Tambah Bookmark

28

Bab 27

Part 27 Author POV. Kabar kehamilan Yeolin beredar dengan cepat di seluruh istana. Membuat beberapa orang yang mendengarkannya ada yang merasa bahagia dan ada juga yang sebaliknya. Sedangkan ibu suri dan juga selir Huen tersenyum bahagia saat mendengar kabar kehamilannya. Tapi tidak dengan pangeran Taiji dan juga putri Yuan yang hari ini akan pulang ke istana mereka dengan perasaan yang terluka. Terluka karena orang yang mereka cintai tidak dapat mereka miliki. "Hati-hati jalannya, sayang." kata kaisar Wang Lee lembut sambil memeluk erat pinggang ramping Yeolin. Yeolin mendengus jengah, ini sudah kedua puluh kalinya kaisar Wang Lee mengatakannya. Dan sudah dua puluh Kalinya juga Yeolin mengiyakan. "Anda sudah dua puluh kali bicara seperti itu, yang mulia." kata Yeolin kesal. Kali ini bukan Yeolin yang mendengus kesal tapi kaisar Wang Lee yang mengendus keras. Apa salahnya jika dia ingin memperhatikan istrinya. Lagi pula Yeolin kan sedang hamil wajar saja jika di sangat Possessive. "Hati-hati, sayang...." perkataan kaisar Wang Lee terpotong karena teriak keras istri kecilnya itu. "Yang mulia." kata Yeolin kesal. "CK...iya maaf..maaf." kata kaisar Wang Lee dengan wajah yang tidak ikhlas. Yeolin tersenyum lembut sambil mengelus lembut rahang tegas kaisar Wang Lee, membuat kaisar Wang Lee tersenyum lebar. Dengan cepat kaisar Wang Lee menarik tengkuk belakang leher Yeolin melumat bibir mungil istrinya itu dengan rakus membuat beberapa pelayan dan juga prajurit yang berada di sana mencuri-curi pandang kearah mereka. "Sangat manis." kata kaisar Wang Lee lembut saat bibirnya sudah terlepas dari bibir mungil istrinya. Yeolin menundukkan kepalanya malu, Membuat kaisar Wang Lee terkekeh geli. "Ayo kita lanjutkan lagi, tapi hati-hati ya jalannya, sayang." kata kaisar Wang Lee lembut. Yeolin mengaggukan kepalanya pelan sambil mendesah lelah melihat suaminya tidak mau melepaskannya barang sejenak saja. 􀀁􀀁􀀁 Perjalanan yang biasanya di rasa cepat kini terasa sangat lama bagi jenderal Yeol. Sedangkan para prajurit serta panglima Sehun merasa biasa-biasa. "Sial, apa kalian tidak bisa berjalan lebih cepat." umpat dan kata kasar jenderal Yeol. Membuat para prajurit serta panglima Sehun di buat bingung. Mereka semua sudah berubah untuk berjalan dengan cepat. Yang membuat mereka lebih bingung ada sikap jenderalnya yang selalu uring-uringan tidak jelas. Jenderal Yeol semakin cepat memacu kuda hitam kesayangannya. Membuat para anak buahnya di belakang mau tidak mau juga ikut memacu kuda mereka lebih cepat. 􀀁􀀁􀀁 Wajah masam kaisar Wang Lee sama sekali tidak di perdulikan oleh Yeolin. "Sayang." panggil kaisar Wang Lee memelas. Jika saja mereka sedang berdua, maka Yeolin akan tertawa lepas melihat wajah memeles kaisar Wang Lee. "Hmmm…" jawab Yeolin cuek. "Aku juga lapar, suapin." kata kaisar Wang Lee manja. Perkataan kaisar Wang Lee sukses membuat Ibu suri serta selir huen tersedak minumannya. Sedangkan putri chuen sudah membuka mulutnya lebar-lebar. "Suapin." ulang mereka bertiga bersamaan. Kaisar Wang Lee mendengus kesal. "Sayang…" panggil kaisar Wang Lee lagi. Yeolin berusaha mati-matian menahan malu. Rasanya dia ingin menangis saja. Yeolin mengaggukan kepalanya pelan sambil menggakat tangan, menyuapi makan kaisar Wang Lee dengan melu. "Hmm…" deheman keras membuat semua orang yang berada di sana melihat asal suara termaksud Yeolin. Rahang tegas kaisar Wang Lee tiba-tiba saja mengatut rapat saat melihat wajah pria latnat yang sudah berani menatap istrinya. "Mau apa kalian kesini ?" Tanya kaisar Wang Lee datar. Bahkan kini tangannya sudah memeluk erat pinggang ramping Yeolin, seakan-akan menunjukkan kepemilikannya terhadap Yeolin. Yeolin mencubit kesal pinggang kaisar Wang Lee . "AW...sakit sayang…." kata kaisar Wang Lee manja benar-benar membuat perut Yeolin mual. "Hmmm....kami ingin pamit pulang, yang mulia." kata putri Yuan lembut dengan membungkuk badannya memperlihatkan sedikit belahan payudaranya. Kaisar Wang Lee mendelik jijik, dia sangat tahu wanita seperti apa putri Yuan, wanita sepertinya hanya tahu tahta dan juga harta tidak ada cinta yang mereka berikan cinta tulus untuk pria lain. "Hari ini kami akan pulang, yang mulia." kali ini bukan Putri Yuan yang berbicara tapi pangeran taiji. "Hmmm…." jawab kaisar Wang Lee cuek membuatnya mendapatkan cubitan kecil lagi dari sang istri. Kaisar Wang Lee mengunci tangan kecil Yeolin dengan tangan besarnya. Memberikan kecupan-cupan ringan di sekitar tangan kecil Yeolin, hingga membuat wajah wanitanya memerah malu. "Kami permisi dulu yang mulia." kata pangeran taiji tidak mau melihat lebih lama lagi kemesraan kaisar Wang Lee dengan Yeolin. Kaisar Wang Lee hanya menatap datar kepergian putri Yuan dan juga pangeran taiji. "Bagaimana kandungan mu Yeolin ?" Tanya ibu suri memecah keheningan di antara mereka berlima. "Baik ibu suri." jawab Yeolin riang. "Bagus lah, jaga dia baik-baik ya sayang." kata ibu suri lembut khas seorang ibu. "Ibu suri." kata Yeolin sambil tersenyum patuh. Mereka berlima larut dalam percakapan tentang anak yang Yeolin kandung hingga tidak menyadari kedatangan Kasim Han. "Yang mulia." kata Kasim Han, sedikit membungkuk badannya. "Iya." Jawab kaisar Wang Lee bingung melihat Kasim setianya terlihat sangat lelah berlari "Jenderal Yeol mengirim anda surat yang mulia." kata Kasim Han sambil menyerahkan sebuah gulungan kertas ke pada kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee membuka gulungan kertas putih itu dengan tergesa-gesa takut ada hal yang tidak di inginkan olehnya di medan perang sana. Kaisar Wang Lee tersenyum lebar dan langsung menatap bahagia keempat wanita yang menatapnya bingung. "Ini surat dari jendela Yeol, dia bilang dia akan kembali besok pagi." kata kaisar Wang Lee Membuat semua orang yang berada di sana tersenyum lebar, tapi tidak dengan Hani yang sudah gemetar ketakutan. 􀀁􀀁􀀁 Wanita cantik itu menangis keras, menangisi nasibnya. "Tidak...tidak... Yeolin tidak boleh memiliki anak, kaisar harus menjadi memiliki ku, Yeolin tidak boleh memilikinya...tidak boleh." racau selir Huen. Perdana menteri barat memasuki kamar putri semata wayangnya. Hatinya terasa sakit saat melihat putri cantiknya kini terlihat sangat Frustasi dengan kabar kehamilan permaisuri Yeolin. Perdana menteri barat merengkuh erat tubuh rentah putrinya, tangisan selir huen semakin keras sambil mencengkram erat baju sang ayah. "Aku tidak mau wanita itu melahirkan anak kaisar Wang Lee, ayah. Hanya aku yang boleh melahirkan pewaris kerajaan Lauhan." Isak tangis selir Huen. "Ya ayah akan mengabulkan permohonan mu, akan ayah pasti jika hanya kau yang akan melahirkan anak kaisar Wang Lee." kata perdana menteri barat pasti. Dia akan melakukan apapun untuk putrinya sekalipun harus membunuh anak yang belum lahir ke dunia ini. "Kau berjanji ayah ?" Tanya selir huen dengan deru air matanya. "Ya ayah janji, nak." jawab Perdana menteri barat pasti tanpa sedikitpun rasa ragu dalam janjinya. Selir Huen tersenyum bahagia sambil memeluk erat tubuh ayahnya. 􀀁􀀁􀀁 Semua pelayan sudah sibuk menyiapkan penyambutan jenderal Yeol serta gerombolan prajurit kerajaan Lauhan. Sedangkan di tempat lain, di kediaman keluarga Choi. Hani di rias dengan begitu cantik dan anggun. Membuat para pria rela melihatnya berjalan. Suasana meriah dan bahagia memenuhi seisi rumah. Tapi tidak dengan perasaan Hani. Seharusnya dia juga ikut senang di hari pertunangannya tapi Entah kenapa hatinya menolak untuk bahagia. Seperti ada serpihan yang kurang di hatinya. Membuatnya merasa sesak tanpa sebab. Entah keputusan yang dia ambil benar atau salah. Tapi yang pasti di tidak dapat bahagia. Bahkan senyum dan tawa bahagia keluarga tidak dapat membuat seulas senyum manis terbit dengan indah di kedua sudut bibirnya. Dia merindukan pria itu. Pria tampan yang sudah mengambil keperawanannya. Membuatnya dapat merasakan rasa senang dan sedih di saat bersamaan. Membuatnya tersenyum dan menangis. Bahkan membuatnya dapat merasakan cinta. Satu kata seribu arti di dalamnya. Hani menghapus kasar air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh. "Kenapa, nak ?" Tanya Chuen lembut sambil mengelus lembut rambut hitam putrinya. "Aku tidak kenapa-kenapa, ibu. Aku hanya terlalu bahagia hingga tanpa sabar di aku menangis ibu." kata Hani bohong. Ya dia berbohong, dia tidak ingin membuat ibunya bersedih cukup dia saja yang menangis. Dia tidak ingin keluarganya malu dengan membatalkan pertunangannya tibatiba. "Kau pasti bahagia dengannya, nak. Dia sungguhsungguh mencintai mu." kata chuen lembut. Bahagia. Satu kata yang tidak pernah Hani pikirkan setelah pernikahan ini. Baginya tidak akan ada kebahagiaan dalam sebuah pernikahan yang tanpa di dasari oleh cinta. Dan dia tidak mencintai Chon pria yang beberapa jam lagi akan menjadi suaminya. Dia mencintai jenderal Yeol. Ya dia mencintai pria itu. Entah sejak kapan dia sudah mulai kedalam pesona jenderal Yeol. Pria bejat yang meninggalkan begitu saja setelah mendapatkan mahkotanya. "Iya ibu." balas Hani sambil tersenyum kecil. Senyum yang mungkin akan menjadi senyum terakhirnya. Chuen mengambil merias wajah cantik Putrinya dengan senyum bahagia khas seorang ibu. Sebentar lagi putrinya akan menjadi milik orang lain. Jika Hani bisa menangis kencang di depan ibunya mungkin Hani akan melakukan itu. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menangis terisak di dalam hati.

BOOKMARK