Tambah Bookmark

30

Bab 29

Part 29 Author POV. Yeolin menggeram kesal sambil menganti posisi tidurnya lagi. Dia benar-benar tidak dapat tidur. Dia merindukan aroma tubuh kaisar Wang Lee. Dengan kesal Yeolin mengangkat tubuhnya dari ranjang empuk miliknya. Dengan pelan dia melangkah ke luar dari dalam kamarnya. Berjalan dengan pelan kearah ruang kerja kaisar Wang Lee, benar-benar pelan hingga tidak terdengar suara sedikitpun dari langkah kakinya. Yeolin membuka pintu ruang kerja kaisar Wang Lee dengan pelan dan ngentip sedikit dari balik cela pintu. Yeolin menggeram kesal saat melihat suaminya itu tidur dengan nyenyak sambil memeluk erat guling dan selimut yang menutup nyaman tubuh kekar telanjangnya. Dengan geram Yeolin memasuki ruang kerja kaisar Wang Lee dan melempar bantal yang di sebelah suaminya itu kearah Wajah kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee hampir saja menebas leher orang yang sudah dengan beraninya melemparnya dengan bantal. "APA!!" Teriak Yeolin marah saat melihat wajah suaminya yang sudah terlihat murka. Kaisar Wang Lee menatap bingung istrinya, yang tibatiba saja marah tanpa sebab yang jelas. "Kenapa, sayang ?" Tanya kaisar Wang Lee polos membuat Yeolin bertambah kesal. Dengan cepat Yeolin memukul kaisar Wang Lee berkali-kali hingga membuat kaisar Wang Lee kewalahan. "Menyebalkan....hua...kau... sangat menyebalkan...Hua…" kata Yeolin sambil menangis keras membuat kaisar Wang Lee bertambah bingung saat melihat istri kecilnya tiba-tiba saja menangis. "Cup...cup... kenapa nangis, sayang." kata kaisar Wang Lee Sambil memberikan kecupan ringan di kedua pipi Yeolin. Yeolin mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh kaisar Wang Lee sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang kaisar Wang Lee dengan Isak tangisnya yang masih Keluar dari bibir mungil. Kening kaisar Wang Lee berkerut bingung saat telinganya tidak lagi mendengar suara tangisan istrinya. Dengan pelan kaisar Wang Lee menundukkan wajahnya dan melihat wajah damai istrinya yang sudah tertidur nyenyak. Kaisar Wang Lee mendengus kesal, tapi marah tibatiba terus nangis tanpa sebab sekarang malah tidur. "Bilang kalau mau tidur sambil di peluk." kata kaisar Wang Lee kesal. Kaisar Wang Lee menggakat tubuh kecil Yeolin dengan mudah. Membawanya kearah kamar mereka. Semua pelayan serta prajurit kerajaan membungkuk sedikit badannya saat melihat kaisar Wang Lee yang sedang menggakat tubuh kecil permaisuri berjalan kearah kamar mereka. "Yang mulia kaisar." sapa mereka sopan. "Apa kalian bodoh, bagaimana bisa permaisuri keluar dari dalam kamar tanpa kalian ketahui." marah kaisar Wang Lee. "Maaf yang mulia. Kami tidak tahu jika permaisuri keluar dari dalam kamar yang mulia." kata bibi hun sambil membungkuk sedikit badannya. Kaisar Wang Lee mendengus kesal sambil melangkah memasuki kamarnya tanpa membalas perkataan kepala pelayan kediaman istrinya. Dengan lembut kaisar Wang Lee membaringkan tubuh Yeolin keranjang besar mereka. Cukup lama mata hitam tajam milik kaisar Wang Lee menatap setiap inci tubuh serta wajah cantik istrinya. Tidak ada kata bosan. Baginya istrinya itu selalu terlihat cantik dan menggoda setiap harinya. Membuat kaisar Wang Lee tidak rela jika tubuh serta wajah cantik istrinya itu menjadi tontonan gratis di istana. Kaisar Wang Lee ikut membaringkan tubuhnya di ranjang tempat di samping istrinya. Dengan lembut dan hatihati kaisar Wang Lee merengkuh tubuh kecil Yeolin kedalam dekapannya memeluk erat tubuh kecil istrinya, sangat erat. 􀀁􀀁􀀁 Jika orang semua orang akan tersenyum lebar saat melihat matahari terbit dengan indah di atas kepala mereka. Tapi tidak dengan jenderal Yeol yang terlihat sangat murung. Dapat di lihat dengan jelas lingkaran hitam di sekitar matanya. Jenderal Yeol berjalan dengan lemas kearah ruang pertemuan tempat para menteri kerajaan Lauhan berkumpul. Bukan hanya menteri dari kerajaan Lauhan yang berada di dalam ruang pertemuan tapi juga kaisar dari kerajaan Lauhan, kaisar Wang Lee. SREK Semua mata menatap suara pintu terbuka. Dan melihat jenderal dari kerajaan lauhan memasuki ruang pertemuan dengan keadaan yang luar biasa kacau. Kaisar Wang Lee menggangkat satu alisnya menatap jenderalnya yang terlihat sangat kacau. "Selamat pagi, yang mulia." kata jenderal Yeol memberi hormat pada kaisar Wang Lee dan hanya di balas anggukan oleh kaisar Wang Lee. "Kau boleh duduk jenderal." kata kaisar Wang Lee. "Baiklah kalian boleh mulai pertemuan ini." perintah kaisar Wang Lee lugas. Semua orang yang berada di sana mengaggukan kepalanya sebelum mengeluarkan gulung kertas yang mereka simpan di balik jubah kebesaran mereka. 􀀁􀀁􀀁 Yeolin mengetuk-ngetuk jarinya dengan bosan di meja kebesaran kaisar Wang Lee di dalam ruang kerja suaminya. "Yang mulia permaisuri sebaiknya kita kembali kekamar Anda, yang mulia. Kaisar masih memimpin pertemuan dengan para menterinya, yang mulia." kata bibi Hun cemas. Bagaimana tidak cemas jika saat ini permaisuri kerajaan Lauhan itu dengan santainya mendudukkan pantatnya di kursi kebesaran kaisar Wang Lee. "Tidak aku akan menunggunya kembali." balas Yeolin keras kepala. Membuat bibi Hun menghelai nafas lelah untuk kesekian kalinya. SREK Suara pintu terbuka menbuat pandangan Yeolin terjatuh pada pintu ruang kerja suaminya. "Apa kau akan melamarnya hari ini ?" Tanya kaisar Wang Lee tanpa menyadari kehadiran istrinya. "Yang mulia." kata Yeolin sambil menubruk tubuh kekar kaisar Wang Lee, membuat suaminya itu terkejut bukan main. "Kamu kok bisa ada di sini, sayang ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut sambil membalas pelukan erat istrinya. Kaisar Wang Lee memberikan kecupan-cupan ringan di atas kepala permaisurinya. "Kangen," jawab Yeolin membuat hati sang kaisar berbunga-bunga. Untuk pertama kalinya istrinya itu merindukannya. "Sudah makan ?" Tanya kaisar Wang Lee lagi lembut. "Belum, aku ingin di suapin." balas Yeolin sambil cemberut membuat kaisar Wang Lee gemas. Kaisar Wang Lee memberikan tanda bagi jenderalnya untuk keluar, jangan sampai istrinya ini menyadari kehadiran jenderalnya. Jenderal Yeol mengangguk patuh sambil melangkah pelan keluar dari ruang kerja kaisar Wang Lee. "Ya sudah ayo sekarang kita makan." kata kaisar Wang Lee sambil membimbing Yeolin untuk duduk di kursi panjang dekat meja kebesarannya. "Bawakan sarapan permaisuri kedalam ruang kerja saya." Perintah kaisar Wang Lee datar pada bibi hun yang di balas anggukan kepala oleh wanita paruh baya itu. Yeolin menyadarkan kepalanya di bahu lebar suaminya sambil menunggu sarapannya datang. Kaisar Wang Lee mengelus lembut Surai hitam panjang istrinya. Tidak lama sarapan yang pesen kaisar Wang Lee datang dan di hidangkan oleh bibi Hun di meja. Kaisar Wang Lee mengisi penuh piring dengan lauk dan nasi yang di sediakan oleh kepala pelayan istrinya. Yeolin membuka mulutnya lebar-lebar menerima suapan demi suapan dari suaminya dan di selingi dengan kaisar Wang Lee yang ikut makan dalam satu piring. 􀀁􀀁􀀁 "Ayah jenderal Yeol datang." kata Chuen Kepada suaminya. "Apa ! Pagi-pagi seperti ini jenderal sudah datang ke rumah kita ?" Kata tuan Choi kaget. Dengan tergesa-gesa pria paruh baya itu membuka pintu untuk jenderal Yeol. "Selamat pagi jenderal." sapa mereka sopan sambil sedikit membungkuk badannya. "Pagi juga, boleh saya masuk ?" Tanya jenderal Yeol datar. "Silahkan jenderal." balas tuan Choi sambil mempersilahkan jenderal Yeol untuk masuk kedalam rumahnya. "Ibu buatkan minum." perintah suaminya. "Baik ayah," balas Chuen sambil pamit undur diri. "Aku tidak ingin basa-basi kau pasti sudah sangat tahu maksud kedatangan ku bukan ?" Tanya jenderal Yeol sambil mendudukkan dirinya di kursi sederhana di dalam rumah keluarga Choi. "Saya sudah tahu jenderal. Tapi yang punya keputusan adalah putri Hani." kata tuan Choi sopan. "Aku menolaknya, ayah." kata Hani tiba-tiba. Nyonya Chuen yang baru saja datang langsung tersentak kaget saat mendengar suara sinis putri kesayangannya. Jenderal Yeol menatap nanar Hani tapi di acuh kah oleh wanitanya itu. "Kenapa, sayang. Aku mencintaimu dan aku ingin hidup bersama membangun rumah tangga dengan anak-anak kita kelak." kata jenderal Yeol sambil berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati wanitanya. "Apa menikah, Setelah kau meninggalkanku begitu saja tanpa kabar ?" Tanya Hani berusaha mati-matian menahan bongkahan butiran air matanya. "Aku bukannya pergi, sayang. Aku menjalankan tugas ku sebagai jenderal dari kerajaan Lauhan. Aku memiliki tugas serta kewajiban untuk melindungi negeri ku, sayang. Aku mohon jangan marah lagi ya kita mulai dari awal" kata jenderal Yeol lembut sambil merengkuh tubuh montok wanitanya kedalam dekapannya. "Kau pasti akan berbohong lagi nanti dan meninggalkan ku sendiri lagi tanpa kabar. Aku membenci mu, sangat membenci mu" kata Hani Sambil memukul dada bidang jenderal Yeol dengan tangan montoknya. "Aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan mu dan juga aku berjanji tidak akan pernah membohongi mu lagi." kata jenderal Yeol sungguh-sungguh. "Menikah dengan ku ya, sayang. Agar aku dapat memberikan mu kebahagiaan." kata jenderal Yeol sambil berlutut di depan Hani. Hani menatap dalam kedua mata indah milik jenderal Yeol mencari kebohongan di balik perkataan. Tapi hanya ketulusan serta kesungguhan yang berada di kedua bola mata indah jenderal Yeol. Dengan pekan dan sedikit rasa ragu di hatinya Hani menganggukan kepalanya memberikan Jawaban yang di nanti-nanti oleh jenderal Yeol. "TERIMA KASIH.... TERIMA KASIH...AKU MENCINTAI MU, SAYANG. SANGAT MENCINTAI MU" Teriak senang jenderal Yeol sambil mutar-mutar tubuh montok Hani yang berada di dalam dekapannya. "Aku janji akan membuat mu bahagia...aku janji." kata jenderal Yeol, menurutkan tubuh montok Hani. Hani menganggukan kepalanya pelan menjawab perkataan jenderal Yeol. Sedangkan nyonya Chuen dan tuan Choi tersenyum senang melihat betapa dalam jenderal Yeol mencintai putri mereka. "Aku yakin Hani pasti akan bahagia menikah dengan jenderal Yeol." bisik nyonya Chuen pada suaminya. "Ya kau benar, sayang. Pilihan mu memang tidak pernah salah." bisik balik tuan Choi sebelum dirinya dan istrinya meninggalkan ruang keluarga membiarkan dua pasangan muda itu untuk melepas rasa rindu di hati mereka masing-masing.

BOOKMARK