Tambah Bookmark

25

Bab 24

Part 24 Author POV. Kaisar Wang Lee tersenyum lebar. Jari telunjuk kaisar Wang Lee mengelus lembut pipi Yeolin. Hingga mengaggu tidur nyenyak istrinya itu. "Pagi, sayang." sapa kaisar Wang Lee hangat saat melihat Yeolin Membuka kedua mata indahnya. Kedua pipi Yeolin memerah malu melihat sikap manis dan manja kaisar Wang Lee. "Anda kaisar Wang Lee atau kaisar Wang Jiahon ?" Tanya Yeolin memastikan. Kaisar Wang Lee terkekeh geli sambil menggesek hidung mancung ke pipi dan lurus wajah cantik Yeolin. "Yang mulia." kata Yeolin kesal sambil berusaha menjauhkan wajahnya dari hidung mancung kaisar Wang Lee. "Aku kaisar Wang Lee, sayang." kata kaisar Wang Lee menjawab pertanyaan yang Yeolin ajukan tadi. Yeolin mengaggukan kepalanya dengan mulutnya terbuka lebar membentuk huruf O tanpa suara. Membuat kaisar Wang Lee tersenyum geli. "Apa kau sudah bertemu dengannya ?" Tanya kaisar Wang Lee jahil. Yeolin mengaggukan kepalanya pelan dengan kedua pipinya yang sudah memerahnya. Bayangan percintaannya dengan kaisar Wang jiahon berputar-putar dengan indah di otaknya. "Hmm yang mulia, apa nanti aku juga harus melayaninya setiap malam ?" Tanya Yeolin pelan. "Iya, sayang. Dia juga suami mu." jawab kaisar Wang Lee pasti tanpa menyadari raut wajah cantik Yeolin yang sudah berubah horor. Bagaimana bisa dia melayani nafsu birahi dua pria dewasa yang memiliki nafsu seksualitas yang tinggi. Ya Walaupun satu tubuh tepi tetap saja aneh. "Tenang saja semua orang yang berada di istana tahu jika aku memiliki dua jiwa dalam satu tubuh, bahkan semua rakyat ku pun tahu itu." kata kaisar Wang Lee tiba-tiba seakan-akan tahu kegelisahan hati istri kecilnya itu. "Siapa lagi yang tahu selain rakyat mu dan orangorang di istana, yang mulia ?" Tanya Yeolin. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya terhadap kaisar Wang Lee. "Mantan permaisuri." jawab kaisar Wang Lee. Kening Yeolin berkerut bingung, bukannya dia adalah permaisuri pertama sekaligus permaisuri satu-satunya milik kaisar Wang Lee. "Mantan permaisuri ?" Tanya Yeolin mengulangi lagi perkataan kaisar Wang Lee tadi. "Ya, mantan permaisuri. Dulu aku memiliki permaisuri dari kerajaan xiahon" jawab kaisar Wang Lee gemas sambil menarik lembut hidung kecil Yeolin. "Lalu kemana permaisuri yang dulu, yang mulia ?" Tanya Yeolin lagi, rasa penasaran sama sekali tidak terpuaskan hanya mendengar jawaban dari kaisar Wang Lee tadi. "Dia di bunuh oleh, Jiahon." jawab kaisar Wang Lee santai tanpa menyadari perubahan sikap serta raut wajah cantik Yeolin. Yeolin sedikit menggeser tubuhnya. Entah kenapa mendengar perkataan kaisar Wang Lee yang tadi sukses membuatnya merinding. "Tapi dia tidak akan membunuh mu." lanjut kaisar Wang Lee lagi saat menyadari perubahan pada istrinya itu. "Hmm..kenapa ?" Tanya Yeolin takut. "Karena dia mencintai mu, sayang." jawab kaisar Wang Lee yakin. Yeolin menatap kedua mata hitam tajam milik kaisar Wang Lee, berusaha mencari bohongan di balik mata hitam tajam milik kaisar Wang Lee. Tapi Yeolin tidak menemukannya, dia hanya melihat kejujuran di balik mata hitam tajam milik suaminya. Yeolin memeluk erat tubuh kekar kaisar Wang Lee, Membuat kedua sudut bibir kaisar Wang Lee tertarik keatas membentuk senyum manis. Kedua tangan kaisar Wang Leee melingkar sempurna di pinggang ramping Yeolin, memeluk erat tubuh kecil istrinya itu. "Aku mencintaimu istri ku, sangat." bisik kaisar Wang Lee bahagia. Dia tidak dapat berkata apapun lagi, hatinya sangat bahagia saat melihat istrinya itu sudah dapat menerima dirinya. Yeolin tidak membalas pernyataan cintanya, dan itu sedikit membuat hatinya sakit. Tapi itu tidak penting, cinta atau tidak Yeolin kepada dirinya, itu tidak akan mengubah apapun. Kaisar Wang Lee mengeratkan pelukannya, seakanakan takut kehilangan Yeolin. Sedangkan Yeolin dapat merasakan kekecewaan kaisar Wang Lee dia tidak membalas pernyataan cinta dari kaisar Wang Lee. Yeolin sendiri bingung pada dirinya, lidahnya sangat ingin membalas pernyataan cinta dari kaisar Wang Lee tapi hatinya ragu. Yeolin hanya mampu memeluk erat tubuh kekar kaisar Wang Lee menyalurkan perasaan yang tidak dapat dia keluarkan. 􀀁􀀁􀀁 "Kau senang ?" Tanya suara berat itu sebelah telinga kanannya membangunkan Hani dari lamunannya. Mata teduh Hani mata wajah tampan jenderal Yeol, yang sedang tersenyum lembut padanya. Tidak...dia tidak boleh menyukai jenderal Yeol, dia dan jenderal Yeol sungguh berbeda sangat berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Jenderal Yeol terlahir di keluarga bangsawan, semau yang dia inginkan dapat dengan mudah pria itu raih. Kasur hangat, makan enak, baju-baju indah. Selalu jenderal Yeol dapatkan. Sedangkan dia. Dia terlahir di tengah-tengah pelacur, bahkan dia tidak tahu siapa ayahnya. Bagaimana bisa dia dengan lancangnya menyukai salah satu petinggi kerajaan lauhan. Jenderal Yeol menarik lembut kedua tangan montok Hani, Menggenggamnya erat. "Aku mencintaimu mu, Hani." kata jenderal Yeol lembut tanpa memperdulikan tubuh Hani yang tiba-tiba saja menegang. Tidak...ini tidak boleh, tidak seharusnya dia mendengar kata-kata laknat itu dari bibir anak seorang perdana menteri Selatan sekaligus orang kepercayaan kaisar Wang Lee. Hani menarik cepat tangannya sebelum memundurkan langkah kakinya. "Tidak jenderal." kata Hani sambil mengelengkangelengkan kepalanya kuat. Jenderal Yeol mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia tidak pernah tolak oleh siapa pun. Tapi saat telinganya mendengar penolakan dari Hani entah kenapa Membuat hatinya sakit. "Kenapa ?" Desis marah jenderal Yeol. "Aku tidak bisa jenderal, kau adalah anak seorang perdana menteri dan juga anda adalah seorang jenderal sekaligus orang kepercayaan kaisar." kata Hani dengan suaranya gemetar. Hatinya sakit saat menolak sang pujaan hati. Dia sabar bahwa dia sudah jatuh kedalam pesona jenderal Yeol sejak pertama kali menatap mata serta senyum indah milik pria tampan itu. "Hani..." panggil jenderal Yeol lembut. "Tidak jenderal. Aku hanya pelayan yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Sedangkan anda, anda dari keluarga bangsawan dan orang terpandang." lanjut Hani yang kali ini sudah menangis. "Hani…" panggil jenderal Yeol lagi kali ini sambil melangkah mendekati Hani yang mundur kebelakang. "Saya mohon cari wanita lain jenderal, saya hanya anak dari seorang pelacur." kata Hani. Cukup, dia tidak suka melihat wanitanya menangis. Dengan cepat jenderal Yeol menarik hani kedalam pelukannya. Memeluk erat tubuh montok Hani. "Aku tidak suka penolakan, Hani." kata jenderal Yeol sebelum bibirnya memagut kasar bibir tipis Hani. Hani yang awalnya menolak, kini terdiam mematung. otaknya menolak tapi hatinya tidak dapat menolak lumatan bibir jenderal Yeol hingga tanpa sadar Hani sudah mengalungkan kedua tangannya di leher jenderal Yeol dan bibirnya sudah dengan lincahnya membalas lumatan penuh nafsu bibir jenderal Yeol. Jenderal Yeol meremas lembut payudara sintal milik Hani. Hingga membuat Hani melenguh nikmat di dalam bibir jenderal Yeol. Tidak berhenti sampai di situ kini tangan jarijari tangan jenderal Yeol sudah mengelus lembut paha dalam Hani. Hampir menyentuh bibir vagina. Jenderal Yeol menggakat tubuh montok Hani hingga membuat Hani mengalungkan kedua kakinya di pinggang kekar jenderal Yeol. Jenderal Yeol melangkah dengan cepat kearah salah satu pohon rindang dan membaringkan dengan lembut tubuh montok Hani di tanah. Dengan lincahnya kedua tangan jenderal Yeol sudah melucuti pakaian hani, hingga membuat wanita cantik itu telanjang bulat. Jenderal Yeol terpesona melihat dua payudara sintal milik Hani. Dengan cepat bibirnya melumat lembut payudara Hani. Membuat wanita cantik itu melenguh panjang. Tanpa sabar tangan Hani meremas rambut jenderal Yeol. Membuat gairah pria tampan itu meningkat drastis. Jenderal Yeol berdiri dengan tegak dan melucuti pakaiannya sendiri dengan cepat. Hingga mempertontonkan kejantanannya yang sudah berdiri dengan tegak meminta kepuasan kepada Hani. Hani menatap nanar tubuh telanjang jenderal Yeol. Rasanya dia ingin melawan tapi tubuhnya tidak dapat di gerakan, dia hanya bisa pasrah dan mendesis sakit saat tangan kekar jenderal Yeol mengarahkan kejantanannya yang sangat besar dan berurat itu kedalam liang vaginanya yang masih sempit. "AAAHHHH... SAKIT JENDERAL….." Teriak sakit Hani saat kejantanan jenderal Yeol yang besar merobek selaput daranya. "Usss....rasa sakitnya tidak akan lama, sayang. Akan terganti dengan rasa nikmat, aku janji." kata jenderal Yeol lembut. Jenderal Yeol melumat lembut bibir Hani. Berusaha mengurangi rasa sakit yang di derita oleh wanitanya. Dengan lembut dan sangat hati-hati, jenderal Yeol menggerakkan kejantanannya di dalam liang vaginanya Hani. Hani yang awalnya mendesis sakit, kini mendesah nikmat. Sedangkan jenderal Yeol yang tadinya kini bergerak pelan kini bergerak cepat dan dan mendominasi seluruh permainan. Kuku-kuku jari hani mencengkeram kuat pundak kekar jenderal Yeol saat gelombang kenikmatan menghantam dirinya. Jenderal Yeol memeluk erat tubuh montok Hani sebelum memuncarkan semua spermanya di dalam rahim Hani. Tubuh telanjang Hani menegang saat merasakan rahimnya di siram oleh cairan kental hangat. Jenderal Yeol mengecup lembut kening, pipi, bibir dan juga leher jenjang Hani. Perasaan sangat bahagia, dia adalah pria pertama sekaligus pria satu-satunya yang akan menjamah tubuh montok Hani. "Terima kasih, sayang." kata jenderal Yeol sebelum merebahkan tubuhnya di samping Hani memeluk erat tubuh montok Hani. Hingga membuat tubuh Hani terpenjara oleh tubuh kekarnya. Jenderal Yeol bersumpah mulai hari ini hingga selamanya, Hani hanya akan menjadi miliknya. Tanpa jenderal Yeol sadari, Hani menangis dalam diam. Dia sungguh menyesali perbuatannya, hingga membuat terhanyut dengan sentuhan lembut serta perlakuan yang sangat manis dari jenderal Yeol. Membuat menjadi memberikan harta yang paling berharga dalam hidupnya. Yang harusnya dia berikan pada suaminya kelak. Tapi nasi sudah menjadi bubur beberapa banyak pun dia menangis itu tidak akan mengubah apapun. Dia sudah kehilangan harta berharga miliknya dan bodohnya dia sendiri yang memberikannya. Hani menatap nanar kejantanan jenderal Yeol yang masih terdapat sisa-sisa darah keperawanan, yang menandakan bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi. Dia tidak ada bedanya dengan ibunya yang seorang pelacur. Hani mengelus lembut perut datarnya. Bagaimana jika nanti sperma jenderal Yeol berudah menjadi gumpalan darah di dalam rahimnya. Harus kah anaknya nanti juga menerima takdir seperti dirinya. Anak seorang pelacur yang selalu di maki serta di pandang hina oleh semua orang. Hanya karena kesalah masa lalu ibunya. Tidak...dia tidak akan membiarkan itu terjadi, dia tidak akan membiarkan anaknya menanggung derita yang sama seperti dirinya dulu. Cukup dirinya saja yang selalu di pandang seperti sampah. Tidak dengan anaknya.

BOOKMARK