Tambah Bookmark

33

Epilog

Epilog. Author POV. Suara muntahan Yeolin menyentak kaisar Wang Lee dari tidur nyenyak. Dengan panik kaisar Wang Lee berlari cepat kearah kamar mandi dan melihat istrinya itu sedang memuntahkan cairan bening. "Kamu kenapa, sayang ?" Tanya kaisar Wang Lee khawatir. "Aku tidak apa-apa yang mulia, aku hanya pusing dan sedikit mual aja." jawab Yeolin pelan. Kaisar Wang Lee mengelap bekas muntah Yeolin di sudut bibirnya. "Sudah selesai muntahnya ?" Tanya kaisar Wang Lee lembut sambil mengelus lembut rambut hitam panjang Yeolin. "Sudah," kata Yeolin pelan. "Mau tidur lagi ?" Tanya kaisar Wang Lee lagi. Dan di jawab anggukan kepala lemah dari istrinya. Dengan pelan kaisar Wang Lee menggakat tubuh kecil Yeolin dan berjalan kembali menuju ranjang besar mereka. Dengan pelan dan hati-hati kaisar Wang Lee menurunkan Yeolin di ranjang mereka. Tangan kekar kaisar Wang Lee Menyikirkan anak rambut yang istrinya dengan lembut. "Tunggu sebentar ya aku ingin memanggil Tabib." kata kaisar Wang Lee lembut. "Kasim Han," panggil kaisar Wang Lee sedikit berteriak. Pria paruh baya itu masuk ke dalam kamar kaisar Wang Lee dengan tergesa-gesa. "Iya yang mulia," kata Kasim Han. "Panggil tabit Jeong sekarang," perintah kaisar Wang Lee. "Baik yang mulia." balas Kasim Han dengan cepat berlari keluar dari dalam kamar kaisar Wang Lee. Dengan lembut dan sabar kaisar Wang Lee kaisar Wang Lee mengantikan pakaian istrinya yang terkenal bekas muntahan. "Yang mulia, tabib Jeong ada di sini." kata Kasim Han. Kaisar Wang Lee membalikan tubuhnya, menatap tajam tabit istananya. "Periksa istri ku sekarang." perintah kaisar Wang Lee sambil sedikit menjauh tubuhnya dari sang istri. 'apa Yeolin-ku akan baik-baik saja ?' Tanya cemas kaisar Wang Jiahon di kepala kaisar Wang Lee. 'Dia juga Yeolin-ku, bodoh' balas kaisar Wang Lee kejam. 'sayangnya aku tidak peduli' kata kaisar Wang Jiahon cuek Membuat kaisar Wang Lee menggeram kesal. "Permaisuri tidak kenapa-kenapa, yang mulia." kata tabib Jeong sambil tersenyum lebar. "Tidak apa-apa kata mu, istri ku tiba-tiba saja muntah." geram kaisar Wang Lee. 'seharusnya kau memenggal kepala' geram kaisar Wang Jiahon di kepala kaisar Wang Lee. 'aku setujuh untuk itu, tapi aku lebih suka memotong lidahnya' balas kaisar Wang Lee. 'aku lebih setujuh dengan itu' kata kaisar Wang Jiahon sambil menyeringai kejam. "Yang mulia permaisuri memang tidak sakit, yang mulia. Muntah-muntah dan pusing itu wajar di bulan pertama kehamilan, yang mulia." lanjut tabit Jeong. 'apa dia bilang ?' Tanya kaisar Wang Jiahon. Kaisar Wang Lee memutar bola matanya malas bagaimana bisa dia memiliki jiwa lain dalam dirinya. 'Dia bilang Yeolin-ku hamil' jawab kaisar Wang Lee 'apa hamil ?' Tanya kaisar Wang Lee pada dirinya sendiri saat baru menyadari perkataan tabit Jeong. "Apa? hamil ?" Tanya kaisar Wang Lee tidak percaya pada Tabib Jeong. "Iya, yang mulia. Usia kandungan permaisuri masih sangat mudah dan rentang keguguran. Saya harap, yang mulia permaisuri tidak terlalu banyak pikiran dan juga banyak istrirahat, yang mulia." jawab tabit Jeong panjang lebar. "Saya permisi." kata tabib Jeong pamit untuk diri dan hanya di balas anggukan kepala pelan oleh kaisar Wang Lee. Kaisar Wang Lee menatap lekat tubuh Yeolin sebelah tangannya mengelus lembut perut datar istrinya. Di sana ada anaknya sedang tertidur pulas di dalam rahim istrinya. 'apa di sana benar-benar ada anak ku ?' Tanya kaisar Wang jiahon takjub. 'ya dia sedang tertidur nyenyak di dalam sana' jawab kaisar Wang Lee sebelum memundukan kepalanya dan mengecup lembut kening dan bibir Yeolin. "Tumbuh dengan sehat di sana ya, nak. Ayah akan menunggu mu untuk hadir kedua ini nanti." bisik kaisar Wang Lee lembut di atas permukaan perut datar Yeolin. "Terima kasih, sayang. untuk kedua kalinya kamu memberikan ku hadiah terbaik di dunia." bisik kaisar Wang Lee di telinga Yeolin sebelum melangkah keluar dari dalam kamar dan memberikan peringatan kepada prajurit kerajaan untuk menyebar berita bahagia ini keseluruh istana lauhan. 􀀁􀀁􀀁 "Yang mulia." panggil Hani frustasi untuk kesekian kalinya. "Jangan berjalan terlalu cepat, nanti anda terjatuh." kata Hani lagi sambil mendesah lelah. Yeolin terus saja berjalan cepat tanpa memperdulikan protesan serta Teriakan dari pelayan setianya. "Kyaaaa!!" teriak Yeolin kaget saat ada sepasang tangan kekar menggakat ringan tubuh berisinya dengan perutnya yang sudah buncit. "Aku dengar jika hani tadi menyuruh ku untuk berjalan dengan pelan bukan, sayang ?" Tanya kaisar Wang Lee. 'oh dewa, dia benar-benar terlihat mengemaskan membuat ku ingin menerkamnya saat ini juga' kata kaisar Wang jiahon sarat akan gairah. 'kepala mu benar-benar harus di cuci' balas kaisar kaisar Wang kesal. 'hei... bukannya kepala ku, juga kepala mu ya' balas kaisar Wang Jiahon sambil menyerigai membuat kaisar Wang Lee lagi-lagi mengeram kesal. Kaisar Wang Lee menundukkan kepalanya menatap datar sang istri. "Aku rasa kau sangat tahu, permaisuri jika saat ini aku akan memberikan mu hukuman bukan ?" Tanya kaisar Wang Lee sambil menyeringai licik. Yeolin menelan ludah dengan susah payah. Bukan...bukan karena hukuman kaisar Wang Lee adalah hukum yang kejam malah sebaliknya hukuman dari kaisar Wang Lee adalah hukuman yang paling nikmat. Yeolin mengaggukan kepalanya pelan dengan sangat amat tidak ikhlas. Bagaimana bisa ikhlas jika besok bisa di pastikan jika dia tidak akan dapat keluar kamar karena vaginanya yang nyeri. "Bagus, anak pintar." puji kaisar Wang Lee sebelum melangkah pergi kembali kearah kamar mereka, siap memberikan hukuman yang mampu membuat istrinya itu mendesah sepanjang malam. Yeolin hanya mampu menyenderkan kepalanya pasrah di dada bidang kaisar Wang Lee. Pasrah menerima hukumannya nanti di dalam kamar mereka. "Yang mulia..." panggil Hani saat melihat nyonya di bawa pergi. "Sudah biarkan saja, yang mulia kaisar dan permaisuri bermain-main di dalam kamar mereka. Bagaimana jika kita juga bermain-main di dalam kamar." kata jenderal Yeol sambil menggakat tubuh montok istrinya dan menutup mulut istrinya itu dengan bibirnya agar tidak dapat mengajukan protesan padanya. 􀀁􀀁􀀁 Kaisar Wang Lee berlari cepat kearah kamarnya saat salah satu pelayan memberitahu pada jika istrinya itu akan melahirkan. Suara Teriakan kesakitan menghentikan laju lari kaisar Wang Lee. Hatinya meringis sakit saat mendengar teriakan kesakitaan istrinya. BRAK Dengan kasar kaisar Wang Lee membuka pintu kamarnya dan melihat sang istri yang sedang berjuang melahirkan buah cinta mereka. "Yeolin." panggil kaisar Wang Lee panik. "Yang mulia." jawab Yeolin lemah. Dengan cepat kaisar Wang Lee memeluk erat tubuh kecil Yeolin. "Sekali lagi, yang mulia. Bayinya sudah kelihatan." kata tabib Yi. Tabit perempuan di istana Lauhan. Jika kalian bertanya sejak kapan tabit Yi ada. Maka jawabnya adalah sejak Yeolin hamil. Kaisar Wang Lee bahkan tidak mengizinkan laki-laki mana pun menyentuh istrinya itu lah sebabnya kaisar Wang Lee mencari tabib perempuan yang khusus hanya untuk memeriksa keadaan Yeolin serta calon anaknya. Oe...oe...oe... Suara tangisan bayi mengema keseluruhan isi kamar membuat siapa saja yang mendengarnya akan tersenyum bahagia. Yeolin tersenyum bahagia dalam tangisnya saat melihat wajah tampan bayi laki-lakinya. Rasa sakit dan lelah semuanya sirna tidak tersisa saat melihat mata hitam polos itu menatapnya. Sedangkan kaisar Wang Lee sendiri menatap putranya dengan kagum. Seakan-akan melihat cerminan dirinya sendiri saat menatap setiap inci wajah tampan putranya. Tabit Yi membersihkan tubuh bayi laki-laki tampan itu sebelum memberikan pada ibunya untuk susui. Kaisar Wang Lee tidak dapat melepaskan tatapan dari putranya saat ini sedang menyebot rakus puting susu ibunya. "Terima kasih, sayang. Terima kasih karena sudah memberikan ku malaikat indah ini." kata kaisar Wang Lee sambil tersenyum lembut. Yeolin membalas ucapan terima kasih suaminya dengan senyum bahagianya. Bahagia karena dapat memiliki keluarga kecil yang utuh. Bahagia itu sederhana, bahagia saat melihat orang yang kau cinta tersenyum bahagia pada mu. Saat Tuhan memberimu cobaan itu bukan karena dia membencimu tapi dia menyayangi mu. Saat kalian bersyukurlah dengan apa yang sudah dia berikan, maka dia akan memberikan mu lebih banyak lagi nantinya.

BOOKMARK