kekar jenderal Yeol menarik lembut tangan montok Hani. Membuat wanita cantik itu mau tidak mau mengikuti langkah kaki jenderal Yeol. Jika jenderal Yeol begitu semangat maka Hani sebaliknya pelayan setia istri kaisar Wang Lee itu mengikuti langkah kaki jenderal Yeol dengan terpaksa. Tolong di garis miring kan, terpaksa. Jenderal Yeol memanggil salah satu prajuritnya menyuruh mereka untuk membawa kuda kesayangannya. Hani membuka mulutnya lebar-lebar saat melihat surai lembut kuda hitam kesayangan jenderal Yeol. Dengan lembut tangan Hani mengelus bulu demi bulu lembut rambut kuda hitam milik jenderal Yeol. "Dia indah bukan ?" Tanya jenderal Yeol. Tangan kekar jenderal Yeol kini sudah dengan lancangnya memeluk erat tubuh montok Hani dari belakang. Meresapi setiap kehangatan di tubuh montok Hani. Sedangkan wanita cantik itu tidak menyadari kedua tangan kekar jenderal Yeol yang sudah bertengger manis di pinggang montoknya. Bahkan dia juga tidak tersadar saat kecupan ringan jenderal Yeol berikan pada pipinya. "Ya dia sangat indah." jawab Hani pelan. "Ayo kita menaiki dia." kata jenderal Yeol semangat, dan di balas anggukan kepala yang tidak kalah semangatnya dari Hani. Jenderal Yeol naik keatas kudanya terlebih dahulu sebelum menarik lembut tubuh montok Hani menaiki kuda hitamnya. Jenderal Yeol mendudukkan Hani di depannya. Hani tersenyum bahagia, untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia menaiki kuda, bukan lagi kudanya. Kuda hitam besar yang sangat indah jika di pandang mata. Hani tersentak kaget saat satu tangan kekar jenderal Yeol memeluk erat perutnya dan satu tangannya lagi di gunakan untuk memegang tali kuda miliknya. Kedua pipi hani memerah malu saat menyadari begitu intimnya mereka berdua. "Pegang yang kuat Hani." bisik jenderal Yeol di telinga sebelah kanan Hani. Mengantarkan getar-getar aneh di hatinya. Tapi Hani tidak ingin ambil pusing, buktinya dia sudah dengan tenang mengalungkan kedua tangannya eraterat di leher Kokoh jenderal Yeol. Jenderal Yeol memacu kudanya dengan kencang kearah sungai melewati hutan lebat di desa Buton. Hani berteriak keras, bukan karena takut tapi karena sangat senang. "Kau senang ?" Tanya jenderal Yeol lembut sambil menatap penuh cinta pada pelayan setia istri kaisarnya. Hani mengangukkan kepalanya pelan, Karena jarak wajah jenderal Yeol dengannya sangat dekat membuat Hani dapat mencium dengan jelas aroma tubuh serta nafas jenderal Yeol yang berwangi mint. Jenderal Yeol tersenyum lebar, membuat desiran itu kembali dapat Hani rasakan di hatinya. Dia tidak tahu lagi pemandangan apa yang dia lihat Karena sekarang hanya wajah tampan jenderal Yeol yang di lihat. Senyum, suara serta tubuh kekar jenderal Yeol Benar-benar membuatnya lupa diri dan terlena. Jenderal Yeol membalas tatapan mata indah Hani dengan senyum sempurnanya. Tidak...aku tidak boleh jatuh hati padanya, ingat dia siapa dan aku siapa. Aku hanya pelayan yang di tolong oleh nona Yeolin. Batinnya. Dia tidak ingin berharap lebih dari jendela Yeol. Sekalipun dia menyukai jenderal Yeol, maka dia harus membunuh perasaan itu, perasaan itu tidak boleh berkembang menjadi cinta. Yang nantinya malah akan membuatnya terluka dan menangisi nasibnya yang harus terlahir dari keluarga pelacur. Hani mengalihkan pandangannya kearah lain, berusaha agar jenderal Yeol tidak melihat air matanya. Dia tidak boleh jatuh cinta dengan seorang petinggi kerajaan, dia harus tahu diri. Kening jenderal Yeol berkerut bingung saat melihat perubahan sikap serta perilaku calon istri. Ya calon istri, dia akan membuat Hani jatuh cinta dan menerimanya menjadi calon suaminya. Dia tidak peduli siapa pun yang nanti akan menentang sekalipun itu adalah kaisarnya. Dia rela mati demi cintanya, jika kalian bertanya sejak kapan dia jatuh hati pada wanita cantik yang berada di pelukannya. Jawabnya sejak dia pertama kali melihat mata indah itu menatapnya tajam. Dan dia tidak akan melepaskan cintanya, wanita pertama yang sudah mengajarinya bagaimana cara bersyukur dan memaafkan. Jenderal Yeol menggeratkan pelukannya pada tubuh montok Hani sambil menaruh wajah tampannya di bagu Hani. Dia tidak pernah meminta apapun dari dewa, tapi jika di boleh meminta satu saja. Ingin agar Hani menjadi istrinya sekaligus wanita pertama dalam hidupnya serta ibu dari anakanaknya nanti. Jenderal Yeol memejamkan matanya, menikmati sensasi aneh di hatinya, aneh tapi dia sangat suka dengan sensasi itu.

BOOKMARK