Tambah Bookmark

27

Bab 26

Part 26 Author POV. Yeolin meletakan kepala di paha kaisar Wang Lee. Menikmati elusan demi elusan lembut dari tangan kekar kaisar Wang Lee. "Apa yang kau pikirkan di kepala Cantik mu itu, sayang ?" Tanya kaisar Wang Lee gemas saat melihat istrinya itu hanya diam saja. "Entahlah yang mulia, aku sedang memikirkan tentang Hani." jawab Yeolin pelan. Kaisar Wang Lee menghelai nafas lelah. Tanpa menghentikan elusan lembutnya di rambut sang istri. "Aku akan mencari tahu nanti." kata kaisar Wang Lee pasrah. Yeolin langsung terduduk saat mendengar perkataan kaisar Wang Lee. "Benarkah yang mulia ?" Tanya Yeolin tidak percaya. "Iya sayang." kata kaisar Wang Lee. "Terima kasih, yang mulia." kata Yeolin senang sambil memeluk erat tubuh kekar kaisar Wang Lee. "Sama-sama sayang." balas sambil mengelus lembut rambut hitam panjang Yeolin. "Hmmm, tapi aku lebih suka jika kau berterima kasih dengan cara lain." goda kaisar Wang Lee. Sepertinya mengoda Yeolin sudah menjadi kebiasaan baru untuknya, melihat wajah kesal serta marah Yeolin Membuat kaisar Wang Lee tanpa sabar tersenyum senang. Yeolin langsung melepaskan pelukannya dan menatap kaisar Wang Lee dengan waspada, jaga-jaga takut suami mesumnya ini meminta hal yang tidak-tidak padanya nanti. Kaisar Wang Lee tersenyum lebar tanpa melepaskan pandangan dari istrinya, membuat Yeolin semakin was-was. "Jangan menatap ku seperti itu sayang, aku hanya meminta mu mencium ku." kata kaisar Wang Lee sambil menarik lembut tengkuk leher Yeolin melumat penuh nafsu bibir yang sedari tadi menggodanya. “Yang mulai” teriak Kasim Han dari luar ruangan kerja kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee menggeram kesal. Ada saja yang mengaggunya di saat dia ingin berduan dengan istrinya. "Masuk." kata kaisar Wang Lee malas. Kaisar Wang Lee menatap Yeolin memeles membuat Yeolin tertawa lebar di dalam hatinya. Kasim Han memasuki ruang kerja kaisar Wang Lee dengan perasaan takut dan was-was takut-takut jika kaisarnya nanti mengamuk padanya. "Maaf mengaggu Anda yang mulia." kata Kasim Han dengan nada gemetar yang sangat kental. "Kau memang selalu mengaggu ku." balas kaisar Wang Lee sini. Membuat Yeolin harus sedikit mencubit pinggang berotot milik suami mesumnya itu. "Yang mulia." peringat Yeolin lembut. "Baiklah... baiklah apa yang membawa mu kesini Kasim Han dan ku harap itu penting jika tidak aku akan membuat kepala mu menjadi anak panah ku." kata kaisar Wang Lee membuat kedua kaki kasim Han semakin gemetar ketakutan. Bagaimana bisa di berkerja dengan orang sekejam kaisar Wang Lee, rasanya dia ingin kasim Han ingin menangis saja. "Ibu suri mengundang Anda yang mulia beserta permaisuri juga untuk menghadiri jamuan minum the." kata kasim Han. Dia harap dia membawa kabar penting, tapi jika tidak hilang lah sudah harapannya untuk hidup lebih lama lagi. Kaisar Wang Lee mendengus kesal, Membuat hati kasim Han was-was. "Aku kita pergi sebelum ibu suri memenggal kepala ku." kata kaisar Wang Lee sambil membantu istrinya bangun. Sedangkan Kasim Han tanpa sabar menghelai nafas lega dia belakang tubuh tegap kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee mengendong tubuh kecil Yeolin, membawanya keluar dari ruang kerjanya dan berjalan dengan langkah santai ke kediaman ibu suri. "KAKAK IPAR…." Teriak suara cempreng adik perempuannya Membuat kaisar Wang Lee mengumpat kesal. "Tidak usah berteriak-teriak putri Chuen." kata kaisar Wang Lee dingin. Putri Chuen menatap acuh kakak tertuanya. "Ayo turunkan kakak ipar, Gege." kata putri chuen. Kaisar Wang Lee mengendus kesal. Bukannya menurunkan Yeolin kaisar Wang Lee justru melanjutkan langkahnya kearah ibu suri dan para selirnya dan jangan lupa juga dengan putri Yuan dan suaminya pangeran taiji. Kaisar Wang Lee berusaha mati-matian menahan emosinya saat melihat tatapan penuh cinta serta memuja dari pangeran taiji kepada istrinya. Kaisar Wang Lee mendudukkan dirinya tanpa mau repot-repot untuk mendudukan Yeolin di sampingnya dan membuat Yeolin mau tidak mau duduk di atas pangkuan kaisar Wang Lee. "CK kau benar-benar menyebalkan Gege." kata putri chuen sebelum mendudukkan dirinya di kursi taman. "Ada apa ibu mengundang ku kesini ?" kata kaisar Wang Lee tidak mau repot-repot hanya untuk sekedar basabasi tidak jelas. "Ibu hanya ingin mengundang mu untuk minum teh hijau bersama." jawab permaisuri dengan begitu anggun dan mempesona. "CK...ibu mengaggu kegiatan ku yang sedang membuat anak serta cucu untuk ibu." kata kaisar Wang Lee. "Oh dewa, benarkah. Ayo lanjutkan lagi. Ibu tidak akan mengaggu lagi nanti." kata ibu suri sambil tersenyum lebar membuat kaisar Wang Lee juga tersenyum lebar. "Kau memang paling mengerti diri ku, ibu. ayo sayang kita lanjutkan yang tadi." kata kaisar Wang Lee senang. Demi dewa Yeolin benar-benar ingi meremas mulut suaminya yang sama sekali tidak tahu tempet dan kondisi. "Tidak, kau tidak boleh membawa kakak ipar kemana pun, Gege." kata putri Chuen. Selir Huen tidak dapat menutup tawa saat melihat wajah masam kaisar Wang Lee. Selir Huen Sangat tahu jika kaisar Wang Lee tidak dapat menahan hasratnya saat pria itu menginginkan seorang wanita. Sedangkan selir Hubin hanya mampu tersenyum getir. Kaisar Wang Lee sudah tidak pernah mengunjunginya lagi sejak malam itu. Apakah dia harus cacat terlebih dahulu agar kaisar Wang Lee memperhatikannya lagi. Jika selir huen, ibu suri dan putri chuen sangat bahagia maka putri Yuan, dan pangeran Taiji sangat marah. 􀀁􀀁􀀁 Dia tempat lain, jenderal Yeol sedang berusaha matimatian melawan para pemberontak kerajaannya. Walaupun tubuhnya di sana tapi hati serta pikiran hanya memikirkan tentang Hani. Wanita yang sudah menyerahkan kehormatan serta harta berharga miliknya. Jenderal Yeol menatap langit malam dari balik jendela perkemahannya. Hatinya begitu merindukan kekasihnya, wanitanya sekaligus ibu dari calon anak-anak nanti. "Jenderal." panggil panglima besar kerajaan Lauhan. Jenderal Yeol membalikan tubuhnya. pandangan tajam serta dingin menyapa sempurna mata panglima besarnya. "Ada apa ?" Tanya jenderal Yeol datar, tidak ada ekspresi apapun di wajah tampannya. "Semua pemberontak sudah kami habisi, jenderal." kata panglima Sehun. Perkataan panglimanya sukses membuat senyum lebar terpantir dengan indah di kedua sudut bibirnya. "Berikan kabar pada kaisar Wang Lee bahkan kita akan pulang malam ini juga." perintah jenderal Yeol senang. "Malam ini juga jenderal ?" Tanya panglima Sehun tidak percaya. Bagaimana bisa mereka pulang di larut malam seperti ini. Sedangkan perjalanan dari perbatasan dan juga kerajaan lauhan memakan waktu seminggu penuh, itu pun jika mereka pergi tanpa adanya halangan di jalan nanti. "Iya, apa kau keberatan panglima ?" Tanya jenderal Yeol datar. Panglima Sehun hanya mampu mengangukkan pasrah sambil menghelai nafas sabar. Ya sabar dalam menghadapi jenderalnya yang memiliki sifat sama seperti kaisarnya, suka memerintah. "Bagus segera beri tahu yang mulia kaisar Wang Lee." kata jenderal Yeol lagi. "Baik, jenderal." balas panglima Sehun sebelum melangkah kakinya keluar dari tenda milik jenderal Yeol. Sebentar lagi dia akan bertemu dengan wanitanya dan menghirup rakus aroma tubuh Hani. Aroma yang sudah sangat dia rindukan. Memikirkannya saja sudah mampu membuat hatinya memuncak bahagia. Ya sebentar lagi. Sebentar lagi dia dapat bersama wanitanya untuk selamalamanya. 􀀁􀀁􀀁 Suasana meriah terpampang dengan jelas di kediaman keluarga Tang keluarga angkat Hani. Hari ini adalah hari pertunangan putri angkat mereka yang tidak lain adalah Hani. Wajah bahagia ibu, ayah serta kakak laki-laki Membuat Hani tidak dapat menolak lamaran sodagar kaya raya sekaligus anak seorang bangsawan. "Kau terlihat sangat luar biasa cantik, putri ku." kata chain lembut. Hani tersentak kaget saat melihat wanita yang sudah di anggapnya ibu kandungnya sendiri itu menangis dalam senyum indahnya. "Ibu." panggil Hani lembut, suara seraknya tidak dapat menyembunyikan jik dia juga ingin menangis. "Baru kemarin yang mulia kaisar Wang Lee membawa mu kesini, Membuat mu menjadi putri ku. Tapi sekarang kau sudah harus pergi dari rumah ini." kata ibunya tidak dapat menahan deru air matanya yang semakin deras. Hani berdiri dari duduknya memeluk erat tubuh rentah ibu. Wanita yang sudah memberikannya begitu banyak kasih sayang, yang tidak pernah dia dapatkan dari ibu kandungnya sendiri. "Aku menyayangimu, Bu." kata Hani serak sambil menangis terisak di dalam pelukan sang ibu. "Ibu juga menyayangimu nak, ibu hanya ingin melihat mu bahagia." balas Chain. Tanpa kedua wanita itu sadari sepasang mata mereka dengan penuh haru dan senyum indahnya. Kaisar Wang Lee menarik lembut tubuh kecil istrinya kedalam dekapannya. Waktu pertama kali mendengar kabar bahwa Hani di kamar seorang sodagar kaya, membuat Yeolin langsung memaksa kaisar Wang Lee untuk pergi kekediamannya keluarga Tang. Tadinya Yeolin berpikir jika Hani di paksa menikah ternyata tidak. Wanita itu menerima lamaran dari keluarga Zion dengan suka rela. "Dia terlihat sangat bahagia, sayang." kata kaisar Wang Lee lembut. "Anda benar, yang mulia. Dan aku senang untuk itu." kata Yeolin tulus tanpa melepaskan pandangannya dari kedua orang yang masih setia menangis sambil berpelukan. Kaisar Wang Lee memutar lembut tubuh kecil Yeolin, hingga membuat pandangan Yeolin terputus dan langsung membuatnya menatap kaisar Wang Lee. Tiba-tiba saja kepalanya pusing Membuat pandangannya mengabur dan membuatnya kehilangan kesabarannya. "YEOLIN…" Teriak panik kaisar Wang Lee membuat semua orang yang berada di sana menghampiri kaisar Wang Lee termaksud Hani dan juga Ibunya, Chain. "Yang mulia permaisuri," kata Hani yang panik saat melihat Yeolin tidak sabarkan diri. Kaisar Wang Lee menggakat tubuh kecil Yeolin dengan cepat dan berlari panik memanggil Kasim Han untuk segera memanggil Tabib istana. Kaisar Wang Lee membaringkan tubuh lemah Yeolin di atas ranjang Hani. Tidak ada waktu baginya untuk membawa Yeolin kekediaman mereka di istana naga. Kasim Han masuk dengan Tabib istana di belakangnya. Sedangkan semua orang menunggu kabar Yeolin di luar kamar Hani. Hani meremas kedua tangannya dengan gugup. Dia tidak berani memikirkan hal buruk yang terjadi kepada sahabat baiknya sekaligus kunjungannya. "Bagaimana keadaannya ?" Tanya kaisar Wang Lee cepat saat Tabib istana Selesai memeriksa keadaan Yeolin. "Yang mulia permaisuri tidak apa-apa yang mulia, dia baik-baik saja. Dan selamat yang mulia sebentar lagi Anda akan menjadi ayah." kata Tabib istana sambil tersenyum senang. Kaisar Wang Lee menatap tidak percaya Tabib istana. Dengan lembut tangan kekar kaisar Wang mengelus lembut perut rata istrinya. Di sana, di dalam sana terdapat anak sekaligus putra mahkota kerajaan Lauhan. "Terima kasih, sayang. Ini kado terindah yang pernah ku terima sepanjang hidup ku." bisik kaisar Wang Lee di telinga Yeolin yang masih terlelap dalam pingsannya.

BOOKMARK